Konflik antara penganut Agama Islam dan Kristen sudah berlangsung sejak lama. Keduanya berebut pengaruh guna memperoleh penganut yang lebih banyak. Meskipun di beberapa momen tertentu keduanya saling bahu-membahu dan kooperatif, tapi kasus itu relatif lebih sedikit jika dibandingkan dengan deretan konflik yang pernah terjadi.

Di negeri ini, konflik kedua agama itu dimulai dan menjadi bagian integral dengan adanya kolonialisme. Jamak diketahui bahwa orang-orang Barat datang ke negeri ini tidak hanya karena motif ekonomi semata, tapi lebih dari itu, mereka ingin menguasai dan mengontrol hampir semua unsur yang menyokong kehidupan umat manusia, termasuk dalam hal agama. Sebab mereka pergi dari tanah kelahiran dengan prinsip gold,glory,gospel.

Hal itu diafirmasi oleh Karel Steenbrink melalui bukunya “Kaum Kolonial Belanda dan Islam di Indonesia (1596-1942)”. Buku ini, selain mengupas laporan dari orang-orang Belanda yang pernah menjejakkan kakinya di negeri ini, juga menyajikan data-data yang menerangkan soal konflik dan dialog antara agama Islam dan Kristen dalam kurun waktu sekitar empat abad lamanya.

Ia memulai buku ini dengan menerangkan pelayaran yang dilakukan oleh Frederick dan Cornelis de Houtman ke negeri ini (hlm. 2) pada abad 16. Pelayaran itu memakan waktu dan korban jiwa yang tidak sedikit, termasuk Cornelis de Houtman yang menjadi korban. Sedangkan Frederick ditahan, diancam, dan disiksa selama tiga tahun agar mau memeluk Agama Islam. Namun karena teguh dengan kepercayaannya, ia pun akhirnya dilepaskan dan dibiarkan kembali ke Belanda.

Kendati demikian, keberhasilan keduanya telah membawa angin segar kepada siapapun yang hendak melakukan pelayaran di masa-masa setelahnya. Selain itu, laporan dari Jan van Baal yang datangnya agak belakangan juga menjadi ulasan pembuka di buku ini.

Periode awal kedatangan orang-orang Belanda sebenarnya tidak terlalu menaruh perhatian pada Agama Islam. Mereka datang semata-mata untuk melakukan perdagangan.

Meskipun pencatatan tentang penganut Islam tetap dilakukan, namun narasi yang dibangun tidak menyentuh substansi yang begitu penting. Seperti yang dikatakan oleh Karel Steenbrink, “Sungguh, hanya sedikit dari mereka yang memandang masalah-masalah ini bermanfaat untuk ditulis dan ini pun dilakukan dengan cara yang singkat dan sederhana” (hlm. 62).

Meski catatan-catatan itu hanya ditulis dengan singkat dan sederhana, pengaruh terhadap orang-orang Belanda yang datang pada masa sesudahnya cukup signifikan. Sebab melalui catatan itu, mereka memiliki gambaran dan penilaian dari tempat baru yang menjadi tujuannya, meskipun cenderung negatif.

Hugo de Groot, Antonius Walaeus, dan Gisbertus Voetius menjadi tiga nama yang diambil oleh Karel Steenbrink sebagai representasi pada masa tersebut. Masa-masa penganut Islam dikritisi dengan tuduhan buruk. (hlm. 64).

Menurut Al Makin sikap seperti itu wajar terjadi. Di dalam bukunya “Antara Barat dan Timur; Batasan, Dominasi, Relasi, dan Globalisasi”, ia menjelaskan bahwa ada tiga hal yang menjadi sebab kenapa mereka yang datang pada awal periode ini memiliki penilaian yang negatif terhadap Islam.

Pertama, mereka masih memiliki pengaruh yang kuat dengan latar belakangnya sebagai Kristen. Hal ini lumrah mengingat sejak kecil sampai dewasa mereka dididik dalam lingkungan Kristen.

Kedua, ada anggapan bahwa agama yang datang lebih awal memiliki pengaruh terhadap agama yang datang belakangan. Sehingga otentisitas ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad digugat oleh mereka. Dan yang ketiga, karena otentisitasnya diragukan akibatnya Islam hanya dianggap sebagai salah satu sekte dalam agama Kristen.

