Manusia adalah makhluk sosial. Manusia merupakan makhluk yang perlu melakukan interaksi dengan manusia lainnya dalam pemenuhan kehidupan. Itu berarti semua manusia yang ada di dalam kehidupan ini tentunya memerlukan kehadiran manusia lain. Walaupun kehidupan semakin berkembang pesat yang memudahkan kehidupan manusia modern, manusia selalu memerlukan bantuan orang lain dalam upaya memenuhi kebutuhan hidupnya. Bantuan yang diberikan oleh sesama manusia bisa berupa materi dan immateri. Hal ini berguna untuk semua manusia supaya bisa terus maju dan berkembang.


Manusia tidak pernah berhenti berupaya untuk menjalin komunikasi dan berinteraksi dengan sesamanya. Manusia tidak akan berhenti membutuhkan uluran tangan dari pihak lain dalam upaya pemenuhan kebutuhannya, baik itu pada saat manusia berusaha mengaktualisasikan dirinya, belajar dan memahami tentang diri sendiri, sesama manusia, serta lingkungan sekitarnya.


Aristoteles pernah menegaskan bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri. Manusia harus menerima dirinya dan keberadaan manusia lainnya. Memang salah satu sifat alami manusia jika bisa menjadi rekan bagi sesamanya. Manusia tidak akan berhenti dengan ikhtiar dan kewajibannya supaya mampu menggali potensi diri, hingga bisa tiba pada taraf batas tertentu.

 

Manusia akan selalu mencari tahu mengenai semua hal yang berkaitan dengan dirinya. Kemudian yang terjadi setelahnya yaitu manusia akan berusaha mengoptimalkan diri, membangun karakter diri serta mencari dan menjalin suatu hubungan yang disebut dengan "persahabatan" dengan siapa saja.


Ada pepatah yang menyebutkan bahwa "satu musuh terlalu banyak dan seribu teman terlalu sedikit". Teman adalah sosok yang berada di sekitar kita yang akan selalu siap membantu temannya dalam tumbuh dan berkembang ketika menjalani keseharian hidup. Mengenal dengan baik secara dekat dari seorang teman, membuat kita bisa belajar mengenai bagaimana bersikap dalam membangun suatu relasi. Entah itu relasi hubungan kekasih antar pasangan, relasi orang tua dan anak, relasi antar saudara, serta bagaimana menjalin relasi dan komunikasi dengan sesama kita yang lebih luas lagi. Dalam konteks yang dimaksud di sini adalah persahabatan.


Siapa saja memang bisa menjadi teman, namun pastinya teman baik atau sahabat tidak bisa sembarangan orang yang akan cocok untuk menjadi sahabat sejati. Dengan membangun suatu relasi yang dilandasi pemulihan dan kematangan sikap, maka semakin mempererat jalinan setiap interaksi dan komunikasi.


Sahabat adalah salah satu persembahan terindah yang ada di dalam kesatuan umat manusia. Sahabat bisa menjadi salah satu sosok yang mempunyai peran penting dalam kehidupan. Sahabat akan melalui waktu bersama-sama dengan kita, baik itu dalam berbagi cerita maupun menjalani berbagai peristiwa. Tak jarang sahabat juga adalah sosok yang paling mampu memahami dan mendukung semua keputusan yang akan diambil. Kehadiran sahabat tidak pernah absen pada momen terpenting dalam hidup. Itulah mengapa sahabat menjadi salah satu sosok yang sangat dibutuhkan dan sulit tergantikan.


Sebenarnya filsuf pertama yang memberikan perhatian pada pertemanan adalah Plato. Tetapi Aristoteles yang menulis etika pertemanan secara lengkap. Aristoteles adalah murid Plato yang menulis tentang pertemanan pada bukunya yang berjudul Etika Nikomakea. Bukan tanpa sebab Aristoteles begitu menaruh perhatian besar terhadap pertemanan. Aristoteles menganggap salah satu kebahagiaan yang dapat diraih oleh manusia yaitu melalui pertemanan. Aristoteles menganggap teman merupakan kebutuhan yang paling penting dan vital bahkan jika dibandingkan dengan harta sekalipun.


Mempunyai harta dan kekayaan berlimpah tidak akan ada artinya jika hidup dengan sendirian tanpa ditemani oleh seorang teman. Itulah inti yang ingin disampaikan oleh Aristoteles. Tanpa ditemani oleh teman, manusia nantinya dapat mengalami kesulitan dalam meraih kebahagiaan di dalam hidup. Sebab dengan kehadiran teman atau sahabat, maka beban hidup akan terasa lebih ringan dan mudah untuk diselesaikan.


