Mahasiswa
1 tahun lalu · 51 view · 3 min baca · Hukum 69671_96149.jpg
pixabay.com

Persekusi Tak Berkasih

Sikap Kita Terhadap Persekusi

Indonesia adalah Negara hukum. Segala aktifitas masyarakat menempatkan UUD 1945 sebagai landasan yang utama. Hukum di Indonesia harus mengutamakan dan menjunjung tinggi yang namanya keadilan agar hukum yang diterapkan dapat menjadi tiang penuntut yang kokoh.

Akhir-akhir ini, Indonesia digegerkan dengan adanya tindak kekerasan yang tak berlandaskan hukum bahkan melecehkan hukum suci yang berlaku. Main hakim sendiri yang dikenal dengan persekusi, merupakan salah satu penyakit masyarakat yang hingga kini sulit untuk diberantas bahkan malah makin menular.

Persekusi adalah suatu tindak perlakuan buruk oleh individu atau kelompok terhadap individu atau kelompok yang lain dikarenakan faktor budaya, suku, agama, maupun politik. Persekusi telah membutakan mata bangsa ini, kita seakan lupa jati diri bangsa kita. 

Apabila kita dapat merujuk pada hukum yang telah berlaku, persekusi adalah suatu tindak pelanggaran berat yang dapat menjerat pelaku dengan hukuman yang berat pula.

Hal tersebut diatur pada pasal KUHP, berupa pengancaman pasal 368, penganiayaan pasal 351, pengeroyokan pasal 170, dan lain-lain. Adapun hukuman yang akan menjerat pelaku, diatas 5 tahun penjara, sesuai dengan tingkat persekusi yang dilakukan.

Keinginan masyarakat yang ingin menjadi pahlawan tindak maksiat justru menjadikan hukum tak lagi dipandang bahkan dilupakan. Tindak persekusi yang kian hari makin marak di Negara ini, seakan menjadikan persekusi sebagai budaya masyarakat yang apabila tidak dilakukan, menjadi sesuatu yang tak lengkap rasanya.

Baru-baru ini terdapat kasus persekusi yang sungguh tidak manusiawi. Seorang pria asal Bekasi, meninggal secara tak lazim dikarenakan  jiwa raga korban yang dibakar hidup-hidup oleh masyarakat setempat. Korban dituduh mencuri ampli masjid yang sebenarnya milik korban sendiri. Lebih tragis lagi, istri korban sedang mengandung buah hati mereka yang telah mencapai usia kandungan 7 bulan.

Dari kasus tersebut, dapat kita fikirkan bahwa betapa rendahnya tingkat kesadaran kita terhadap hukum. Bukan hanya itu, namun tingkat kemanusiaan kita semakin terpuruk jika bercermin pada kasus tersebut.

Dapat dibayangkan, betapa kejinya perilaku yang tak berlandaskan hukum. Apa fungsi hukum yang berlaku di Indonesia jika hanya dijadikan sebagai pajangan? Lantas, patutkah kita membuat hukum pribadi?

Jujur, ketika saya melihat berita mengenai kasus persekusi diatas, hati saya langsung terguncang dan bertanya, dimana hukum kita? Apakah rasa kemanusiaan bangsa ini telah punah? Pantaskah kita merenggut hak hidup manusia tak berdosa? Atau kita diciptakan di dunia sebagai malaikat pencabut nyawa?

Mata, hati, dan pikiran kita seharusnya di buka selebar mungkin. Budaya timur adalah budaya yang melekat pada diri bangsa kita. Akulturasi budaya seharusnya tidak dilanggar dengan berkiblat seutuhnya dengan budaya yang salah.

Rasa kemanusiaan yang telah dibangun bangsa ini, seakan tenggelam mengikuti perkembangan zaman. Rasa persaudaraan yang telah dipupuk bangsa ini, seakan tertimbun oleh arus globalisasi yang semakin tak terkendali.

Persekusi bukanlah cara yang tepat dalam mencari suatu kebenaran dan menyelesaikan suatu permasalahan. Suatu tindak kriminal telah menjadi pegangan dan tanggung jawab aparat Negara, bukan kita yang notabene masyarakat awam hukum yang tidak memiliki hak dalam mencampuri bidang yang bersangkutan.

Kebenaran didapatkan melalui cara yang baik, bukan dengan cara kuno yang telah mendarah daging di dalam diri kita. Menyelesaikan suatu masalah kepada orang yang ahli pada bidangnya, akan jauh lebih baik dibandingkan menyelesaikan masalah yang bukan keahlian kita.

Pada kasus persekusi yang terjadi di Bekasi, patutnya menjadi pelajaran bahkan cambukan bagi kita semua. Bukan kita yang merasakan rasa pahit akibat perbuatan yang kita lakukan, namun keluarga korban yang harus menanggung seluruh kerugian yang akan menjadi mimpi buruk hanya dikarenakan nafsu yang menguasai raga, tak dapat dikendalikan dengan kepala dingin.

Saya tidak bermaksud ingin menggurui dalam hal ini, saya hanyalah masyarakat awam yang tak mengerti sama sekali mengenai hukum yang berlaku. Lewat kasus ini juga saya belajar banyak, betapa pentingnya menjadi warga Negara yang taat hukum dan betapa pentingnya penanaman jiwa kemanusiaan pada diri kita.

Lewat tulisan ini, hendaknya tidak ada lagi kasus-kasus persekusi yang kian hari melecehkan bangsa kita. Persekusi bukanlah budaya kita, persekusi bukanlah jati diri bangsa kita, persekusi juga bukanlah simbol bangsa kita.

Persekusi hanyalah tindakan orang-orang yang ingkar akan hukum, tidak percaya hukum, serta noda pencemar hukum. Ajaran persekusi adalah ajaran kaum yang tak punya rasa persaudaraan yang selama ini mengikat kita dalam perbedaan. 

Sekali lagi, persekusi bukan cerminan bangsa kita yang selama ini terpancar di setiap sudut wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Bangsa yang baik adalah bangsa yang ragam akan perbedaan, tetapi masih dapat saling mengasihi satu sama lain. Kokohkan bangsa ini, tunjukkan ke seluruh pelososk dunia bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang kuat akan kasih sayang antar sesama. 

Yang menjadi pena adalah kebaikan, yang menjadi tinta adalah kemanusiaan. (Najwa Shihab)

Artikel Terkait