77608_92790.jpg
Cerpen · 12 menit baca

Perseteruan


Di sebuah kios kecil yang terpojok diantara deretan gedung bertingkat, Kamal membeli koran pagi yang sudah barang tentu diawali oleh proses memilah dan memilih terhadap beberapa topik hangat yang berserakan serupa koran-koran pagi yang diletakkan secara serampangan oleh pemilik kios. Tak ada topik mantap, yang walau bagaimana pun, suka atau tidak suka, Kamal mesti beli. Memang tak ada menyuruh bertindak demikian. Hanya saja, ia sudah lama bertekad berbuat begitu. Kali saja, diwaktu yang lain, namanya tercetak pada koran-koran itu. Dapat satu koran, usai bayar Kamal langsung cabut. 


Satu hari sebelumnya, tepatnya hari Sabtu, Kamal menghabiskan banyak waktu berbincang dengan Ir. Subroto Karyo Mulyo dan mendapat nasehat yang baik sekali menyangkut tulisan-tulisannya yang rata-rata masih berwujut abstrak.Sudah barang tentu, Kamal sendiri tak tahu kapan semua tulisan-tulisan itu dapat ia rampungkan. Seluruh tulisan-tulisannya terkesan aut-autan dan berserakan disana-sini. Malangnya lagi, banyak bahan tak tergarap yang masih utuh dan mengendap begitu saja dibatok kepalanya. Hal ini berlangsung sudah cukup lama, sampai-sampai ia sendiri sudah lupa kapan tepatnya. Barangkali sama lamanya saat ia untuk pertama kalinya memantapkan diri meniti jejak beberapa penulis kenamaan dunia.


Ir.Subroto Karyo Mulyo banyak menyinggung soal kecendrungan Kamal menirukan gaya kepenulisan beberapa penulis besar klasik maupun moderen. Tapi Subroto seperti sengaja tidak menyebutkan nama secara spesifiksebuah kesalahan fatal yang kelak cukup menyengak bagai duri dalam perjalanan hidup Subroto, umpama orang baik-baik yang tiba-tiba saja ditikam dari arah punggung secara brutal.


“Orang-orang itu tak perlu diragukan kehebetannya, tapi kau punya jamanmu sendiri”. Ir. Subroto Karyo Mulyo berkata begitu sembari mengusap-usap jambang yang ia biarkan tumbuh semaunya, jambang pekat serupa kopi hitam yang baru saja  dihidangkan Jamilah Nur Aini, istri Subroto yang memiliki mulut sama pedasnya dengan suaminya. Tampaknya,Subroto, terutama istrinya, cukup khawatir bila Kamal memilih tumbuh sebagai penulis yang keluar dari koridor umum: Terdepak sejarah,seperti yang banyak dialami oleh kebanyakan penulis hebat, yang pada intinya,semakin terdepak ia dari pusaran hidup, maka semakin kritis ia memandang hidup itu sendiri. Gaya hidup seperti ini, walau berlimpah inspirasi,memabukkan,tapi kesepian sekaligus getir dan pahit. Sungguh pun, pada kenyataannya,manusia yang lahir darinya cenderung menyesali kekeliruan-kekeliruan hidup pada babakan akhir,butuh waktu lama sesudah kesimpulan dimantapkan. “Kematangan hidup yang luar biasa memang”. Subtoro menyeruput kopi, mengusap jambang hitamya kemudian meneruskan “namun cepat membusuk, serupa irisan-irisan pepaya yang dihidangkan. Bentuk lain dari kredo semu yang pandai menjebak”.


Sementara dalam sudut pandang Jamilah Nur Aini yang lebih khusu, Subroto jelas tak mau ikut-ikutan didalamnya: Kamal tipikal pemuda yang berkarakter kuat, sudah sepatutnya dalam beberapa tahun mendatang setelah Kamal menyelesaikan studi, Kamal sudah pasti sukses memimpin suatu organisasi persekutuan yang beroriantasi profit murni. Menurut hemat istri Subroto ini: Satu-satunya rintangan yang mengganjal selama ini adalah posisi dirinya yang hanya sekedar pemberi saran atas dasar akumulasi pengalaman hidup mengenyam pahit-asinnya garam kehidupan. Segala keputusan tentulah ada pada diri Kamal.


