Sore masih sangat muda saat aku dengan tukang ojek online menembus kemacetan kota Yogyakarta menuju stasiun Lempuyangan. Hari ini aku ditugaskan oleh kantor tempatku bekerja untuk menyelesaikan problem internal cabang di daerah Kota Bandung. Sangat mengesalkan sebab aku harus kembali lagi ke kota tersebut, kota dengan cerita yang belum selesai juga pesan-pesan yang tidak pernah tersampaikan.

“Di sini saja pak…” aku coba menghentikan ojek yang aku tumpangi agar berhenti sedikit lebih jauh dari pintu gerbang, sebab aku punya kebiasaan suka berjalan dalam keramaian Stasiun.

“ini pak terima kasih ya” sembari memberi helm dan sejumlah uang sesuai permintaan pembayaran yang tertera dilayar gawaiku.

Stasiun masih sama, banyak orang yang berlalu-lalang dengan pikiran mereka masing-masing. Ada sekumpulan pemuda membawa tas gunung dengan mata dan raut wajah yang berbinar membayangkan tempat-tempat baru di balik gerbong-gerbong kereta itu. Ada juga keluarga yang melepaskan anaknya dengan haru, berharap kepergian itu dapat menghadirkan cita-cita mereka. Kemudian ada pula sepasang kekasih yang melepas rindu, barang kali sudah dua lebaran mereka tidak bertemu, terlihat dari cara mereka berpelukan dan itu tidak sehat untuk kulihat. Lalu ada juga yang sendirian seperti aku, sibuk dengan pikirannya sendiri, yang itu aku tak berani membaca apa yang ia pikirkan. Semoga dia bahagia lepas dari perjalanannya.

Aku duduk di ruang tunggu sambil membuka botol minuman yang aku beli di luar tadi sebelum masuk kedalam stasiun, di stasiun harga barang selalu lebih mahal sepertinya pagar stasiun semacam batas dimensi untuk dunia luar. Bukan terlalu perhitungan, anggap sajalah aku sedang ikut serta dalam mengembangkan UMKM dan ekonomi kerakyatan.

Peron itu sudah dipenuhi oleh orang-orang, ada yang membawa koper, membawa kardus dan beberapa sisir buah pisang, dan juga pasti ada yang bawa kerinduan atau patah hati sekalipun bersama manusia-manusia tersebut. Kereta yang penuh rasa.

Aku berjalan menuju lokomotif yang merayap dan mendengus di tubuh bumi itu, masuk ke dalamnya dengan salam yang paling hangat, berharap perjalanan ini tidak disertai perasaan-perasaan sentimentil dan semacamnya. Aku duduk persis di sebelah jendela dan tepat di depanku seorang ibu dengan kedua anaknya yang masih kecil, satu gadis kecil lucu yang masih berjalan dengan sempoyongan di atas kaki-kaki yang mungil dan anak lelaki yang sepertinya sudah pandai menerbangkan layangan.

“Mau kemana nak?” tanya ibu itu setelah aku begitu antusias memperhatikan tingkah lucu malaikat kecilnya. “Mau ke Bandung bu” jawabku gugup, aku tak biasa ditanya dalam lamunanan ku seperti itu.

“sampeyan mau?” dengan bersamaan sebungkus roti yang mengulur dari tangannya sedang tangan satunya sibuk memegangi gadis kecil yang melompat-lompat bahagia.

Aku ragu menolak tapi sepertinya ini hanya basa-basi barang tentu sebagai bentuk tindakan persahabatan selama diperjalanan. Lebih dari itu aku memang tidak berniat mengunyah apapun saat ini, kalaupun aku mau roti itu tidak akan cukup untuk kami dan kedua anaknya. Demi apapun, malah ingin aku memberi kedua anak itu tapi yang kupunya hanya setengah botol minuman sudah kuteguk di stasiun tadi dan beberapa batang rokok dalam bungkus yang ada di saku bajuku. Tak mungkin aku tawari gadis kecil itu sebatang rokok, gila saja.

“Terima Kasih bu, saya barusan makan tadi” aku menolak dengan cara yang halus agar usaha penawarannya tidak berakhir sia-sia, setidaknya aku menunjukkan gelagat hendak berkawan selama perjalanan, minimal tidak menunjukkan kalau aku ingin mengganggunya dan kedua anaknya.

Kereta mulai bergerak maju perlahan-lahan, di luar jendela terlihat gerimis mulai turun dan kota mulai basah dengan orang-orang yang bersyukur di dalamnya, pasti ada juga yang mengutuk tapi itu tidak penting.

Aku menutup mata setelah berkali-kali gagal mencoba fokus untuk membaca buku yang kubawa sebagai rekan diperjalanan. Ada yang kuresahkan pikiranku terus berkecamuk, di ujung rel kereta ini ada seseorang yang sangat tidak ingin aku temui tapi juga sangat aku rindukan.

Sekar seorang gadis yang bekerja di kota Bandung, tidak ada yang spesial dengannya selain tubuhnya mungil terlihat lucu, juga tipis bibirnya yang begitu manis, selain itu juga kenangan yang mengikut bersamanya. Sial sekali. 6 tahun bersama ternyata tidak menjamin apapun, kami mesti menyelesaikannya dengan paksa juga tabah 3 tahun yang lalu sebelum aku menetap di kota Jogja sebagai wartawan pada salah satu surat kabar harian.

