“Mau pergi ke mana? Kok gak pake masker?” Seperti itulah seruan yang sering terdengar ketika saya lupa memakai masker padahal sudah memakai helm. 

Yap, tak terasa sudah setengah tahun lebih kita terjebak dalam keadaan yang membosankan ini. Hangout bersama teman/keluarga harus dengan protokol yang ketat dan sekolah tetap dilaksanakan walaupun dari rumah. 

Berbicara mengenai sekolah dari rumah pastinya tak luput dari kata online. Aplikasi penunjang belajar harus menggunakan koneksi internet supaya bisa diakses.

Dalam pelaksanaannya, masih banyak kendala yang bermunculan. Mulai dari tenaga pengajar dan pelajar yang masih kesusahan beradaptasi dengan teknologi baru, jaringan internet yang tidak stabil di beberapa daerah, dan keluhan mengenai memori HP yang mudah penuh karena terlalu banyak aplikasi yang harus diunduh.

Hahaha, mungkin kalangan high class tidak akan mengalami masalah seperti itu.

Terlepas dari status sosial setiap insan manusia, pastinya banyak di antara kita yang mudah merasa jenuh dengan kondisi yang belum juga usai ini. Terlebih lagi bagi pelajar yang harus menatap layar monitor dalam waktu yang lama. Mata lelah dan pikiran yang melayang di udara memikirkan tugas yang banyak menjadi bumbu kehidupan pelajar saat ini.

Sebenarnya tugas yang banyak itu bisa diatasi dengan mengerjakannya satu per satu sesuai prioritas pengumpulannya. 

Namun, banyak dari pelajar termasuk saya yang kurang termotivasi untuk bangkit dari kebiasaan SKS (Sistem Kebut Semalam) atau mengerjakan tugas mepet deadline. Walaupun terkadang pelaku kebiasaan tersebut mendapat sensasi yang membuat kecanduan, tak jarang pula yang mengakibatkan tekanan pikiran dan membuat stress karena tugas yang tertumpuk sangat banyak.

Pembatasan interaksi dengan banyak orang termasuk teman sekolah terkadang juga membuat pelajar mudah mengalami stres. Kerja kelompok harus dilakukan secara online, berkenalan dengan teman baru pun juga secara virtual, ah kurang asyik terlebih jika sinyal sedang tidak bersahabat. Rasa-rasanya ingin segera keluar dari kesulitan ini.

Pikiran juga akan bertambah jika di saat yang bersamaan kita harus memilih 2 hal yang penting. Melaksanakan perintah orang tua atau tetap berkomitmen mengikuti kelas sampai selesai. Kedua pilihan tersebut sulit bagi saya apalagi jika sedang mengerjakan kuis yang waktunya sangat singkat namun orang tua tetap tidak mau tahu kondisi anaknya sebagai pelajar.

Sering kali orang tua saya juga menuntut agar anaknya tidak terus-terusan menatap layar monitor dalam waktu lama. Berkutat dengan HP atau laptop sepanjang hari karena mengikuti kelas dan mengerjakan tugas pun terkadang masih dikira hanya membuang-buang waktu.

“Jika bukan karena terpaksa, aku pun tak mau seperti ini terus. Ya, aku juga lelah,” begitulah gumamku dalam hati.

Di samping itu, kita juga tidak bisa mengabaikan betapa besarnya usaha orang tua dalam memenuhi berbagai kebutuhan belajar kita selama pandemi ini. Keadaan ekonomi yang tidak stabil membuat tingkat stres para orang tua meningkat. Mereka harus tetap memenuhi kebutuhan sehari-hari dan menunjang kebutuhan sekolah daring anak-anaknya. 

Selain itu, orang tua juga perlu memahami jadwal belajar anak agar dapat menciptakan suasana yang kondusif dan nyaman.

Bantuan kuota untuk belajar memang sudah ada namun masih banyak pelajar yang belum bisa menikmatinya, termasuk saya. Dengan begitu, sebagian orang tua masih menanggung biaya paket data internet setiap bulannya.

Tak sedikit pula orang tua yang merasa bingung, kewalahan, bahkan mungkin ada yang sampai stres saat si anak susah diingatkan untuk mengikuti pembelajaran daring maupun mengerjakan tugas karena lebih memilih untuk bermain. Mungkin banyak orang tua terutama ibu-ibu yang anaknya masih duduk di bangku TK-SMP mengeluh akan hal itu, termasuk di lingkungan sekitar saya.

Masalah yang dihadapi orang tua tidak sampai di situ. “Sebenarnya yang sekolah itu anak atau orang tuanya sih? Kalau seperti ini, rasanya orang tua seakan bersekolah kembali,” terdengar lucu namun hal semacam itu semakin marak terjadi akhir-akhir ini.

Orang tua sering tidak tega melihat tugas anaknya terbengkalai. Terlihat lucu ketika orang tua terus menggumam namun tetap mengerjakan tugas anak-anaknya. Sang anak asyik bermain di luar namun orang tua malah sibuk mengerjakan tugas anaknya seakan-akan mereka terjun kembali ke dunia sekolah.

Seperti itulah secuil gambaran mengenai masalah yang dihadapi orang tua dan anak selama pembelajaran dilakukan secara daring atau dari rumah. Mengenai siapa yang lebih rawan mengalami stres tentunya baik anak maupun orang tua mempunyai faktor tersendiri yang dapat meningkatkan stres yang dialami dan hal ini tidak bisa disimpulkan secara universal karena tergantung siapa yang menjalani.

Sebagai anak, kita harus berusaha perlahan untuk memahami dan menyesuaikan keadaan yang sedang dialami serta berkomitmen untuk belajar dengan sungguh-sungguh suapaya kerja keras orang tua untuk menyekolahkan kita tidak sia-sia. Di samping itu, orang tua juga harus bisa memahami anak dan tentunya tetap bersemangat demi anak-anak serta keluarga. 

Tak lupa pula, di antara orang tua dan anak harus menjalin komunikasi yang baik agar tidak timbul masalah yang lebih banyak.