Pengantar

Sudah menjadi tanggung jawab seorang pemimpin untuk memperhatikan kesejahteraan masyarakatnya. Kendati demikian, ketidakpuasan dan kebutuhan masyarakat yang terus bertambah senantiasa menjadi bayang-bayang bagi tugas dari pemimpin itu sendiri.

Seiring dengan berkembangnya kesadaran masyarakat, persoalan mengenai standar keberhasilan dari seorang pemimpin atau pemerintah sering kali bagai pedang bermata dua. Seorang pemerintah dianggap berhasil apabila memiliki kapital yang besar, sekaligus mampu hidup sederhana dan mengambil upah sipil sekecil-kecilnya.

Besarnya ekspektasi masyarakat terhadap figur pemerintah yang utopis sering kali membuat para pejabat mengalami stress yang berlebihan.

Tekanan tersebut kemudian menginspirasi para pejabat untuk mengambil manuver-manuver yang setidaknya dapat menghiburnya; kolusi, korupsi, serta nepotisme agar lingkungan kerja yang ada bisa lebih memahami dirinya.

Kalau bahasa populernya, sih, butuh healing dan support system.

Meski memberikan banyak tuntutan, tingkat kapabilitas dan kemandirian masyarakat dalam mengatur diri mereka untuk mencapai kesejahteraan masih terlihat minim. Tentu kita dapat kembali melihat kurangnya performa pemerintah dalam aspek ini, namun dalam praktiknya daya juang masyarakat sendiri masih sangat kurang.

Daya juang yang dimaksud di sini bukan hanya sebatas motivasi atau hal-hal yang sifatnya sangat subjektif pada setiap individu dalam masyarakat, akan tetapi condong pada aspek-aspek seperti solidaritas masyarakat, akses yang terbuka bagi publik, serta partisipasi masyarakat dalam pengaturan hidup bersama.

 

Etika Koperasi Hatta

Salah satu Founding Fathers dari bangsa kita, Indonesia, Mohammad Hatta memiliki pemikirannya terkait persoalan ini.

Sebagai pemerintah, beliau menekankan bahwa keberadaan otoritas tertentu yang memegang mandat masyarakat untuk mengatur hidup bersama penting adanya.

Meski begitu, peran dari masyarakat sendiri sangat krusial untuk meraih kesejahteraan dalam hidup bersama.

Hal tersebut dipahami Hatta juga melalui pengalaman hidupnya.

Sebelum menjadi seorang diplomat besar, pertama-tama Mohammad Hatta mendapatkan pengalaman keorganisasiannya di Jong Sumatranen Bond. Jong Sumatranen Bond sendiri merupakan salah satu organisasi pemersatu bangsa yang melahirkan Sumpah Pemuda, cikal bakal bersatunya Indonesia.

Melalui hidup berorganisasi, Hatta mempelajari bahwa usia atau kemampuan bertahan hidup suatu organisasi terletak pada kemandirian dan kesadaran hidup bersama para anggotanya.

Apabila para anggota organisasi dengan sadar dan rela mau membayar iuran organisasi dan tidak membebani anggaran bersama, maka keuangan organisasi dapat terus bertumbuh. Sebaliknya apabila melalui pengelolaan anggaran organisasi dapat menolong dan mengadakan keperluan yang dibutuhkan oleh anggota, maka kesejahteraan anggota dapat terjamin.

Berbekal pengalamannya, Hatta kemudian merumuskan sebuah sistem yang sekiranya dapat menopang hidup bersama, yakni sistem ekonomi koperasi.

Ekonomi sendiri dibahas secara serius oleh Hatta sebab dalam pemikirannya dimensi paling utama yang dapat mempengaruhi kualitas hidup masyarakat merupakan faktor ekonomi.

Dalam ekonomi koperasi, masyarakat bekerja sama untuk membentuk suatu “pasar” yang terdiri dari para produsen dan konsumen lokal untuk memberdayakan kehidupan masyarakat sekitar.

Apabila terdapat surplus barang produksi dalam pasar tersebut, maka tidak menutup kemungkinan pula bahwa pasar dapat diperluas dengan melakukan kegiatan ekspor.

Dalam rangka memenuhi kebutuhan yang mungkin tidak dapat dipenuhi oleh produsen lokal, pihak koperasi juga dapat menghadirkan stok barang tersebut dengan mengimpor.

Himpunan produsen dan konsumen lokal beserta pasar tersebut kemudian dikelola dan dibina oleh beberapa orang yang memiliki kecakapan tertentu sebagai pengurus koperasi.

Tugas dari pengurus koperasi kemudian meliputi hal-hal yang telah disinggung di atas; pembentukan pasar atau konsumen, pemantauan kualitas produksi, pengelolaan ketersediaan barang, serta kerja sama dengan koperasi atau pasar lain.

Dengan demikian, asas dari sistem ekonomi koperasi ialah dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Meski tugas dari pengurus koperasi sangatlah krusial untuk menjamin berjalannya roda perekonomian, namun peran dari para produsen dan konsumen merupakan kunci untuk keberlanjutan dari pasar sistem ekonomi koperasi.

Kesadaran akan tujuan hidup bersama yang saling membutuhkan dan saling membangun merupakan kunci untuk menjalankan sistem ekonomi koperasi.

Dalam hal ini, Hatta memproposisikan ekonomi koperasi sebagai suatu sistem ekonomi yang berdikari dan berkelanjutan.

Artinya, sistem ekonomi koperasi merupakan suatu sistem ekonomi yang dapat memberdayakan keseluruhan rakyat dengan pertumbuhan yang stabil dan dapat diharapkan.

Sistem ekonomi koperasi dapat menjamin keuntungan bagi setiap kelompok masyarakat. Secara keseluruhan, mulusnya jalan roda perekonomian dilihat melalui pertumbuhan ekonomi rakyat. Meski demikian ekonomi koperasi mampu menjamin keberlangsungan sistem yang juga menjadi kebutuhan rakyat, sehingga jalan roda perekonomian yang ada kian lestari.

Oleh sebab itu, dalam sistem ekonomi koperasi keuntungan yang terutama tetap dikembalikan kepada rakyat.

Akan tetapi, pemerintah sendiri dapat tetap berjalan dan memiliki anggaran operasional melalui laba lebih yang dihasilkan oleh rakyat.

Pengambilan anggaran operasional sendiri menjamin keberlangsungan sistem yang ada.

Jika ditinjau dalam perspektif etis, sistem ekonomi koperasi merupakan sebuah solusi yang dapat dipilih untuk menjalankan perekonomian dengan birokrasi yang transparan dan rasional.

Dalam etika, terdapat pula pertimbangan akan keutamaan, yakni suatu nilai tertinggi yang dikejar sebagai tujuan dalam hidup bersama. Pada konteks ini, goals atau tujuan dari hidup bersama ialah untuk mengusahakan kebaikan hidup dan tidak melanggar hak orang lain.

Sistem ekonomi koperasi yang berakar pada kolektivitas tindakan masyarakat merupakan sebuah sistem yang menjamin pencapaian tujuan hidup bersama yang dicita-citakan.

Persoalan untung-rugi kemudian berhasil dikemas oleh Hatta pada persoalan hidup yang lebih mendasar; apa tujuan hidup bersama dan bagaimana meraih tujuan tersebut dengan cara-cara yang manusiawi.