Penulis
3 bulan lalu · 285 view · 3 menit baca · Hukum 46545_33733.jpg
makassar.terkini.id

Persekusi dan Premanisme

Beberapa waktu lalu media sosial di tanah air dihebohkan dengan viralnya sebuah video yang memuat aksi kekerasan. Dalam video tersebut, terlihat seorang laki-laki mirip Habib Bahar bin Smith sedang “menghajar” seorang anak dengan “membabi-buta” dan tanpa ampun. 

Korban pemukulan terlihat pasrah dan menerima begitu saja tendangan dan hantaman dari seorang pemuda berambut gondrong yang kononnya dikenal sebagai habib. Pasca beredar, video itu pun mendapat respons beragam dari publik.

Informasi detik.com menyebut korban berinisial MHU (17 tahun) dan ABJ (18 tahun). Dugaan penganiyaan itu sendiri terjadi di Pesantren Tajul Alawiyin Bogor. 

Pihak kepolisian, seperti dikutip detik.com, menjerat Bahar bin Smith dengan pasal berlapis menggunakan UU No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Akibat tindakannya ini, Habib Bahar pun resmi ditahan pihak kepolisian dengan status tersangka. Dalam hal ini, sebagai warga negara yang taat hukum, sudah semestinya kita memberikan apresiasi kepada pihak kepolisian.

Dalam laporan tribunnews, kejadian penganiayaan tersebut berawal dari tindakan korban yang mengaku sebagai Bahar bin Smith saat berada di Bali. Akibat tindakannya tersebut, mereka pun dijemput paksa oleh orang-orang suruhan Bahar bin Smith untuk kemudian dilakukan tindakan penganiayaan di Bogor. Informasi ini mempertegas bahwa aksi kekerasan yang dilakukan Bahar dipicu oleh aksi korban.

Mencermati video yang beredar dan kronologi kejadian dari pihak kepolisian, maka hampir dapat dipastikan bahwa tindakan tersebut adalah bagian dari persekusi yang merupakan manifestasi dari aksi premanisme. Tindakan-tindakan semisal ini tentunya tidak layak dipertontonkan di negara hukum seperti Indonesia. Ironisnya lagi, tindakan tersebut dilakukan oleh sosok yang dikenal sebagai agamawan. Miris.

Tindakan yang dilakukan oleh Bahar bin Smith adalah salah satu aksi yang berhasil dibongkar pihak kepolisian dari sekian aksi lainnya dengan pelaku berbeda yang mungkin belum terkuak. Aksi premanisme dan persekusi semacam bisa dilakukan oleh siapa pun, tak terkecuali oleh oknum-oknum yang mengaku sebagai bagian dari kelompok religius. Tindakan premanisme dan persekusi yang mengandalkan kekerasan tidak hanya melanggar hukum, tetapi juga bertentangan dengan nilai-nilai agama.

Secara sosiologis, setiap individu bisa saja melakukan “pertunjukan” di panggung depan yang menampilkan sosoknya sebagai religius dan beradab. Sebaliknya, individu tersebut juga memiliki sifat-sifat tak layak, untuk tidak menyebut “buruk” yang hanya ditampilkan di panggung belakang kehidupannya. Apa yang dilakukan Bahar bin Smith, misalnya, memiliki kemiripan dengan aksi pertunjukan dalam perspektif sosiologis. 

Selama ini publik mengenal Habib Bahar sebagai sosok ulama yang tentunya memiliki sifat-sifat keulamaan, namun siapa menduga bahwa video yang beredar baru-baru ini telah menghadirkan “pemandangan lain” yang bertentangan dengan sisi “keulamaan” seorang Bahar. Tentunya kondisi ini tidak aneh, sebab dalam perspektif teologis, hanya Nabi dan Rasul yang memiliki kemakshuman, sementara selebihnya, termasuk Habaib tidaklah makshum.

Dalam konteks sosiologis, aksi premanisme menemukan wujudnya dalam sosok individu yang dianggap atau menganggap diri memiliki “otoritas lebih” dari yang lain. Melalui imaji otoritas inilah kemudian ia menampilkan dirinya sebagai sosok berkuasa atas yang lain. 

Kondisi ini biasanya turut didukung oleh kenyataan-kenyataan sosiologis bahwa sosok dimaksud mendapat sokongan dari kekuatan tertentu, baik kekuatan massa mau pun kekuatan politik. Kekuatan-kekuatan ini kemudian mendesak “imaji otoritas” yang dimiliki pelaku untuk melakukan aksinya.

Sementara aksi persekusi, selain dilatari oleh unsur premanisme, juga didorong oleh lemahnya penegakan hukum dari pihak berwenang terhadap pelanggaran-pelanggaran hukum yang dilakukan individu tertentu. 

Dalam kasus Habib Bahar, misalnya, korban pada awalnya telah bertindak sebagai “pelaku” yang “melecehkan” orang lain dengan “menyamar” sebagai Bahar bin Smith. Bukan tidak mungkin, aksi “pelecehan” inilah yang kemudian mendorong Bahar Cs melakukan tindakan pembalasan dengan asumsi lemahnya penegakan hukum kepada si pelaku “pelecehan” yang kemudian menjadi “korban” dalam aksi balasan.

Di satu sisi, aksi yang dilakukan Bahar bin Smith dimaksudkan sebagai bentuk perlindungan atas kehormatannya. Sementara, di sisi lain, tindakan tersebut masuk dalam kategori pelanggaran hukum. Seperti telah disinggung sebelumnya, aksi yang dilakukan bahar tidak berdiri sendiri, tetapi dilatari oleh alasan-alasan “logis” yang kemudian bermuara pada tindak kekerasan seperti terlihat dalam video.

Namun demikian, terlepas dari asumsi-asumsi tersebut, pihak kepolisian harus bertindak tegas terhadap segala bentuk aksi premanisme dan persekusi yang notabene adalah pelanggaran hukum. Pihak kepolisian tidak bisa membiarkan tindakan-tindakan “brutal” terjadi di negeri ini, meskipun pelakunya memiliki kekuatan massa atau dukungan politis. 

Demikian pula dengan aksi pelecehan dan penghinaan yang dilakukan oleh individu tertentu, baik secara terbuka mau pun melalui media sosial harus mampu ditertibkan oleh pihak kepolisian untuk meminimalisasi terjadinya persekusi akibat ketidakpercayaan masyarakat kepada penegak hukum.