Untuk pertama kalinya dalam sejara nasionalisme "panas" Bangsamoro yang ber-Islam Fundamentalis akhirnya redup dan dingin. Hampir 3.000 Muslim Bangsamoro, Filipina Selatan, berajojing bersama-sama warga Saudi dalam perayaan jelang Hari Nasional ke-89 Kerajaan Saudi yang jatuh pada tanggal 23 September nanti. 

Rencana perayaan di Mindanao akan berjalan selama tiga hari berturut-turut. Dimulai pada hari Minggu kemarin, 15 September 2019.

Pada hari pertama, mereka mengibarkan bendera Saudi. Sementara itu, lagu kebangsaan Saudi Arabia juga akan dinyanyikan dengan khusuk oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dan para siswa SMA dari lembaga pendidikan Filipina Selatan.

Pereduksian nasionalisme "panas" tersebut digawangi oleh Akademi Islam Khadijah Mohammad (KMIA) dan Akademi Guru Muslim Filipina (PMTC). 

Kedua lembaga pendidikan ini sukses mengajarkan pendidikan barat dan Islam modern, serta mampu menarik minat Saudi Arabia untuk lebih besar mengucurkan dananya bagi Bangsamoro. Kedua lembaga ini juga telah sukses dan mampu memenuhi kebutuhan "kebebasan" komunitas Muslim Mindanao.

Masalah nasionalisme yang berkaitan erat dengan state building sudah tidak dihiraukan lagi. Yang penting bantuan mengucur, walau dengan syarat yang memberatkan bagi sebuah spirit nasionalisme "panas" mereka.

Kebesaran agregasi orang-orang yang dikaitkan dengan lokasi dan karakteristik sosial budaya yang sama, seketika itu, otomatis tercabut.

Nasionalisme"panas" di Mindanao sudah tidak menjadi lagi semacam ideologi yang mampu menciptakan kohesi dan loyalitas di antara individu yang berpartisipasi di dalam sistem yang berskala besar. 

Nasionalisme menurut mereka adalah ketersediaan dana yang besar yang berguna bagi penyediakan keamanan dan stabilitas. Dan, Papa sudah datang, Hail Raja Salman!

Nasionalisme bagi Mindanao adalah pujian-pujian yang akan dilontarkan kepada Big Boss, Saudi Arabia, sebagaimana yang telah dilontarkan oleh Komisaris dan Ketua Pendidikan Tinggi di Daerah Otonomi Muslim Mindanao (CHED-ARMM), Dr. Norma M. Sharief.

Ia mengatakan: Arab Saudi adalah negara pendonor terbesar pertama di dunia Islam dan Arab dalam hal bantuan kemanusiaan dan peringkat nomor empat di seluruh dunia dalam hal hibah pembangunan.

Pun begitu, nasionalisme menurut Presiden PMTC Datu Agakhan M. Sharief adalah mendesak dunia Muslim untuk melindungi dan mempertahankan Arab Saudi.

Ia menegaskan: ini adalah tugas dunia Muslim untuk melindungi dan mempertahankan Arab Saudi di mana agama damai kita (Islam) berasal, tempat kelahiran Nabi Muhammad dan tempat di mana dua Masjid Suci berada.

Lunturnya nasionalisme "panas" bagi mereka bukanlah apa-apa, namun terhentinya dana adalah masalah besar. Ideologis berbangsa bagi mereka adalah merajut suatu keterkaitan antara (self-defined) kelompok kultural dengan negara dan dana segar. 

Mereka sudah melupakan “doktrin". Baginya, ia seperti hantu yang berbentuk tindakan mengharuskan atau memaksakan. 

Doktrin nasionalisme "panas" bagi mereka sebelumnya adalah sesuatu hal diyakini dan dibenarkan seperti yang disampaikan, harus terlaksana persis dan kaku. Tentunya setiap doktrin akan memasung kemerdekaan berpikir individu.

Sekitar seperempat dari penduduk Filipina menganut agama Islam. Dari jumlah itu, hampir semuanya tinggal di Pulau Mindanao. 

Mereka menghuni wilayah Autonomous Region in Muslim Mindanao (ARMM), Pulau Basilian (kecuali Isabela City), Lanao del Sur, Maguindanao, Sulu, Tawi-Tawi, dan Marawi City. Ini adalah lahan yang lezat bagi Arab Saudi untuk memperluas jaringannya, apa pun itu.

Nasionalisme bagi Mindanao bukan lagi membuat suatu negara-bangsa memiliki kekuatan dan kegigihan sentimen dan identitas nasional. Bagi mereka, identitas nasional hanyalah formalitas. 

Identitas nasional bagi Mindanao dan Bangsamoro adalah dibangun dan terus dikuatkan melalui berbagai macam cara, seperti dengan menanamkan gairah dan emosi-emosi mendalam di kalangan pengikutnya melalui penghormatan terhadap negara pendonor.

Simbol-simbol tersebut dapat berupa sikap dan pernyataan yang mengandung unsur pujian, keterpihakan, dan mungkin saja berupa penyembahan terhadap negara pendonor.

Nasionalisme bagi mereka bukanlah berupa simbol-simbol merepresentasikan negara-bangsa. Sudah saatnya bagi Bangsamoro beserta komponenya dan warganya untuk tidak lagi mengultuskan ideologi kebangsaannya yang Islam fundamentalis itu. 

Sudah saatnya pula bagi mereka untuk tidak mempertahankan ideologi sekalipun hal tersebut buruk dan konyol, serta menganggap ideologi lain tak seagung ideologi negaranya.

Mindanao dengan Bangsamoro-nya merupakan kawasan dengan pendapatan, tingkat pendidikan, dan perkembangan yang paling menyedihkan di Filipina. Dana segar dan negara pendonor adalah segalanya. Ia akan melampaui ideologi-ideologi abstrak yang konyol.

Tidak ada nasionalisme “panas” yang didaktis dan transformatif di sana. Tidak ada pula penanaman ide tentang bangsa sebagai objek pemujaan yang sakral dan transenden, di mana warganya harus berkorban. 

Mereka menafsirkan nasionalisme dengan nyaman, yang dipahami warga negaranya sebagai sesuatu yang tidak doktriner, tidak kaku, dan tidak terjebak dalam nasionalisme banal yang sempit dan tak bermakna.

Oleh karena itu, mereka rela berhari-hari merayakan Hari Nasional bangsa lain, rela mengibarkan dan menyanyikan lagu kebangsaan orang lain di atas semua simbol-simbol nasionalisme yang mereka miliki. 

Cara ini sama dengan apa yang dilakukan oleh negara-negara penerima bantuan dari Israel. Mereka rela menyanyikan, mengibarkan, memuja, mengagungkan semua simbol-simbol nasionalisme negara Israel.

Manifesto nasionalisme “panas” dan banal perjuangan Bangsamoro yang pernah didengung-dengungkan beberapa tahun yang lalu, kini dingin dengan uang. Tentunya, setiap sumbangan, bantuan, dan donor akan membawa misi masing-masing.