Aku tidak terlalu memusingkan hal ini, toh juga tidak mungkin dari sekian juta manusia di Bandung dan diantara mereka yang kutemui adalah dia. Tapi tidak begitu, Lidya teman akrab kami sewaktu masih bersama dulu ingin bertemu denganku. Aku emang akrab dengannya, bahkan ia yang mati-matian menabahkanku setelah akhir kisah yang asu itu. Ia begitu baik, sekali dua aku pernah terjatuh dalam pelukannya, dan ia dengan tabah mengusap punggung badanku berharap dengan begitu aku sedikit tenang padahal saat itu ia sedang bertunangan.

Tidak ingin mengulang luka yang sama sebelum semua berjalan aneh dan terlalu jauh, maka kuputuskan untuk meninggalkan kota itu beserta serakkan kenang yang terbang bersama mereka. tapi setelah 3 tahun berlalu sepertinya pusaran arus ini harus kembali dibuka, mungkin bakal sakit tapi setidaknya aku bisa tau sudah sejauh mana aku pergi meninggalkan semua kisah itu. Sial aku begitu senitimentil jadinya, perjalanan sialan.

Di luar hujan deras sekali, air mengalir membuat pola yang unik di kaca sebelah ku, dan hari mulai gelap sehingga bias cahaya kota akibat pola air itu sangat indah ku pandang. Selamat malam tubuh rapuh yang berlagak kuat.

***

“Penumpang yang terhormat, sesaat lagi kereta akan berhenti di stasiun kota Bandung” suara pengumuman yang keluar dari pengeras suara di sudut gerbong kereta.

Satu-satunya hal yang paling kukesalkan saat naik kereta adalah AC-nya terlalu dingin, sangat tidak nyaman. Barang tentu bisa nyaman sekalian alat modus bagi mereka yang berperjalanan dengan berpasang-pasangan. Tapi tidak denganku, selain suara pengumuman itu angin AC brengsek ini juga ikut serta mengganggu tidurku. Baiklah aku sudah sampai di Kota Bandung.

Stasiun kota Bandung sebagai pemberhentian terakhir kereta yang kutumpangi, bisalah benda itu istirahat setelah melaju selama belasan jam sebelum besok harus dipaksa berangkat kembali. Semua orang yang tersisa bergegas keluar, dan ibu beserta kedua anak di depanku sudah lama tidak ada, sudah pasti dia turun di Stasiun sebelumnya ketika aku tertidur.

Deg… jantungku sedikit terasa hangat. Aku melihat sebungkus roti yang utuh di sampingku, yaaa tepat sekali di samping aku tidur. Deg… bukan hanya sebungkus roti, bersamaan roti itu terselip kertas stickynote. Ragu aku membacanya tapi kembali deg…

“Nak, silakan dimakan yah, kamu terlihat sedang tidak baik-baik saja” tulisan ibu itu berpesan agar aku memakan roti yang ditinggalkannya.

Kenapa hidup yang bajingan seperti ini masih saja ada manusia-manusia berhati malaikat seperti ini mampir kepadaku, apa Tuhan sebaik itu? bukankah aku hanya merayunya jika aku sedang butuh, bahkan lebih sering aku tidak menyapa-Nya sama sekali sebab aku malu kepada-Nya. Tuhan yang baik, kali ini aku ingin berdoa kepada-Mu, Tuhan tolong sertai kebahagian kepada ibu dengan kedua anaknya dan siapapun yang berbaik hati di atas muka bumi ini. Aamiin.

Aku berjalan sedikit menghindar dari keramaian stasiun, Bandung masih gelap barangkali sekarang sudah pagi dini hari, Bandung sedikit lembab dan dingin terlihat bekas percumbuan antara air hujan dan tanah yang basah. Tidak terlalu ramai aktivitas sebab memang waktunya orang-orang beristirahat, mensyukuri waktu malam dengan cara yang paling sunyi dengan cara yang paling sederhana dan cara yang paling ikhlas.

Saya segera memesan ojek online menuju kamar hotel yang sudah disediakan perusahaan selama aku di sini, tapi ojek online sulit tersedia jam segini. Akhirnya aku putuskan naik taksi saja. Menuju jalan Karapitan lalu menikung ke jalan Emong, hotel itu tidak terlalu besar tapi cukup mewah. Buru-buru aku menuju kamar, menghidupkan lampu lalu merebahkan tubuh di kasur yang begitu empuk. Lelah sekali perjalanan kali ini.

Belum begitu nyenyak aku menghilangkan kesadaran seketika gawaiku bergetar, telpon masuk sepagi ini, sial.

“heem halo” sahutku kepada orang di seberang sana, jam menunjukan pukul 4 pagi lewat sedikit.

“Kamu sudah sampai…” suara di itu begitu antusias, suara gadis yang sepertinya kukenal, Lidya menelpon sepagi ini, astaga.

“kamu sudah punya tempat istirahatkan? Besok jangan lupa ya awas kalau kamu terlambat datang” ocehnya tanpa memberiku kesempatan menjawab satu persatu.

“iya jam 5 sore”

“ih kok jam 5 sih, jam 4 sore yah”

“baiklah jam 4 sore”

“selamat istirahat, sampai ketemu nanti”

Sambungan telpon kumatikan dan memasang alarm pukul 8 pagi, sebab pagi ini aku harus observasi anak perusahaan dan menemui pengelola cabangnya siang nanti.