Anggapan penganut Islam yang seperti itu masih bertahan ketika masa-masa VOC berkuasa. Petinggi-petinggi VOC seperti Jan Pieterszoon Coen banyak menaruh curiga terhadap Islam. Beberapa kebijakan yang dibuat berorientasi agar Islam tidak berkembang, baik secara kuantitas maupun pengaruhnya di akar rumput.

Baru setelah itu, periode di antara tahun 1850-1940 penilaian terhadap Islam agak berbeda. Nama-nama seperti Karel Frederik Holle, Christian Snouck Hugronje, dan Godard Arend Hazeu merupakan orang-orang Belanda yang lebih apresiasi terhadap agama Islam. ketiganya menjadi panasihat dan cukup memiliki pengaruh terhadap pemerintahan pada masa itu.

Mereka memandang bahwa penganut ajaran Islam bukanlah orang sesat yang menjadi musuh bebuyutan, tetapi lebih sebagai penduduk terbelakang dan perlu dididik dari sebuah koloni yang tengah berubah menjadi negara berkembang (hlm. 124). Dari sinilah muncul yang disebut dengan masa berlakunya politik etis atau politik balas budi. Meski di kemudian hari, upaya ini dikritik oleh banyak pihak yang menekuni studi pascakolonial, karena memuat ambivalensi.

Pada rentang tahun yang sama, sejumlah misionaris juga gencar melakukan penyebaran agama Kristen ke sejumlah daerah. Salah satu strategi yang dilakukan oleh misionaris adalah memihak pada pengikut kejawen atau abangan, di samping juga mempengaruhi pemerintahan. Hal ini berorientasi untuk mengurangi kekuatan dan pengaruh Islam di bidang ekonomi, politik, dan pendidikan (hlm. 168).

Lantas yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana relasi antara Islam dan Kristen setelah masa kolonial? Atau bagaimana relasi antara Indonesia yang disimbolkan dengan penganut Islam dan Belanda dengan penganut Kristen? Sejauh mana dialog dan pertemuan kedua agama tersebut di abad ini?

Di bab terakhir, Karel Steenbrink memaparkan bahwa relasi kedua agama –Islam dan Kristen- di abad ini sudah terjalin cukup baik. Indikasinya bisa dilihat melalui dua hal, pertama pada ranah wacana dengan ragam dialog yang digelar dengan menyoal toleransi dan kerukunan antar umat beragama makin bergeliat. Adapun yang kedua dapat dilihat pada ranah implementasinya yakni banyak orang-orang muslim yang berdatangan ke Eropa, termasuk dari Indonesia ke Belanda.

Pembangunan masjid-masjid di Eropa sebagai tempat ibadah umat Islam juga diperbolehkan, meski perizinan masih lumayan sulit. Selain itu, pertukaran pelajar juga makin kerap dilakukan. Beberapa universitas di Belanda atau negara Barat lainnya sudah membuka studi Islam sebagai kajian yang lebih objektif. Begitu pun beberapa orang Belanda juga diberi kesempatan untuk memberi kuliah (hlm. 263) di sejumlah perguruan tinggi di Indonesia.

Namun jangan terburu-buru untuk berbaik sangka terhadap buku ini. Sebab catatan yang ditampilkan dominan dari orang-orang Belanda di masa kolonial. Karel Steenbrik hanya menyinggung sedikit catatan dari orang Islam di masa yang sama.

Kendati demikian, buku ini tetap layak dan patut untuk dibaca, mengingat tidak sedikit konflik yang terjadi antara dua agama tersebut. Pun begitu bagi akademisi yang fokus pada resolusi konflik, pengambil kebijakan, dan peminat sejarah Indonesia juga perlu membaca buku ini. Sehingga pengetahuan yang dibangun atas relasi Islam-Kristen di negeri ini bisa utuh, tidak setengah-setengah kemudian berpendapat seenaknya.

Kaum Kolonial Belanda dan Islam di Indonesia (1596-1942) | Karel Steenbrink | Gading Publishing | Mei 2017 | liv + 298 halaman | 978-602-0809-36-6