Bu Iyem sedang memasak untuk sarapan majikannya, Pak Wardono. Hari itu terlihat cerah sehingga Adi dan Bella bisa bermain dengan riang di taman rumah. Adi merupakan anak dari Bu Iyem, sedangkan Bella merupakan anak dari Pak Wardono. Meskipun berbeda status, Pak Wardono dan Bu Iyem tampak seperti dua orang sahabat saking dekatnya.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Adi dan Bella. Mereka sudah bersahabat sejak balita. Saat Bu Iyem pertama kali menjadi pembantu di rumah Pak Wardono, usia Adi masih 2 tahun. Pak Wardono pun dengan besar hati menerima Bu Iyem sebagai pembantunya dan Adi dikenalkan dengan Bella yang masih berusia 3 tahun.

Pada saat itu, Bella sudah kehilangan ibunya yang meninggal saat dia berusia 1 tahun. Adi pun juga sudah kehilangan bapaknya akibat sebuah kecelakaan saat berusia 8 bulan.

Karena kedekatan Pak Wardono dengan Bu Iyem, Bu Iyem sering menerima gaji dengan jumlah yang tergolong cukup besar.

“Pak, terima kasih, ya,” kata Bu Iyem ketika menerima gajinya pada suatu hari.

“Sama-sama. Gunakan secara bijak, ya,” ucap Pak Wardono.

“Baik, Pak.”

Dengan gaji tersebut, dia ingin manfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari serta untuk biaya pendidikan Adi. Karena merasa berhutang budi dengan ibunya, Adi pun belajar dengan semaksimal mungkin.

Hasilnya, Adi berhasil menyelesaikan pendidikannya di tingkat S1 jurusan manajemen di salah satu kampus ternama.

“Bu, terima kasih, ya. Berkat kerja keras ibu, aku bisa seperti saat ini,” kata Adi sembari bersimpuh di kaki ibunya.

“Iya, Nak. Kamu juga mesti bilang terimakasih ke Pak Wardono. Karena beliaulah, ibu bisa mendapatkan uang untuk menyekolahkan kamu,” ujar ibunya.

Adi pun langsung menemui Pak Wardono.

“Pak, terima kasih, ya. Bapak sudah menggaji ibu saya secara pantas sehingga saya bisa seperti saat ini,” kata Adi.

“Iya, Nak. Ini juga berkat kinerja ibu kamu yang menurut bapak bagus,” ujar Pak Wardono sambil menangis terharu.

Saat hendak membersihkan rumahnya, Bella tak sengaja melihat momen ini dan ikut menangis. Bella juga sudah lulus menjadi sarjana sastra di kampus yang sama dengan Adi.

“Nak, kamu kan sudah sarjana. Jadi, sudah saatnya bapak menyampaikan keinginan ini,” ujar Pak Wardono.

“Apa itu, Pak?”

“Bapak kan punya beberapa bisnis. Nah, karena bapak sudah semakin tua, lama-kelamaan kekuatan bapak semakin menurun sehingga tidak sanggup lagi mengurus semua bisnis tersebut. Karena kamu lulusan manajemen, kamu mau tidak mengurus semua  bisnis bapak?” tanya Pak Wardono. 

Mendengar hal tersebut, Adi merasa sedikit gugup karena dia tahu bahwa semua bisnis Pak Wardono merupakan bisnis kelas besar.

“Pak, mohon maaf. Bukannya saya tidak menghargai keinginan Bapak, tetapi lebih baik saya bisa sukses berkat keringat saya sendiri. Bukan dari pemberian orang lain,” kata Adi dengan bersikap tenang pertanda dia telah mengambil keputusan yang bijak.

“Tapi, saya tidak punya seorang pun yang saya anggap bisa dipercaya selain kamu,” kata Pak Wardono dengan sedikit kecewa.

“Sekali lagi, mohon maaf, Pak.”

Adi pun melangkah keluar dari rumah Pak Wardono.

Mendengar ucapan tersebut, Pak Wardono merasa begitu kecewa.

“Sudahlah, Pak. Dia telah mengambil keputusan terbaiknya,” kata Bella yang berusaha menenangkan ayahnya.

“Bagaimana ayah bisa tenang? kepada  siapa lagi ayah harus menyerahkan seluruh bisnis ini selain Adi?”

“Ya, sudah. Ayah istirahat dulu aja. Siapa tahu nanti ayah bisa mendapatkan sebuah ilham.”

