"Di bawah bulan malam ini  tiada setitik pun awan di langit. Dan bulan telah terbit bersamaan dengan tenggelamnya matahari. Dengan cepat ia naik dari kaki langit, menguningi segala dan semua yang tersentuh cahayanya. Juga hutan, juga laut, juga hewan dan manusia. Langit jernih, bersih dan terang. Di atas bumi Jawa lain lagi keadaannya: gelisah, resah, seakan-akan manusia tak membutuhkan ketenteraman lagi."

Kalimat di atas merupakan prolog dari novel fenomenal karya seorang masterpeace sastra Indonesia, Pramoedya Ananta Toer yang berjudul "Arus Balik". Novel "Arus Balik" bisa dibilang salah satu karya terbaik Pram selain tetralogi burunya; Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca.

Bila tetralogi buru bercerita tentang kondisi masyarakat Indonesia pada masa kolonial, Arus Balik bercerita tentang peradaban bumi Nusantara pasca runtuhnya Majapahit. Pram mendeskripisikan konstelasi kehidupan Nusantara sekitar abad ke- 15 dan 16.

Seperti diketahui dalam sejarah, Majapahit merupakan singasana kerajaan yang begitu perkasa pada zamannya. Cakupan kekuasaannya menyebar bukan hanya di kepulauan Nusantara, tapi sampai ke Malaka dan bumi utara.

Namun semua berbalik pasca keruntuhannya. Ekspansi kekuasaan dari Bumi Selatan ke Utara berbalik arah. Sekitar pemulaan abad ke- 15, bangsa-bangsa Eropa (dalam Arus Balik adalah Portugis), mulai berdatangan ke Nusantara. Kedatangan mereka bukan sekedar mencari lada dan rempah, tapi penghidupan dan kekuasaan.

Selain mulai masuknya Portugis, Pram juga menggambarkan tentang awal menyebarnya Islam pada kala itu. Kesuksesan penyebaran Islam digambarkan dengan berdirinya kerajaan Demak. Jadi, Arus Balik mencoba menjabarkan tiga konfrontasi peradaban yaitu Nusantara yang masih Hindu, Islam, dan Portugis.

Kekuatan kerajaan Hindu di fokuskan di daerah Tuban, walau sebagian besar pejabat dan masyarakatnya sudah memeluk Islam. Kerajaan Demak sendiri merupakan basis kekuatan Islam secara politis.

Tokoh yang kentara dalam novel ini adalah bernama Galeng. Galeng merupakan pemuda desa yang juga pengikut ajaran Rama Cluring yang merupakan tetua Hindu kala itu. Seorang Galeng digambarkan berperawakan perkasa.

Ia adalah jawara gulat andalan desanya yang bernama Awis Krambil. Setiap tahun di Tuban Kota diadakan kejuaraan gulat dan Galeng selalu menyabet gelar juara. Galeng sendiri menikah dengan seorang gadis bernama Ida Ayu yang merupakan teman sekampungnya.

Ida Ayu adalah seorang penari handal kesukaan raja Tuban, Adipati Wilwatika (raja Tuban ini disebutkan keturunan dari Majapahit). Selain kejuaraan gulat, di kadipaten kerajaan juga digelar kejuaraan tari. Ida Ayu selalu menjadi pemenang setiap tahun.

Setelah pernikahan Galeng dan Ida Ayu, Tuban kedatangan tokoh bekas Syahbandar Malaka bernama Habibullah Sayid Al-Masawa. Berkat kecapakannya, ia diangkat Adipati Wilwatika menjadi syahbandar Tuban menggantikan syahbandar sebelumnya yang juga seorang Islam bernama Rangga Ishak.

Walau seorang muslim dan mengaku keturunan Nabi, sosok Sayid Al-Masawa digambarkan bersifat antagonis dan rakus kekuasaan. Ia beberapa kali melakukan perjanjian dengan Portugis untuk menjatuhkan Tuban.

Rangga Ishak yang secara sepihak diberhentikan sebagai Syahbandar Tuban, diberi lahan di pedalaman hutan. Di sana, dirinya menyebarkan ajaran Islam melalui majelis yang dibuatnya. Penyebaran Islam ini ternyata hanya untuk nafsu pribadinya, yaitu menjatuhkan kerajaan Tuban.

Dirinya yang merasa terkhianati oleh Adipati Wilwatika, ingin melakukan pemberontakan. Sebagian besar masyarakat yang mengikuti ajarannya, dilatih untuk jadi prajurit. Rangga Ishak sendiri merubah namanya menjadi Ki Benggala atau Sultan Rajeg.

