Manusia adalah makhluk sosial yang unik dan tidak mudah dipahami. Banyak misteri yang akhirnya digali oleh para peneliti mulai dari struktur otak hingga organ tubuh lainnya. Begitupun apa yang ada dialam semesta ini semua dibentuk dengan segala perbedaan.

Mulai dari sisi watak yang berlainan, Bahasa kasih yang tidak sama dan struktur otak yang berbeda. Dari perbedaan ini timbul cara menyikapi yang berbeda pula tentunya. Namun dapat dipelajari dari berbagai aspek.

Wanita memiliki otak bicara kanan dan kiri sedangkan pria otak bicaranya hanya kiri. Sering orang bilang “laki-laki bicara dengan logika dan wanita bicara dengan perasaan”. Sebenarnya tidak demikian. Wanita berbicara dengan akalnya berikut gambaran dari ceritanya tersebut.

Pria berbicara dengan fakta dan logis sedangkan wanita bicara dengan fakta berikut asumsi. Asumsi ini datang karena otak kanannya menggambarkan sesuatu, bisa positif bisa juga negatif. Asumsi datang karena intervensi watak.

Saat asumsi melebar dari pikiran wanita sering terjadi persoalan baru baginya. Ketika itu wanita butuh seseorang untuk mengeluarkan segala asumsi tersebut dengan kata lain “butuh pendengar”. Dirumah hanya ada anak dan suami yang kebetulan anak juga laki-laki, terjadilah kesalahpahaman ketika meluncur cerita dari asumsi tadi.

Kenapa bisa salah paham?, ya tentu saja. Karena pria berbicara dengan otak kiri yang cenderung menganalisa dan berisi saran, sedangkan wanita hanya ingin membuang isi pikiran yang berasumsi tadi sehingga terjadilah acara “ngambek” kepada suami. “Aku Cuma mau ceritaaaa, bukan supaya dinasehati, mas.” Naaah!.

Wanita memiliki pola bicara 20 ribu kata sedangkan pria 7000 kata, bayangkan apa yang terjadi setiap hari bila wanita memiliki pasangan hidup yang profesinya pembicara. Ketika pulang sudah habis kata-katanya, sedangkan wanita masih tersisa banyak. Alhasil wanita mencari teman bicara keluar bisa dengan teman dan sahabatnya.

Bila 20 ribu kata tidak keluar, otomatis keluar melalui omelan kepada anak. Setelah habis semuanya barulah mereka diam. Hehhe itu sebabnya mengapa mereka terlihat lebih banyak bicara dan terkesan tidak lelah bicara. Apa yang harus dilakukan pria?, cukup mendengarkan dengan seksama tanpa komentar apapun.

Bagi wanita kolerik yang cenderung tidak banyak bicara, 20 ribu katanya akan teraplikasikan kedalam tindakan. Terkadang bila tercetus dengan hal yang tidak sesuai dengan karakternya barulah 20 ribu katanya keluar melalui omelan yang panjang dan ketus. Beda dengan wanita sanguin, pola bahasanya akan keluar dengan candaan yang tidak ada habisnya.

Para pria mungkin akan geleng-geleng melihat tingkah pola isteri mereka. Dari yang marah tiba-tiba ketawa, tiba-tiba lagi diam dan ngambek. Semua itu didorong oleh faktor hormonal dari wanita.

Daaan lagi lagi diintervensi oleh watak. Wanita yang bisa sesaat berubah itu adalah wanita yang “perempuan banget” alias orang-orang introvert. Watak yang mana?, melankolis dan plegmatis. Dua watak ini sangat bisa berubah dalam sesaat.

Bagaimana dengan wanita yang ektrovert?. Wanita dengan dua watak ekstrovert ini adalah kolerik dan sanguin, cenderung spontan dan masa bodo tapi bertolak belakang secara sifat dan kebiasaan. Yang kolerik pendiam dan jarang senyum sedangkan yang sanguin bawaannya senyum dan buat orang tersenyum terus.

sering menemukan isteri yang suka “ngelawak” dirumah?, ya itu isteri sanguin. Cara bicaranya ramai dan semangat, penuh dengan keceriaan karena berisi 20 ribu kata. Para suami yang memiliki isteri ceria tentu menyenangkan dan terhibur, tidak membosankan karena selalu ada saja bahan untuk membuat suami tersenyum.

Kalau isteri kolerik bagaimana?, ya begitulah hehee. Mereka ngomong seperlunya kalau ada yang penting dengan wajah tanpa senyum. Jangan terkejut dan takut ya para suami, itu sudah menjadi pilihan kalian semua untuk menjadikannya permaisuri dirumah kalian.

Namun bukan berarti wanita kolerik tidak punya kelebihan. Mereka memiliki kekuatan memimpin yang kuat, mampu mendidik anak seperti yang diinginkan. Menata dan mengatur rumah baik sekali dan kekurangannya hanya jarang bicara tapi sekali bicara penuh dengan kemarahannya dengan Bahasa yang spontan.

Intinya wanita berwatak apapun senang bila didengarkan pembicaraannya dan sekali lagi, hanya ingin didengarkan. Mereka tidak butuh solusi, karena otak kirinya mampu menyelesaikannya. Hanya cara menyelesaikannya tergantung wataknya lagi ada yang cepat dan ada yang berlarut-larut.

Saat wanita bicara juga senang ditatap matanya, sedangkan pria bila bicara tidak tahan berlama-lama menatap wajah, pria lebih senang menggerakan benda disekitarnya. Terjadi lagi kesalahpahaman ketika berdua sedang berbicara. Wanita merasa diacuhkan ketika dia berbicara, sang suami memegang handphone seolah tidak memperdulikannya.

Apa yang terjadi?, istri marah dan melemparkan kata-kata yang menusuk hatinya. “Makan tu hp!”. Waduuuh sakit hatinya masa disuruh makan handphone. Lalu sang suami balik memarahinya, “apa enggak ada Bahasa yang lebih mengerikan?”.

Perbedaan yang hanya berasal dari struktur otak bisa menimbulkan banyak hal. Itulah pentingnya belajar dan belajar terus mengenai watak manusia, Bahasa kasih dan struktur otak pria dan wanita. Untuk meminimalisir kekacauan dalam rumah tangga dan kehidupan sosial.