Kita sedang berada di ambang revolusi teknologi yang akan mengubah cara hidup, cara bekerja, dan bagaimana cara kita berhubungan satu dengan yang lain bahkan dalam pemasaran produk antara produsen dan konsumen, antara supply and demand. Perubahan ini terjadi di seluruh dunia termasuk Indonesia.

Sendi-sendi kehidupan manusia saat ini dihiasi oleh berbagai macam kemajuan teknologi yang begitu memanjakan kita sebagai manusia. Kemajuan teknologi tersebut mengubah paradigma dan perilaku kita dalam siklus ekonomi. Dalam proses pemasaran produk pun kini mulai beralih dari proses pemasaran konvensional ke pemasaran digital (online).

Pemasaran diartikan sebagai proses sosial yang dengan proses itu individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk dan jasa yang bernilai dengan pihak lain, untuk definisi manajerial, pemasaran sering di gambarkan sebagai seni menjual produk.

Pemasaran online didefenisikan sebagai sebuah usaha perencanaan strategi penjualan. Usaha tersebut mengarah pada strategi pemuasan dan keinginan konsumen untuk menghasilkan laba penjualan. Prinsipnya hampir sama seperti strategi penjualan umumnya. Namun pada pemasaran online kepuasan pelanggan lebih diperhitungkan lagi karena konsumen hanya mengetahui produk lewat media gambar.

Dari dua pengertian di atas maka dapat kita artikan bahwa  pemasaran online adalah strategi penjualan melalui teknologi internet, yang digunakan untuk menghubungkan konsumen, pemasok, rekan bisnis dan karyawan menggunakan situs website penjualan.

Dalam perkembangannya, pemasaran digital membawa perubahan dalam prinsip pemasaran tradisonal ke pemasaran modern. Pemakaian internet yang menyebarluaskan dan teknologi baru yang kuat lainnya mempunyai dampak drastis pada pembeli dan pemasar yang melayani mereka. Usaha perusahaan memasarkan produk dan pelayanan serta membangun hubungan pelanggan melalui internet.

Di Indonesia, ada beberapa pemain besar dalam pemasaran produk yang menggunakan internet sebagai sarana pemasaran seperti Tokopedia, Shoppe, Bukalapak dan Lazada. Negara Indonesia selalu menjadi pasar yang menggiurkan bagi perusahaan penyedia layanan jasa.

Kondisi Indonesia sebagai salah satu negara yang populasi penduduknya terbesar ke-4 Dunia, dan dengan bonus demografinya, populasi muda yang besar, penetrasi mobile yang terus meningkat serta pertumbuhan ekonomi yang terus menguat setiap tahun.

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis akan mecoba memaparkan bagaimana persaingan dari setiap toko online di atas dalam memasarkan produknya di Indonesia.

Persaingan pasar online  di Indonesia kian menarik. Selain jumlah pemuda yang banyak, Indonesia merupakan masyarakat yang konsumtif, yaitu mereka tidak hanya mengonsumsi untuk memenuhi kebutuhan hariannya, namun juga untuk merayakan gaya hidup dan status sosial. Mereka suka membeli barang-barang mewah, bahkan berwisata keluar negeri.

Hal ini sejalan dengan riset Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 4-6% per tahun, jumlah masyarakat konsumtif di Indonesia ini akan terus meningkat, dari 85 juta orang di tahun 2020 menjadi 135 juta orang di tahun 2030. Artinya, aktivitas konsumsi untuk kepentingan gaya hidup pun menjadi hal yang umum dan normal dilakukan.

Kondisi Indonesia yang semacam ini tentu menjadi pasar yang menggiurkan bagi para produsen dalam memasarkan produknya. Himpitan pasar online seperti Tokopedia, Lazada, bukalapak dan Shopee yang ditandai dengan performa mereka untuk menyaingi pasar lokal. Mulai dari segi pengunjung situs, pengikut di media sosial, hingga ranking di aplikasi mobile.

Dalam studi Peta E-commerce di Indonesia, mencatat bahwa perubahan dan persaingan antara toko-toko di atas terus mengalami peningkatan, saling menggeser satu dengan yang lain pada ranking E-commerce di Indonesia. Disebutkan bahwa pada tahun 2018 Lazada sempat menduduki posisi puncak sebagai marketplace yang memiliki pengunjung tertinggi, diikuti oleh E-commerce lokal seperti Tokopedia dan Bukalapak.

Sementara Shoppe sebagai pemain yang dapat dikatakan baru di pasar persaingan Indonesia, pada tahun 2018 yang hanya berada pada ranking ke-4 pada E-commerce, yang hanya memiliki 19% market share, kini menjadi 21%. Total pengunjung Shopee pada kuartal ini yaitu sebanyak 55.964.700. pada kuartal sebelumnya Shopee juga mengalami peningkatan jumlah pengunjung sebanyak 16 juta.

Lonjakan ini terus berlangsung hingga menggeser Toko pesaing lainnya pada tahun 2019. Lonjakan ini disebut berkat keberhasilan Shopee memaksimalkan periode sale seperti kampanye 11.11 dan 12.12.

