***

Langkah sepatuku memecah genangan air di trotoar jalan, Bandung sore ini gerimis tipis setipis ingatanku pada senyumannya, Sekar. Aku melirik arlojiku sudah pukul 4 sore lewat beberapa menit. Bukan, tapi hampir pukul 5. Aku pasti akan disambut dengan wajah cemberut oleh Lidya. Itu dia “Warung Kopi Purnama” tidak jauh dari kawasan Jalan Braga, warung kopi dengan nuansa Tionghoa klasik konon sebagai warung kopi tertua di Bandung. Tidak begitu luas seperti Caffe-Caffe yang lain, dengan begitu aku melihat kejujuran warung kopi ini. Benar, warung kopi ini menawarkan kesederhanaan dengan cara yang paling jujur, dan aku sesaat lagi akan menjadi bagian dari atmosfer bangunan itu.

Aku merapikan sedikit pakaianku akibat gerimis yang menjengkelkan ini, bukan karena aku berharap aneh-aneh atas pertemuanku dengan Lidya, tapi setidaknya mengurangi pengaruh kekesalannya atas keterlambatan dan kecerobohanku. Sesaat aku memasuki bangunan tua tersebut, mudah saja aku menemui gadis dengan rambut lurus sedikit bergelombang sepunggung menggunakan blazer biru muda terlihat sangat pas di tubuhnya. Jelas saja tanpa senyum, tanpa salam hangat. Aku mencoba menggeser kursi di depan mejanya, duduk tanpa melihatnya sebab aku sangat gugup. Sesekali kulirik ia masih terlihat kesal tapi cukup lucu, matanya seperti dulu, aku yakin ada semesta di dalam matanya dan ingin aku menyelam selamanya di sana. Selalu menenangkan walau dalam keadaan jengkel seperti itu.

            “Kamu masih sama seperti dulu” ungkapnya memecah kegugupanku.

Aku tidak langsung menjawabnya, aku melambaikan tangan ke pelayan untuk memesan dan membiarkan ia mengulum kata-katanya sejenak. Pelayan datang dengan buku menu ditangannya.

            “Cappucinonya satu, roti bakar dan pisang goreng…” aku berbicara kepada pelayan itu.

            “kamu mau pesan lagi?” kalimat pertamaku menanyakan kepada Lidya setelah aku lihat Lemon Tea di hadapannya tinggal setengah.

            “Cappucinonya satu lagi” ia memesan menu yang sama denganku.

            “Cappucinonya yang satu sedikit lebih manis ya” aku meminta kepada pelayan itu sebelum pamit membawa pesanan kami.

            “Bukannya kamu tidak suka rasa manis?”

            “suka kok, buktinya aku suka melihat mba itu, cukup manis”

            “bukan itu, maksudku Cappucinonya” raut mukanya semakin menggemaskan ketika terlihat kesal.

            “iya, tapi aku tau kamu suka manis”

Ia sedikit tersenyum lalu diam, obrolan seketika hening. Setelah aku menyadari ketololanku perihal adegan manis-manis itu. Aku mengeluarkan bungkus rokokku di saku baju berharap kegugupan ini tertutupi. Belum lagi rokok itu kubuka apa lagi tersulut, seketika sudah berpindah pada tangannya.

            “berani merokok di depanku?” matanya melotot sambil meletakan kembali bungkus rokok itu di atas meja.

Sontak aku jauh lebih terkejut, goblok kenapa aku tidak ingat kalau dia orang yang paling keras melarangku merokok saat kuliah dulu walau aku sering beralasan untuk pikiranku lebih tenang. Dulu ia sering mengatakan bahwa dia yang akan menenangkanku dan memaksaku berhenti menyulut dan menghisap kretek itu. Tapi tetap saja aku belum bisa berhenti sepenuhnya sampai sekarang.

            “Kamu masih sering merokok?” tambahnya atas pertanyaan pertama lebih terdengar seperti ancaman yang jelas tidak akan aku jawab.

            “sesekali saja”

            “itu sudah jujur?” wanita ini emang banyak tanya.

            “iya begitu, sebenarnya lebih sering dari itu”

            “kamu belum bisa mengendalikan dirimu?”

Pertanyaan lagi, sial aku bertemu bukan ingin diinterview. Bukan hanya itu, tapi pertanyaan terakhir harusnya tidak perlu kujawab, tidak perlu ada yang peduli juga, bahkan dirinya. Aku cuma bertingkah bodoh dengan mengelus tengkuk belakangku, jelas itu akan lebih terlihat bodoh olehnya. Kenapa aku gugup berhadapan dengannya.