Pak Wardono pun menuruti saran dari anaknya. Dia beristirahat selama empat jam. Setelah terbangun, tiba-tiba dia memanggil Bella.

“Bella, kesini kamu.”

“Ada apa, Yah?”

“Begini. Karena ayah tidak punya pilihan lain, maka lebih baik kamu saja yang meneruskan semua bisnis ayah.”

“Tapi, Yah? Aku kan bukan ahlinya.”

“Sudah, tidak apa-apa. Kamu pasti bisa.”

Sesaat kemudian, Pak Wardono mengalami sekarat. Bella pun berusaha untuk menenangkan ayahnya. Tetapi, ajalnya tidak bisa dia tolak.

“Ayah, jangan tinggalkan aku,” kata Bella yang menangis  karena kehilangan ayahnya.

Setelah itu, Bella pun bertekad untuk mengurus semua bisnis ayahnya semampu yang dia bisa.

Lima tahun setelah dia urus, bisnis-bisnis tersebut masih berjalan dengan lancar karena para bawahannya yang handal di posisinya masing-masing. Di sisi lain, usaha jasa penyaluran asisten rumah tangga milik Adi kian berkembang. Adi membuka jasa penyaluran ART sebagai bentuk balas jasa kepada ibunya yang dulunya juga menjadi asisten rumah tangga.

Namun, setelah berjalan sepuluh tahun, akibat sebuah krisis dan ketidakmampuan Bella dalam membangunnya kembali, semua bisnisnya pun mengalami kebangkrutan. Jika  Pak Wardono masih hidup, kemungkinan beliau akan marah besar kepada Bella.

“Saat Pak Wardono masih memimpin, dia pasti merangkul kita di saat krisis seperti ini dan membimbing kita supaya bisa bangkit lagi. Anaknya justru malah putus asa,” kata seorang mantan pegawai Bella kepada rekannya. Bella tidak marah ketika mendengar ucapan tersebut.

“Benar kamu,” ucap Bella dengan berbesar hati.

Kehidupan Bella pun berubah 180 derajat. Karena bisnisnya gulung tikar, rumahnya yang merupakan warisan Pak Wardono dijual agar dia tetap bisa bertahan hidup. Bella pun bisa bertahan hingga sepuluh tahun tanpa satu pekerjaan pun.

Setelah sepuluh tahun lamanya, hidupnya lebih banyak dihabiskan di jalanan karena dia terusir dari rumah kontrakannya. Bella bingung harus kemana lagi dia harus mencari uang. Hingga dia menemukan suatu lowongan pekerjaan yang membutuhkan asisten rumah tangga. Dia pun segera datang ke tempat penyaluran ART yang membuka lowongan tersebut.

Bella kaget sekaligus heran dengan seorang pria yang sedang sibuk mengurus administrasi para calon ART.

“Adi, ini kamu yang punya?”

“Iya. Ini usaha milikku.”

“Wah, selamat ya. Kamu sudah sukses.”

“Terima kasih, ya. Ngomong-ngomong, kenapa kamu bisa bernasib seperti ini?” tanya Adi yang heran melihat penampilan Bella yang jauh berubah.

“Usahaku bangkrut, Di. Aku tidak bisa bangun kembali saat krisis terjadi,” kata Bella sembari menangis.

Mendengar hal tersebut, memori Adi pun mengembara ke masa lalu. Tepatnya ketika dia menerima tawaran dari Pak Wardono untuk meneruskan bisnisnya.

“Bel, maafkan aku. Aku tidak seharusnya menolak tawaran dari bapakmu,” kata Adi sembari menangis.

“Tidak apa-apa, Di. Semua sudah terjadi.”

Saat tangisannya sudah mereda, Adi mengucapkan sesuatu yang tidak disangka oleh Bella.

“Sebagai tanda maafku, bagaimana kalau kamu saya salurkan menjadi ART di salah satu keluarga konglomerat? Gajinya lebih tinggi dari UMR, loh.”

“Boleh, Di. Terima kasih banyak, ya.”

Semenjak itu, kehidupan Bella pun kembali membaik berkat penghasilan yang diterimanya. Dari berbagai pengalamannya, dia belajar bahwa roda kehidupan bisa terus berputar yang bahkan bisa meruntuhkan kekayaannya dulu. Kesabaran dan keikhlasan menjadi kuncinya untuk bisa kembali bangkit.