Barangkali kelas menggambar di kemah menulis 2019 di Pekalongan kemarin adalah kelas yang masih saya ingat lekat. Iya, sedikit menyebalkan, bukan? Aku datang jauh-jauh untuk belajar menulis, tapi yang aku dapat adalah pelajaran menggambar. 

Anehnya, itu yang justru melekat erat hingga aku kepikiran berhari-hari; saat bangun tidur, mengemudi, bahkan di dalam kamar mandi.

Aku ingat betul, pemateri meminta semua peserta untuk menggambar wajah teman sebelah kami. Semua tentu bisa menggambar sebuah wajah dalam satu menit. Namun, karya yang dihasilkan dalam waktu semenit bukan mahakarya yang presisi dan asrtistik.

Dalam waktu satu menit tersebut, karya yang dihasilkan adalah gambar alakadarnya yang kalau dijual tidak memiliki nilai ekonomis. 

Kami semua menggambar wajah. Hebatnya, semua gambar seragam. Menggambar wajah dari tampak depan, lengkap dengan mata, hidung, mulut, kacamata, dan ekstensi lainnya seperti hijab dan anting.

Tiba kemudian di sesi penjurian. Pemateri menggeleng-geleng. Gelengan sedari dulu bukanlah sebuah bahasa tubuh yang positif atau pertanda baik, dan begitulah kenyataannya. Gambar kami tak ada yang dianggap lolos. Istilah lebih halusnya –sebagaimana dicontohkan di pendidikan kita-, kami perlu remidi.

Hah, kok bisa? Aku tak terima, dong. Pasalnya, dalam waktu semenit itu, aku sudah mengerahkan tenagaku untuk menggambar, sebuah kegiatan yang bahkan jarang aku lakukan.

“Kebanyakan dari kita melihat suatu hal itu dari sudut pandang yang seragam. Tidak banyak yang memiliki perspektif yang berbeda. Dan hal yang paling fundamental dalam menulis adalah tentang perspektif.” Begitu kurang lebihnyayang bisa kutangkap ketika pemateri menerjemahkan maksudnya.

Di akhir penjelasannya itu, ia menghubungkannya dengan dunia tulis-menulis. Poin yang begitu miris terdengar olehku adalah mengetahui bahwa lebih banyak orang yang melihat suatu hal dari sudut pandang yang sama. 

Tak banyak orang mau menerima atau mampu melihat sebuah permasalahan dari sudut pandang yang berbeda.

Sudut yang tak lumrah

Bukan tanpa sebab aku selalu mengingat pelajaran menggambar di kemah menulis itu. Bukan karena gambarku yang tak lolos penilaian, tapi lebih pada perenungan. Aku belum cukup kaya perspektif untuk melihat banyak hal.

Berkat sesi menggambar itu, aku menyadari bawa selama ini aku hanya terjebak dalam sebuah tempurung yang sempit dan gelap. Aku hanya berjalan berputar-putar dalam tempurung itu, dan begitu dibuat berpikir-pikir ulang karenanya.

Dari pelajaran menggambar itu, aku mulai mengingat-ingat, membuka ulang memori ingatanku, mencoba mencari peristiwa yang membantah teori itu. Namun percuma, lagi-lagi aku lebih banyak mendapati peristiwa-peristiwa yang mengafirmasi teori itu, ketimbang yang membantahnya.

Suatu kali, pernah aku jumpai seorang dosen perempuan dari kampusku memberi komentar di Facebook tentang ibadah Qurban. Umat muslim tentu tahu betul bahwa ibadah Qurban itu menggunakan hewan sebagai objek yang diqurbankan.

Namun, dosen perempuan itu berpendapat, bagaimana kalau mengalihkan qurban hewan itu dengan memberikan beasiswa saja, diikuti dengan beberapa alasan.

Alih-alih mendapat pujian, komentar itu tentu saja langsung dibanjiri dengan tuduhan yang bukan-bukan. Liberal-lah, sesat-lah, apa-lah. Hanya beberapa saja yang mengapresiasi.

Perkara itu benar atau tidaknya itu nanti, namun kita perlu mengaggap itu sebagai sebuah produk dari pemikiran dengan perspektif yang tidak umum. Itu kekayaan khzanah pemikiran, bukan langsung didebat dan dilabeli sebagai sesuatu yang tidak baik.

Aku pikir ada masalah serius dalam masyarakat kita. Ada keinginan untuk menyamakan sudut pandang pada suatu masalah. Sehingga hal tersebut berakhir pada keeksklusifan dalam berpikir.

Selama ini, orang-orang yang berpikir dengan cara berbeda dianggap tidak umum -tidak lumrah- menyalahi aturan. Padahal, dalam hal-hal tertentu, perspektif berbeda akan mampu menghadirkan pemecahan masalah yang lebih baik. Saya merasa kita terlalu terbelenggu dengan kata lumrah.

Maka, pantas saja bila pekerja seni di negara ini mendapatkan lebih sedikit apresiasi. Terlebih bila karyanya dianggap tidak lumrah, ganjil.

Nabi Muhammad dahulu tidak dianggap lumrah, karena memberi pembaruan yang tidak sesuai atau bertentangan dengan adat kejahiliyahan orang Arab pada zaman itu. Tentu nabi dituduh yang tidak-tidak. Hanya karena beliau memiliki pandangan yang sama dengan mayoritas.

Aku pikir, kita perlu berlatih memperkaya perpektif. Sehingga bila ada yang yang memandang dari sudut yang tak lumrah, kita tak langsung menyalahkannya. Apalagi menganggap itu sesat. 

Tanpa kita sadari, di tengah-tengah kondisi perpolitikan yang sedang carut-marut, kita membutuhkan orang-orang dengan pikiran terbuka yang mencari suatu penyelesaian akan suatu hal dengan perspektif baru.

Semua tetek bengek tentang perspektif ini menyeretku pada ingatan tentang pangeran kecil –dalam novel “le Petit Prince” karya Antoine de Saint Exupery-. Kalau ia berada di dunia sekarang, mungkin ia akan gusar. Karena jelas, tak banyak orang yang mampu menerima, apalagi mengiyakan cara pandangnya.