Dunia politik relevan dengan permainan catur sehingga istilah "percaturan politik" itu eksis. Dunia politik kadang putih menjadi hitam dan sebaliknya hitam menjadi putih. Hal ini seperti kotak-kotak di papan catur yang berjumlah 64, ada hitam dan ada putihnya.

Semua kita tahu bahwa catur adalah permainan dan juga olahraga otak yang membutuhkan kecerdasan. Pecatur yang hebat tahu persis tentang teknik dan strategi bermain catur agar dapat memenangkan permainan.

Dia harus menguasai teori pembukaan, teori pertahanan, dan mampu mengendalikan buah catur dengan langkah-langkah taktis yang tepat. Pecatur yang hebat akan selalu menghindari melakukan langkah "blunder" yang biasanya akan melemahkan posisi permainannya.

Tentu perjuangan politik demi posisi dalam struktur kekuasaan wajib menyebut-nyebut "maksud dan tujuan" serta "visi dan misi" yang mulia, tapi juga klise. Itu sebagai "asas kepatutan" dalam politik praktis.

Namun yang tidak kalah memungkinkan adalah mengamati langkah-langkah politik dengan referensi langkah-langkah permainan catur. Dalam buku-buku catur, akan terbaca berbagai topik kajian atau usul taktik permainan yang terdengar sama belaka dengan strategi perang ataupun politik.

Taktik yang sering disebut adalah taktik penjepitan (pinning), yang dijelaskan sebagai suatu serangan terhadap satu buah catur yang menutupi buah catur kedua dari serangan. Pihak yang diserang dengan cara ini disebutkan telah terjepit.

Ini merupakan serangan dari dua arah, Ratu Putih (Q4) dan Menteri Putih (KN5) kepada Kuda Hitam (KB2), yang jika pergi akan membuat Raja Hitam (KN2) dan Ratu Hitam (Q1) terancam. Jika tidak pergi, ia akan terbunuh dan Raja Hitam serta Ratu Hitam tetap terancam. 

Seorang pelaku politik, dengan sedikit imajinasi, akan mudah melemahkan bahkan menggantikan Raja Hitam dan Ratu Hitam sebagai buah catur dengan "tokoh-tokoh sasaran" dalam real politik.

Taktik lainnya adalah Serangan Ganda (double attack). Jenis serangan ini, yakni serangan serempak oleh satu buah catur atas dua buah catur yang bermusuhan, disebut sebagai esensi permainan catur, yakni serangan yang ekonomis dan menguntungkan. 

Ini akan menarik bagi pemain catur (baca: pelaku politik) yang tahu bagaimana mendapatkan efek maksimum dari buah caturnya. Dalam catur (ataupun politik), dengan taktik yang jitu, bahkan Pion pun dapat melakukan langkah-langkah menentukan!

Sebenarnyalah langkah-langkah catur itu terbandingkan dengan permainan kekuasaan dalam politik, sehingga mungkin diacu sebagai sumber gagasan oleh yang membutuhkannya. Ketika melakukan alih wahana dari papan catur ke real politik, siapa pun dia akan menjadi pelaku politik.

Salah satu teori permainan catur khususnya pemain catur andal adalah Pertahanan Alekhine. Pertahanan Alekhine diperkenalkan pertama kali oleh Aleksander Alekhine waktu bermain dengan A. Steiner pada tahun 1921 lalu di kejuaraan catur Budapest

Pertahanan Alekhine ini sering dijuluki pertahanan yang unik. Keunikannya ditandai dengan pemain hitam mengembangkan perwiranya lebih awal. 

Terjadinya posisi pertahanan ini tergantung jawaban langkah pertama pemain hitam setelah pemain putih melangkah bidak (pion) E2 ke E4. Bila pemain hitam membalas langkah ini dengan menjalankan kuda hitam ke petak F6 (Kf6), maka itu ciri khas Pertahanan Alekhine.

Ide utamanya memperlihatkan konsep pembaharuan "hypermodern", yaitu mengubah kebiasaan bermain dari penguasaan petak pusat oleh bidak atau pion dengan cara mengontrol petak pusat dengan perwira kuda bukan dengan bidak atau pion.

Keunggulan menggunakan pertahanan Alekhine adalah memancing lawan untuk terus maju dan akibatnya ia akan memainkan kudanya dengan manuver yang tak terduga hingga bila lawan lengah pertahanannya jadi lemah dan akhirnya kalah.

Pertahanan Alekhine bila dikendalikan pecatur hebat akan menarik ditonton karena pertahanan ini sangat dinamis dan mengandung unsur seni permainan menarik. Ciri khas menarik dari pertahanan Alekhine adalah langkah-langkah kuda hitam yang dinamis dan menarik sehingga kerap pemain putih harus berpikir lama dan menguras energinya sehingga kalah dalam permainan.