Kamal sendiri sedikit banyak kurang sepakat dengan penilaian dangkal Subroto beserta istrinya, tapi tidak diucapkannya dihadapan suami istri bermulut pedas itu. Terkait soal saran khusus dari isteri Subroto,Kamal menilai: jauh lebih berguna bila saran jenius macam itu dialamatkan pada oranglain, bukan untuk dirinya.


Pada kenyataannya, Kamal maupun Subroto beserta Jamila Nur Aini,menyimpan kekeliruan fatal atas pendirian masing-masing. Nantinya, di hari mendatang, Subroto beserta istrinya, yang sejak awal paham akan kekeliruan masing-masing dengan cepat pulih dari kekeliruan itu dan hidup berbahagia meski banyak dari keinginan masing-masing, sesuai yang diharapkan suami istri ini tidak betul-betul tercapai. Dan Subroto terutama istrinya, hingga akhir hayat, bangga menceritakan semua itu kepada siapa pun yang mereka jumpai. Sementara,Kamal yang mewarisi tekat baja sekeligus tabiat keras kepala seperti batu dari ayah-ibunya,kelak menyadari kekeliruannya setelah Subroto hidup berbahagia tapi cenderung kesepian bersama Jamilah Nur AiniKalainti percekcokan semakin mengerucut. 

*


“Pakde!” Kamal berseruh, minta dilayani. Pria paruh baya menghampiri, dialah pemilik warung sekaligus merangkap sebagai pelayan dengan seragam sederhana tanpa celemek.


“A...,aku hafal seleramu” seraya tersenyum. “Ya...Seperti biasa” Kamal menimpali 


“Kopi hitam, pahit, tapi sedikit agak manis!” Pakde mendiktekan pesanan lantas pergi sehabis menerima anggukan Kamal. Tiga menit kemudian, ia muncul lagi bersama secangkir kopi berasap, kemudian menghilang lagi secepat kedatangannya.


Duduk diantara deretan meja yang cukup ramai, Kamal menimbang ulang omelan pedas Subroto. Sejujurnya, ia teramat kasihan pada cara pandang Sobroto yang terlampau dangkal dan sederhana. Apalagi, dalam kesederhanaan itu, istri Subroto yang bermulut pedas mendukung sepuhnya—jiwa dan raga terhadap cara pandang Subroto yang teramat keliru. Kamal sudah hendak pergi untuk membetulkan kekeliruan dari cara pandang Subroto, yang kemudia ia batalkan sendiri niat baik itu sehabis bahunya ditepuk Jalal, jejaka paling eksentrik dari sekian banyak jejaka eksentrik yang pernah Kamal kenal.


“Beli koran apa hari ini?”

“Baca sendiri, repot amat!”

“Pagi-pagi sudah jutek. Mimpi buruk apa kau semalam?”

“Lamaran kerjamu diterima dengan syarat gaji dipotong setengahnya”

“Hua..ha..ha”. Srup...!. “Ukh... Lagi-lagi racikan kopi yang tidak pas”.

“Seingatku,kau selalu mengeluh soal kopi!”

Agaknya salah satu diantara kita...,pasti orang pikun”.


Merasa tidak sepakat dengan ucapan Jalal, Kamal membuang pandangan kearah deretan meja yang rata-rata penuh sesak. Jalal yang mendapati dirinya sedang diacuhkan berusaha membolak-balik Koran pagi sekehendak hatinya.


“Kalian berdua bertengkar soal yang itu-itu saja. Kapan majunya!”. Di ambang pintu Dani bertolak pinggang dalam setelan ala metalrock sembilan puluhan. Sehabis ber-pose,Dani bergabung bersama dua sahabatnya.


Kamal menelisik wajah Dani, pada wajah sahabatnya itu didapatinya semacam nuansa: Cuaca pagi masih dingin betul, tapi sudah berani tebar aroma permusuhan ia. Setelah itu beralih pada Jalal. Wajah tirus sahabatnya yang satu ini dipenuhi aura kompromistis yang kental, semacam kesan bahwa Jalal ada dipihaknya. Barangkali efek dari mimpi buruknya semalam. Tentu kemajuan yang tak biasa, tapi siapalah yang bisa sangkal waktu, musuh bisa saja jadi teman. Ya, betul. Siapa bisa sangkal waktu. Kamal jadi berfikir keras karena pernyataan pendek itu. Sangat bisa jadi, Subroto lebih banyak benarnya ketimbang kebenaran yang ia anut saat ini. 