Gambar 1.1 Peta E-Commerce di Indonesia tahun 2020Sumber : https://iprice.co.id/insights/mapofecommerce/, 27/7/2020

Laporan di atas menyebutkan pengunjung bulanan Shopee pada kuartal ini sebesar 93,440.300 dan Shopee menjadi ranking #1 dalam AppStore dan PlayStore. Lalu jumlah pengikut twitter Shopee mencapai 320.800, Instagram 4,851.200, dan Facebook 17,841,400.

Selain itu, Shopee juga unggul dari Lazada di Asia Tenggara secara keseluruhan. Baik dalam jumlah kunjungan ataupun angka unduhan aplikasi. Sepanjang tahun 2019, Shopee mencatakan total kunjungan sebanyak 2 miliar.  

Keunggulan Shopee sebagai pemain baru dan masih muda adalah dengan berani melakukan kampanye besar-besaran melalui media sosial maupun televisi untuk mendongkrak penjualan, dengan banyak diskon-diskon, transaksi pembayaran yang dapat dilakukan secara online maupun offline, bahkan memberikan layanan pengiriman gratis bagi pelanggannya yang membeli dalam batas tertentu.

Shopee dalam proses pengiriman barang bekerja sama dengan perusahaan jasa pengiriman barang, yaitu Jalur Nugraha Ekakurir (JNE). Strategi ini jarang digunakan oleh perusahaan lain seperti Bukalapak, Tokopedia dan Lazada.

Pengalaman bersama pelanggan juga menjadi ukuran penting bagi perusahaan Shopee. Shopee menyediakan layanan komunikasi bagi konsumen dan produsen, tujuanya agar terbangun kepercayaan terhadap konsumen tentang barang yang akan dibeli.

Di sisi lain, kelemahan Shopee dalam penjualannya secara online adalah terkadang barang yang telah di beli tidak sesuai dengan gambar yang diiklankan, sehingga tidak jarang pelanggan kecewa karena antara produk yang diiklankan tidak sesuai dengan yang diterima konsumen.

Sementara bagi perusahaan seperti Lazada dan Tokopedia, walaupun tergeser posisinya dalam E-commerce Indonesia, kedua perusahaan ini bagi penulis memiliki keberuntungan lain, karena memiliki kerja sama dengan Alibaba Group sebagai salah satu perusahaan jasa terbesar di Asia.

Alibaba Group bahkan melakukan investasi terhadap perusahaan Tokopedia di Indonesia senilai US$1,1 miliar atau setara Rp 14 triliun. Kerja sama ini tentu akan mempermudah para penjual dan para mitra Tokopedia untuk mengembangkan usahanya ke seluruh daerah Indonesia.

Selain menanam saham di Tokopedia, Alibaba Group juga mengakuisisi 67% saham Lazada yang berbasis di Asia Tenggara.  Akuisisi ini menjadikan Alibaba sebagai pemegang saham mayoritas di enam negara termasuk Indonesia.

Alibaba menggelontorkan US$2 Miliar atau sekitar Rp28 triliun untuk Lazada Group di pasar Asia Tenggara. Pada tahun 2018, Alibaba menambah dana sebesar U$2 miliar sehingga tatol investasi Alibaba mencapai US$4 Miliar di Lazada. Peluang ini tentu menjadikan Tokopedia dan Lazada mampu berkembang dan meningkatkan layanan dan jangkauan pemasarannya di seluruh wilayah Indonesia.

Walaupun sistem pelayanan Tokopedia masih kurang maksimal, terkadang barang yang sudah dipesan, baru memperoleh konfirmasi dari Tokopedia setelah menunggu 2 hingga 3 hari, tidaknya adanya fitur pembatalan pemesanan oleh penjual atau pembeli, dan belum adanya layanan diskon dan batas kadaluwarsa sebuah barang.

Pada pasar lokal Bukalapak juga memainkan peran dalam persaingan pasar online di Indonesia. Bukalapak terus menjalin kerja sama dengan Pemerintah dalam upaya mengembangkan produk UKM di Indonesia, dukungan pemerintah terhadap Bukalapak juga akan memudahkan perusahaan ini dalam mengembangkan penjualan di seluruh Indonesia.

Walaupun hubungan konglomerasi semacam ini berpotensi memunculkan sebuah entitas bisnis yang dilatarbelakangi oleh mekanisme perburuan rente (rent seeking).

Mereka mengembangkan usahanya dan membangun konglomerasi dengan memanfaatkan kontrol jalur-jalur pemasaran yang diberikan pemerintah. Kita mengenalnya dengan istilah kapitalisme semu, yakni berkembangnya kekuatan bisnis dan konglomerasi lebih disebabkan oleh dukungan politik, bukan karena kemampuan entreprenuenrship.

Perbandingan dan persaingan di atas menunjukkan tahun 2020, Shopee berada pada ranking #1 pada E-commerce Indonesia, namun arus perubahan teknologi dan data yang tersebar secara luas yang dapat diakses semua orang memungkin pergeseran ranking pada tahun-tahun selanjutnya.

Oleh karena itu, kemampuan dalam melakukan inovasi, peningkatan kualitas produk dan layanan komunikasi akan menjadi faktor penentu dalam persaingan pasar digital ke depan.