Nah, Apa kaitan antara pertahanan Alekhine dengan situasi perpolitikan pasca pelantikan presiden?

Fenomena politik pasca-pelantikan presiden memperlihatkan suatu dinamika yang menarik. Kini, suasana makin dingin antara pihak kubu Jokowi dengan Prabowo. Antara keduanya saling membuka diri dan berkomunikasi.

Suasana makin seru dan hangat. Masyarakat disajikan tontonan menarik ketika Prabowo diangkat secara resmi menjadi menteri pertahanan di kabinet pemerintahan Jokowi. Mungkin inilah sebabnya sehingga dunia politik kerap di kenal dengan istilah "percaturan politik". Tokoh dan elite dalam berpolitik ibarat sedang bermain catur di arena kotak hitam putih 64 petak.

Presiden memberikan posisi Prabowo Subianto sebagai menteri pertahanan. Sontak para elite politik dan pendukungnya kecewa. Bukankah naif untuk mengatakan hal itu kebetulan?

Ini menggambarkan fenomena politik merupakan taktik. Sudah sering strategi politik dikaji, dipadankan, dan dibandingkan dengan strategi perang dan tarung, dari Sun Tzu sampai Musashi, bahkan juga dengan strategi dan taktik dalam permainan sepak bola.

Saya melihat adanya langkah-langkah kuda hitam yang dimainkan elite politik tertentu di mana melalui manuver politik memancing keluarnya bidak-bidak putih terus maju dan dikorbankan. Kuda hitam ini melangkah dengan pasti dan satu per satu bidak putih maju terlalu jauh ke depan hingga dengan mudah di lahap. Contohnya adanya elite politik yang kena "blunder" yang sikapnya kontroversi dan paradoks.

Kemenangan dalam permainan catur dinyatakan kalah dengan merobohkan rajanya atau terbukti kalah dengan "mat". Dalam lakon "Prabowo masuk kabinet Jokowi", terlepas dari opini publik yang cenderung memberatkan Jokowi khususnya datang dari para elite politik dan pendukung Jokowi, namun pihak Jokowi ternyata mampu mengambil langkah-langkah taktis dalam percaturan politik. 

Tampaknya Kubu Jokowi dalam kenyataannya kini berada dalam posisi tidak menyenangkan. Ketika tekanan rakyat berlangsung secara bertubi-tubi, bukan saja kekuasaan Presiden tiada berdaya menengahi, tapi juga para bawahan, seperti kehabisan jurus.

PS pun sudah tahu bahwa di periode kedua Jokowi, kondisi bangsa tidak akan banyak mengalami tekanan. Dan tekanan ke Jokowi akan sangat keras ketika kondisi bangsa ini tidak mengalami perubahan yang signifikan, khususnya di bidang ekonomi, politik, keamanan, dan pertahanan.

Maka PS bersedia bergabung dalam kabinet pemerintahan Jokowi sebagai benteng untuk membantu pemerintah dalam memperbaiki kondisi bangsa, dan bukan benteng melindungi Jokowi dari tekanan politik. Dan ini langkah yang sangat tepat.

PS masuk ke jajaran pemerintahan bukan untuk memukul lawan, tapi membangun pertahanan untuk kepentingan rakyat. Pertahanan yang dibangun PS untuk memperjuangan kepentingan rakyat yang lebih besar bukan semata-mata untuk kepentingan pribadi, partai, dan golongan.

Saya pun yakin, Prabowo paham bahwa bidak kuda dalam permainan catur dikenal dengan langkah huruf 'L'. Kuda catur tak bisa memakan lawannya dengan cara jalan lurus, dia harus berbelok lebih dulu dan melangkah ke depan membentuk huruf 'L' untuk mencapai targetnya.

Langkah kuda catur itu dilihat dari kenyataan bahwa masuknya Prabowo dalam pemerintahan Jokowi merupakan simbol separuh perjuangan untuk memperjuangan beragam narasi kebangsaan yang pernah disampaikannya ke publik saat kampanye pilpres 2019.

Hal ini juga merupakan langkah strategis pertahanan kubu Jokowi untuk merangkul kekuatan kubu Prabowo-Sandi, sekaligus meredam berbagai potensi konflik yang bisa terjadi pasca pelantikan presiden. Strategi-strategi yang dilakukan Jokowi juga bisa dianggap sebagai upaya untuk menunjukkan ke publik bahwa Kubu Prabowo harus dirangkul untuk menguatkan legitimasi pemerintahannya.

Meski publik mengetahui, bahwa masuknya Prabowo di jajaran pemerintahan Jokowi dapat dibaca sebagai langkah Jokowi untuk mengamankan diri. Juga strategi untuk menguatkan pemerintahan Jokowi bersama wakilnya Ma'ruf lima tahun mendatang.