“Bagaimana perkembangan tulisanmu?” Dani membuka obrolan

“Persiapan mau kirim”

“Jawaban yang sama dengan bulan kemaren” Jalal ikut meramaikan.

“Tahun kemarin juga sama!” Dani menambahkan. 


Suasana jadi canggung dan tidak mengenakkan. “Kenapa tidak kau kirim saja, biar redaktur yang menilai layak atau tidak!”. Jalal mencoba mencairkan suasana. Menurutnya, Dani sudah kelewatan menyebut-nyebut soal tahun dalam perkara ini.


“Aha...,saran bagus itu!” Dani mengompori

“Tahu apa kalian soal sastra!. Kalu gegabah, tulisanmu bakalan menghuni tong sampah” 

“Nah jawab itu!” Dani mengalihkan sasaran

“Dasar banyak bacot kau” Jalal balik menyerang.

“Mending,ketimbang kau yang memelihara pemikiran tak pernah jauh-jauh dari rubrik koran hari Sabtu”.

“Itu salahmu juga, koranmu semuanya hari Sabtu” Jalal tak mau kalah

“Biar saja, dari pada tidak punya sumber bacaan sama sekali”

*


PERCAKAPAN itu terjadi sekitar dua minggu yang lalu, tepat sebelum Jalal pergi menyongsong kerja. Heran juga Kamal dibuatnya, mimpi buruk yang ia alami betul-betul terjadi. Anehnya lagi, kejadian di alam mimpi itu sama persis dengan kejadian di alam nyata—Lamaran kerja Jalal diterima dengan syarat gaji dipotong setengahnya. Jadilah kini Kamal duduk berdua-duaan saja dengan Dani—dua minggu berlalu, membosankan dan penuh kelesuhan.


Barangkali karena kondisi yang tidak menyenagkan itu, Kamal seperti dengan sendirinya dipaksa untuk berkonsentrasi pada tulisan-tulisannya, semakin serius ia, semakin sering pula ia merenungkan hal ihwal sikap keras kepala Subroto, dan tentunya semakin sadar pula bahwa jalan sastra yang hendak ia tempuh semakin memamerkan rintangan-rintangannya. Tapi untunglah, belum genap dua minggu setelah kepergian Jalal, Kamal berhasil merampungkan sebuah sajak - sajak yang kurang lebih berbunyi seperti ini.


Tekad Baja

Bukan beban tak tertangguhkan

Bukan pula hidup tak kenal gelisah 


Mimpi bukannya tak suka pada mereka

Tapi pintu-pintu itu lebih senang tertutup


Bila jalan hendak putus sebelum asa

Aku tetap kelana tujuan itu

Mereka bilang apa?, aku tak perduli

Mampus  sekalipun, tiada usai khawatir itu!


Nyata sekali unsur saduran didalamnya, tapi Kamal cukup berbangga hati dihadapan Subroto dan istrinya. Setidaknya, ia tidak jalan ditempat. Begitu pikirnya, menghibur hati. Entahlah, setelah sekian banyak tulisan-tulisannya ditolak Subroto dan beberapa redaktur kawakan, Kamal jadi banyak merenung. Pada kenyataannya, Kamal memang tak memiliki apa-apa lagi kecuali tekad baja serupa judul sajak sadurannya. Dan, menurut hematnya, ia cukup menulis dua atau barang tiga sajak lagi, setelah itu mengirimnya ke redaktur koran yang menyediakan kolom sastra mingguan. Bila ditolak juga, nantilah dipikirkan bagaimana selanjutnya—sembari menimbang-nimbang beberapa majalah oplah murahan yang memiliki rubrik sama sebagai alternatif. 


