Nusantara tempat kita bermukim sekarang adalah sebuah tanah air yang menjadi embrio kemajuan universal tumbuh berkembang. Para perintisnya tentu saja dimulai dari para pelaut yang menjadi katalisator perniagaan antara Romawi, India, dan Timur Jauh. China merupakan yang pertama mempercayakan barang-barang kebutuhan mereka pada para pelaut Nusantara. Menyusul kemudian para pelaut Persia dan Arab.

Pada titik ini, monumen sejarah kejayaan nusantara mulai tumbuh pesat. Kejayaan ini ditandai dengan banyaknya kerjaaan-kerajaan besar, hingga pada puncaknya Sriwijaya tampil sebagai kerajaan maritim terbesar di Asia Tenggara dengan kekuatan angkatan laut pertama yang diorganisir dengan amat baik.

Menurut Yudi Latif, kebesaran Sriwijaya sepadan dengan imperium lain yang sezaman dengannya, yakni Kekhalifahan Islam Abbasiyah di Bagdad, dan Dinasti Tang di China. Hal di atas juga diperkuat oleh catatan sejarah Adam Smith pada tahun 1776 yang berjudul An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations.

Tulisan ini menyebutkan bahwa ada dua penemuan besar dalam sejarah pasar global dan globalisasi, pertama adalah penemuan jalur ke Nusantara (East Indies) melalui Tanjung Harapan oleh suatu ekspedisi Portugis di bawah pimpinan Bartolomeu Dias pada tahun 1488. Dan yang kedua adalah penemuan Benua Amerika oleh Columbus yang disponsori Spanyol pada 1492, meskipun niat awal Columbus adalah juga untuk menemukan nusantara.

Tapi tidak bisa dipungkiri, yang menjadi perintis atas 'archaic globalization' adalah nenek moyang kita yang banyak bergumul sebagai pelaut. Arus globalisasi yang terjadi di nusantara, tentu saja, tidak berdiri sendiri. Yudi Latif dalam Negara Paripurna menyebutkan tiga faktor yang menjadi stimulus bagi kesadaran kemajuan di Nusantara. Yang pertama adalah Stimulus Pembaratan.

Stimulus ini adalah imbas dari revolusi industri di Eropa pada tahun 1700-an yang membawa perubahan besar dalam sistem kerja, terjadinya konflik dalam kehidupan bangsa-bangsa, serta konflik antarkelas. Ujung dari konflik tersebut adalah revolusi Amerika hingga revolusi Prancis 1789.

Yudi Latif mengatakan, dari sanalah pelbagai paham ideologi mulai dirumuskan sebagai ikhtiar emansipasi. Termasuk beralihnya undang-undang dasar di Belanda dari konservatisme ke liberalisme. Furnival mencatat imbasnya bagi tanah jajahan dengan amat detail dalam tulisannya bersama Lombard.

Keberhasilan itu misalnya meloloskan Hukum Agraria dan Hukum Gula pada tahun 1870, diperkenalkannya telegraf kepada publik pada tahun 1856, diresmikannya jasa pos modern pada tahun 1862, serta pemasangan jalur kereta api dan kapal uap. Segala kemajuan itu serta merta membuat konsekuensi pada reformasi institusional dan infrastruktur, dan juga membuka jalan bagi diselenggrakannya institusi pendidikan bergaya barat di Indonesia.

Islam menjadi stimulus kedua dalam kemajuan kesadaran di Nusantara. Menurut Mona Abaza, berdasarkan catatan sejarah yang ditulis oleh sejarawan Mesir, Mubarak, terdapat sekitar 11 mahasiswa Indo-Malaya yang belajar di Al-Azhar pada pertengahan abad ke 19.

Salah satu dari mereka adalah M.T Djalaluddin mahasiswa dari nusantara yang sebelumnya belajar di Mekkah tetapi kemudian berpindah ke Mesir akibat pengaruh dari wacana-wacana Pan Islamisme dan reformisme-modernisme. Sejak tahun 1893, Djalaluddin banyak belajar tentang astronomi dan mulai sangat tertarik dengan pikiran-pikiran Muhammad 'Abduh (1849-1905).

Dari sinilah terjadi eksodus pemikiran mahasiswa 'jawah' di Nusantara. Semacam perubahan paradigma keberagamaan yang secara signifikan berdampak pada studi pemikiran islam dan pendidikan islam di Nusantara. Usaha usaha modernisasi kemudian banyak dilakukan oleh ulama-ulama 'jawah yang terpengaruh oleh gerakan reformisme-modernisme Islam di Timur Tengah.

Dalam Yudi Latif, usaha ini dikembangkan dengan mengadopsi kurikulum, metode pembelajaran, dan teknologi pendidikan modern model Barat yang dikombinasikan dengan isi (subjek-subjek) dan semangat pengajaran Islam.

Sistem pengajaran hibrida ini dikenal sebagai sistem madrasah. Stimulus China (yang kemudian disebut Tianghoa) bagi kesadaran Kemajuan di Nusantara menjadi faktor penting dalam kemajuan di Nusantara, khususnya di bidang perekonomian. Abad ke-19 menjadi awal peningkatan imigran keturunan China masuk ke Indonesia. Umumnya mereka dipekerjakan dibindang perkebunan.

Data yang direkam Furnival memperlihatkan jumlah etnis Tianghoa pada awal abad ke-19 mencapai 100.000 orang. Pada tahun 1850, sudah menjadi 150.000 di Jawa, dan pada tahun 1900 sudah mencapai 277.000 orang di Jawa, serta 250.000 orang di luar Jawa.

Dari data di atas, etnis Tianghoa menjadi minoritas dari jumlah penduduk di Indonesia. Tetapi pemerintah kolonial pada waktu itu menyukai mereka karena dianggap cakap dalam perdagangan sehingga dilibatkan sebagai perantara perdagangan dalam pasar Nusantara.

Selain itu, etnis Tianghoa---yang belakangan mengalami segregasi dari kaum boemiputra oleh pemerintah kolonial---menjadi target misi Kristen yang membuat mereka lebih cepat bersentuhan dengan modernitas pembaratan. Hal ini membuat mereka lebih siap secara ekonomi dan kultural menjadi 'katalis' dalam pengembangan industri penerbitan dan pers vernakular (bahasa lokal) sejak akhir abad ke-19 yang menjadi cikal bakal ide 'kemadjoean'.

Dari sinilah bahasa dan sastra melayu berkembang. Meskipun pada mulanya, pendirian pers vernakular didorong oleh logika pasar, tapi berkembang menjadi penggunaaan bahasa-bahasa vernakular yang kemudian menjadi populer dan menjadi bahasa ibu bagi penduduk pesisir Nusantara.

Dengan hadirnya lembaga pers yang dirintis oleh Etnis Tianghoa melalui kepemilikan Belanda/Indo, juga berkembang banyak perhimpunan yang terinspirasi dari gerakan nasionalisme di China ketika Sun Yat Sen memenangkan revolusi 1911.

Kehadiran Pers ini, bagi Indonesia, menjadi ruang publik dalam mengkonstruksi ide-ide, wahana ekspresi identitas kolektif, dan menjadi suluh yang menerangi dan menghidupkan hasrat-hasrat serta tindakan baru. Khususnya bagi kemajuan dan kebangkitan nasionalisme di Tanah Air.