Aristoteles pernah menggambarkan apabila seluruh umat manusia yang tinggal di bumi memiliki pertemanan yang baik, maka pasti kita sudah tidak membutuhkan hukum lagi. Di kehidupan sehari-hari kita tidak dapat terpisah dari teman. Baik itu dari teman baru, teman lama ataupun teman yang sudah menjadi musuh, musuh yang menjadi teman, hingga teman kerja atau teman yang istimewa.


Aristoteles membagi tiga jenis pertemanan, yaitu pertama pertemanan sebab kegunaan (utility), kedua teman sebab kesenangan (pleasure), dan yang ketiga adalah teman sejati di dalam keutamaan atau yang biasa kita sebut dengan sahabat (virtuous).


Jenis pertemanan pertama sebab kegunaan (utility) adalah penggambaran pertemanan yang didasarkan pada apa yang didapat yang sudah dilakukan oleh dua orang satu sama lain. Ini juga disebut dengan persahabatan "ada perlunya". Misalnya seperti terdapat seseorang yang ingin memberikan minuman supaya ia diberi hadiah tiket konser oleh orang tersebut, orang itu membujuk dengan kata-kata yang baik.


Pertemanan atau persahabatan seperti ini adalah menawarkan keramahan namun diselingi dengan tuntutan. Jenis pertemanan yang satu ini bisa berakhir dengan cepat. Pertemanan itu akan cepat berakhir jika keperluannya terhadap orang lain sudah terpenuhi atau hilang.


Yang kedua yaitu teman sebab kesenangan (pleasure), merupakan tipe pertemanan yang dilandasi oleh nikmatnya kegiatan yang dilakukan bersama dan berusaha dalam mengejar kesenangan dan emosi sesaat. Biasanya orang yang diajak minum bersama namun tidak akan pernah bisa berakhir dengan makan malam bersama. Aristoteles menyatakan jenis pertemanan yang satu ini sebagai pertemanan atau persahabatan para kawula muda.


Dan berulang lagi ini merupakan jenis pertemanan atau persahabatan bertingkat yang kerap kali atau mudah berakhir, sebab orang bisa mengubah apa yang mereka sukai, dan tidak menghubungi teman mereka lalu menghilang dari peredaran secara tiba-tiba.


Tipe persahabatan yang kedua ini orang lain tidak dihargai "di dalam diri mereka sendiri", melainkan sebagai sarana untuk mencapai suatu tujuan tertentu saja. Mereka menginginkan kesenangan dan beberapa manfaat yang mengikutinya.


Sedangkan yang ketiga adalah pertemanan atau persahabatan "sejati", yaitu persahabatan di dalam kebaikan atau persahabatan yang terbaik. Orang pada jenis pertemanan ini akan disukai oleh orang lain dan juga oleh sahabat. Sahabat sejati adalah orang yang bisa mendorong kita untuk menjadi orang yang lebih baik. Mereka akan memberikan motivasi dan kepedulian terhadap sahabat dan diri mereka. Hubungan persahabatan yang satu ini akan jauh lebih stabil daripada dua jenis persahabatan sebelumnya.


Jenis persahabatan sejati sukar diperoleh sebab orang yang dikatakan memiliki karakter sungguh-sungguh baik dan bijak sulit ditemukan. Aristoteles mendorong kita agar kita bisa menelusuri dan mendapatkan jenis persahabatan yang sejati. Aristoteles tidak selalu memandang orang lain jahat karena Aristoteles pernah mendapatkan dua jenis pertemanan sebelumnya.


Bahkan mungkin kita semua juga pernah memilikinya. Kendala sebenarnya yang ada di dalam persahabatan adalah pada saat kita gagal memahami bahwa mereka berasal dari jenis persahabatan yang mana, apakah yang lebih rendah atau yang tidak berupaya untuk menemukan nilai persahabatan yang lebih baik. Bagi Aristoteles pertemanan adalah suatu bentuk hubungan dalam kesetaraan berpikir, serta mampu menikmati waktu bersama-sama hingga membentuk akhir hidup yang bahagia.





Sumber: Aristotle, W. D. Ross, and Lesley Brown. 2009. The Nicomachean ethics. Oxford: Oxford University Press.