Di Demak, pasca wafatnya Raden Fattah dan Adipati Unus, Demak tidak lagi begitu berhasrat melawan Portugis. Ketika dipimpin oleh Raden Fattah dan Adipati Unus, Demak merupakan kerajaan yang begitu progresif melawan bangsa Utara tersebut.

Hal ini digambarkan dengan penyerangan pasukan Demak ke Malaka yang saat itu sudah dikuasai Portugis. Bermaksud mengambil alih Malaka dari tangan Portugis, tapi malah Demak yang dipukul mundur.

Kekalahan Demak di Malaka  tidak lain akibat pengkhianatan Tuban. Sebelumnya, Tuban sepakat mengirim balatentara untuk melawan Portugis di Malaka. Namun, Adipati Wilwantika dengan sengaja melambatkan pasukannya beberapa hari. Hal ini berdampak kurangnya pasukan Demak ketika berhadapan dengan Portugis. Adipati Unus yang menjadi kepala persekutuan terluka parah pasca penyerbuan ini.

Sikap Demak terhadap Portugis begitu kontras perbedaannya ketika dipimpin Trenggono. Sultan Trenggono sendiri terpilih menjadi Raja Demak ketika Abangnya Adipati Unus wafat. Hasrat untuk melawan Portugis berbalik arah menjadi hasrat menguasai tanah Jawa. Trenggono pun menggunakan taktik licik. Ia kirim diplomat ke beberapa kerajaan Jawa seperti Tuban dan Jepara untuk membentuk persatuan pasukan. Persatuan ini dimaksudkan untuk kembali menyerang Portugis di Malaka.

Ketika beberapa pasukan kerajaan Jawa diberangkatkan dalam persatuan ini, Demak menyerang. Trenggono mengetahui, dibeberangkatkannya sebagian pasukan kerajaan Tuban dan Jepara membuat pertahanan mereka menjadi berkurang. Disaat itulah pasukan Demak menyerang dan berperang dalam pengkhianatan.

Pram mencoba membuat pemahaman baru tentang kerajaan Islam dalam kekuasaan. Hal-hal ini sangat jarang dibahas dalam refrensi sejarah saat ini. Tokoh-tokoh awal masuknya Islam ke Nusantara digambarkan sebagai orang yang saleh dan bijak. Tetapi, Pram mencoba mengeliminir hal itu. Sebagian tokoh yang membawa nama Islam digambarkan begitu haus kekuasaan dan licik sebagaimana seorang Sayid Al-Masawa, Rangga Ishak dan Trenggono.

Namun, Arus Balik juga menggambarkan bagaimana Islam menjadi nilai positif dari budaya Hindu kala itu. Tokoh yang membawa peranan ini bernama Pada alias Muhammad Firman. Dia seorang pemuda Hindu dan memeluk Islam saat menjadi kepercayaan Demak di zaman Adipati Unus.

Banyak efek kejut sejarah yang dibangun Pram dalam karyanya ini. Seperti Raden Said yang dikenal sebagai Sunan Kalijaga. Dalam satu penjelasan disebutkan bahwa Sunan Kalijaga memiliki garis keturunan Tionghoa. Suatu penjelasan sejarah yang begitu anti mainstream.

Sebagai bangsa penjajah, Portugis juga dinilai penolong kemanusiaan. Ini digambarkan ketika ada orang Portugis membuat pondok untuk menampung para janda. Dalam kepercayaan Hindu saat itu, seorang perempuan yang ditinggal mati suaminya harus masuk ke tungku api sampai mati menjadi abu. Kepercayaan ini ditentang pihak Portugis.

Nusantara kala itu berada pada tiga persinggungan peradaban. Secara intern, Nusantara berada di dua kontraksi, Islam di sisi lain dan Hindu sebagai leluhur. Pengaruh juga timbul di pihak eksternal, yaitu datangnya Portugis. Disini akan digambarkan awal mula menyebarnya Islam dan titik awal proyek kolonial selama berabad-abad.

Arus Balik adalah karya yang patut diapresiasi. Selain alurnya yang begitu menarik dan berwawasan, keberanian Pram dalam menuliskan fakta sejarah yang keluar dari cover zone membuat novel ini menggelitik para pembaca.

Namun sosok seorang Pram yang diistilahkan sastrawan "kiri", belum lagi lepas disebagian benak orang. Sebagian tidak menilai karyanya, tapi penulisnya. Hal ini benar-benar menjadi Arus Balik tersendiri bagi Pram. Ketika bangsa lain memuji karya ciptanya, bangsanya sendiri mengucilkan dan menenggelamkannya.