Subroto yang mendengar pengakuan itu dikemudian hari geleng-geleng kepala dibuatnya. Sementara istrinya, Jamilah Nur Aini, berlinang air mata dalam kurun waktu yang cukup lama. Barulah ketika Subroto berbisik lembut ditelinga Jamila Nur Aini yang sedang merawat tanaman di pekarangan rumah disuatu pagi yang cerah: Anak lelaki memang ditakdirkan untuk tidak mudah menyerah pada prinsip hidup yang pandai mendikte...  Secara berangsur, istri Subroto yang rupawan ini pulih dari kesedihannya dan kembali ceriah sebagaimana karakter pembawaannya.

*


Konon banyak penulis kenamaan yang tak pernah betul-betul menikmati hidupnya lantaran berani bermain-main dengan penghidupan yang menyedihkan, yang sudah barang tentu dibangun diatas penghasilan yang tak jelas asal-usulnya. Dani merasai bahwa teman terbaiknya sekaligus yang paling dekat sudah semakin jauh terpuruk kearah itu. Bayangkan saja, lantaran berdasar pada pengalaman menyelesaikan suatu karya sastra dalam bentuk tertentu—Katakanlah itu semacam puisi, yang menurut hemat Kamal sendiri, seperti yang sering-sering ia sesumbarkan: Puisi dalam balutan hukum-hukumnya—merupakan karya sastra paling rumit dan paling kompleks adanya. Terlebih lagi, pada penampakannya, polah hidup Kamal menjadi lebih menyedihkan dari sebelumnya, bacaan-bacaannya kini tidak lagi separiatif dulu. Seluruh bacaannya hampir-hampir selalu beraroma sastra yang kadang-kadang saja diselingi sejarah atau filsafat. Kamal semakin miskin sumber bacaan selingan. 


Barangkali demikianlah sastra itu, semakin ditekunikau akan semakin merasa bahwa kau betul-betul memulai segalanya dari nol. Di samping itu, menurut pengakuan Kamal sendiri, perseteruannya dengan Subroto menyadarkan dirinya pada sesuatu yang semestinya sudah Kamal sadari sejak awal: Ia pribadi,sama dangkalnya dengan Subroto, yang sudah barang tentu, ketegangan yang terjadi diantara mereka berdua dipicu oleh masalah sepeleh—kedangkalan masing-masing yang seperti dengan sengaja mengarahkan keduanya pada kekeliruan yang sengit. Dalam hamat Dani, Kamal sudah pasti memaafkan kekeliruan semacam itu. Tindakan suci macam ini sudah sepatutnya Kamal lakukan, yang sudah barang tentu tak ada persangkutan dengan upaya untuk menjernihkan perkara antara dirinya dan Subroto. 


Soal posisi Jamilah Nur Aini, Dani tak pernah betul-betul paham soal pendirian istri Subroto itu, kecuali soal naluri keibuan yang ada pada diri Jamila Nur Aini, sebagaimana naluri seorang ibu yang umumnya dapat dijumpai pada perempuan baik-baik manapun.

*


Ingatan di kepala Jalal sudah sangat kabur soal kapan terakhir kalinya ia mengobrol dengan Kamal. Seingatnya, segala sesuatu yang memiliki persinggungan dengan Kamal selalu saja datang dari Jamilah Nur Aini, istri Subroto. Pun, selalu disampaikan dalam nada sumbang dan berkonotasi suram—semacam keprihatinan sekaligus keputus asaan. Sementara versi yang diceritakan Dani dikemudian hari. Menurut Jalal, terlalu dilebih-lebihkan, cocok sekali dengan gaya berfikir Dani yang cenderung tidak realistis. Untuk Subroto sendiri—Ada baiknya membahas soal-soal lain ketimbang semakin memperkeruh sumber kesedihan lelaki malang ini.


Jalal sendiri tak mau dipusingkan desus yang abu-abu. Yang terpenting menurutnya sekarang adalah Kamal duduk tepat dihadapannya— dalam penampilan yang paling menyedihkan dan menghibakan hati. Jalal pun seperti diamuk oleh berbagai macam rasa yang pada intinya, apa punyang di minta Kamal saat ini, tentu akan ia sanggupi, walau mengarungi langit sekali pun. Tapi, dasar Kamal yang tak mau diberisimpati, ia pergi setelah meletakkan selembar sobekan koran pagi. Pergi bersama senyum dan sikapnya yang angkuh, teduhsekaligus misterius.

*


“Rasa-rasanya baru kemarin, tau-tau jenggot sudah lebat dengan sendirinya!”.

“Kau tampak sedikit lebih bijaksana. Bukan Dani yang dulu kukenal”

“Manusia itu pada dasarnya berbau tanah, maka sudah sepatutnya bersikap demikian”

“Kuharap teman baik kita ini menemukan kebijakan hidupnya”

“Tak diragukan lagi. Kamal orang baik dengan sedikit sekali kesalahan”

“Apakau menghitung perselisihan dengan Ir. Subroto Karyo Mulyo beserta istrinya sebagai kesalahan yang sedikit itu”

“Ya,tepat sekali. Itulah kesalahan sedikit yang kumaksud”

“Tapi, kasihan kawan kita ini. Wafat di usia yang masih sangat muda 

“Kau jangan bersedih macam itu!”

“Kau sendirilah yang terlalu miskin belasungkawa”

“Oke, aku mengalah!” Seraya berdiam sejenak “Bagaimana kalau kita temui Subroto?”

“Ide bagus itu!”


Kedua sosok ini bergerak diantara kerumunan manusia yang begitu hikmat dalam setelan busana serba hitam, keduanya berhenti di dekat Subroto yang sedang berjongkok dan menabur berbagai macam kembang diatas sebuah gundukan tanah. Jamila Nur Aini menirukan apa yang dilakukan suaminya, ia tampak layu, perempuan malang ini menyandarkan beban tubuhnya pada tubuh Subroto. Setelah merasa cukup dengan segala ritual yang ada, suami istri itu kemudian berdiri sambil membetulkan letak kacamata hitam masing-masing.


Dari sudut pandang Dani dan Jalal, Subroto secara tersirat; menyatakan diri hendak mengumpulkan sekaligus merampungkan tulisan-tulisan yang ditinggalkan Kamal, sahabat mereka yang pelamun sekaligus pria paling ceria yang pernah mereka kenal, tapi sayang keburu wafat sebelum kerja kerasnya betul-betul terwujud. Niat baik Ir. Subroto Karyo Mulyo itu barangkali disebabkan oleh adanya semacam kejutan dari sesuatu yang sudah ia sadari sejak lama, umpama seseorang yang mengantuk dan duduk dalam posisi setengah limbung—tiba-tiba ada semacam tepukan dibahu. Ia pun jadi sadar bahwa; kekeliruan yang pernah ia benahi dulu, dan yakin-seyakinnya bahwa kekeliruan itu sudah tuntas sejak lama, kini berbalik seumpama misteri pada dua sisi mata uang.


“Kapan tulisan-tulisan itu anda terbitkan?” Waktu ditanyai begitu, Subroto menjawab singkat “Masih dalam tahap pengerjaan”. Kemudian wajahnya menjadi semakin murung ketika Dani menambahkan pernyataannya “Ah, saya jadi ingat!. Sastrawan yang hebat itu, haruslah jenis manusia yang memiliki hati paling sabar diantara segala jenis manusia”.


“Anda memimpin Harian Cetak dengan oplah terbanyak. Tak adakah celah untuk menyelipkan beberapa dari karya-karya itu”. Jalal ikut nimbrung


“Betul itu. Setidaknya, orang-orang akan menyadari ketulusan hati anda” Dani menambahkan


“Oriantasi saya jelas, Profesionalisme!. Tak ada ruang bagi mereka yang mau pamer atau bertabiat eksentrik”. Mulut Subroto tetap pedas seperti sebelum-sebelumnya.


Menurut pengamatan Dani dan Jalal, Subroto dalam pembawaannya, sadar atau tidak, mengakui bahwa: betapa dirinya menderita kehilangan yang teramat sangat. Subroto saat ini umpama seorang petinju nomor satu yang knockout, yang walau bagaimana pun ia berusaha mempertahankan diri, menahan segala perih, letih, serta wajah bopeng oleh hantaman lawan—setelah segala harga dipertaruhkan. Pada akhirnya, dirampas jua harga itu dengan cara yang paling santun, yang tak mungkin lagi untuk ditolak atau dibatalkan.


Dani maupun Jalal menepuk bahu Subroto, kedua sahabat ini seakan paham betul perasaan seorang ayah yang ditinggal mati putra sematawayangnya.