            “ternyata kamu juga bisa gugup ya”

            “emang aku manusia apaan tidak pernah merasakan gugup”

            Ya abisnya dulu waktu kuliah kamukan jagoan, berdiri di jalanan depan orang banyak sambil menenteng toa dan menyumpah serapahi aparat di belakangmu”

            “itu dulu, sekarang beda… lagian kamu lebih menyeramkan dibanding ribuan orang dan barisan aparat pengaman”

Ya ampun, kenapa aku berbicara begitu, tololku sepertinya sudah masuk dalam tingkat akut, pasti ini akan membuatnya tidak nyaman.

            “sepertinya negara perlu rekrut aku untuk mengamankan aksi demonstrasi”

            “yaaa, aku pikir juga begitu”

Kembali hening, sibuk dengan kekakuan masing, ia coba perbaiki kacamata yang duduk manis di hidung mungilnya. Aku memperhatikannya cukup lama, sampai pelayan datang menghantarkan pesanan kami. Datang dengan nampan berisi 2 gelas Cappucino hangat dan cemilan yang kupesan.

            “ini yang lebih manis” pelayan itu mengingatkan agar tidak tertukar, tapi ia menaruh gelas cappuccino manis itu di depanku, terbalik.

Aku coba mendekatkan gelas Cappucino pesanannya tapi dengan saat yang bersamaan ia juga melakukan yang sama. “Ting” gelas itu terbentur semacam orang sedang merayakan kemenangan dengan segelas anggur. Kami tertawa kecil, menertawakan kebodohan sendiri, setidaknya aku bisa menduga dia juga sedang gugup. Di luar sudah mulai gelap, lembab dan jalan yang mulai padat. Gerimis tipis mulai menderu bartambah banyak dan menahan kami terus dalam suasana kegugupan. Sialan.

Aku mengaduk minumanku, menyesapnya sesekali dan melihat jauh keluar, ke jendela yang dibasahi oleh hujan, tidak jelas hanya remang-remang cahaya temaram. Walau begitu sedikit menenangkan, lebih terasa hangat meski kali ini aku sedang bersama kekasih orang. Ia tertawa kecil, entah apa yang sedang ia pikirkan.

            “apa yang lucu?”

            “tak mengapa, aku teringat ketika kau mesti melompati pagar dan harus kehilangan sebelah sepatumu karena menerobos kumpulan manusia hanya untuk menjemputku yang terjebak di tengah demonstrasi”

            “oh itu, saat itu aku merasa bagai pahlawan”

            “yeee, belagu banget” ledeknya atas guyonanku yang menjijikan itu.

            “iya pahlawan, hanya sebatas untuk dikenang” kelakarku lagi menambahkan ketololan diri.

            “hahaha… tapi emang pada saat itu kamu keren banget, ya walau saat demonstrasi yang kamu gandeng selalu Sekar”

            Aku hanya tersenyum tipis sebab tidak ingin terus membicarakan masa itu, orang itu, dan segala kenangan yang mengikutinya. Sejauh yang kuketahui, wanita itu sudah menikah setahun yang lalu dengan pengusaha restoran di kota ini. Aku jadi ingat perkataan seorang kawan saat berkuliah dulu, “Kau boleh gagah di jalanan, berdiri di depan ribuan massa, menenteng toa menyumpah serapahi barisan aparat di belakangmu. Tapi kau tak berdaya di sudut ruangan, menangis sepanjang malam, mengemis cinta kepada Tuhan.” Jelas ngawur, otak dan mulutnya sudah lama tidak bersahabat.

            “Sekar sudah punya anak perempuan loh, gemes banget baru pinter berdiri”

            “pasti sangat lucu…” balasku sekenanya saja.

            “lalu kamu kapan?” tanyaku untuk menghindari obrolan yang menyangkut tentang Sekar.

            “heeem, ada deh, doain aja yang terbaik” aku melihat rona wajahnya berubah, sedikit mengulum perasaan yang sengaja ia simpan. Sepertinya aku salah bertanya.

            “bagaimana pekerjaanmu?” ia coba merubah topik pembicaraan yang sempat tersesat itu.

            “ya begitulah, tidak ada yang bagus untuk diceritakan”

            “masih menulis?”

            “tidak terlalu, hanya menulis artikel lepas saja…” tidak ada yang bisa aku ceritakan kesiapapun, betapa aku butuhnya menuliskan pikiranku yang brengsek ini hanya untuk sekadar terlelap malam.

            “ibu sehatkan?” tanyaku kepadanya menghentikan topik pekerjaan dan aktivitas terlemahku.

            “Alhamdulillah sehat, masih sering ke pasar sendiri beli bahan dapur. Padahal aku udah bilang biar beli online saja lebih praktis…”

            “aku jadi ingat kamu tuh sering banget datang ke rumah sekadar nemeni ibu ke pasar dan ngabisin masakannya”

            “iya apa lagi akhir bulan”

            “kamu juga sering banget ngeliat album foto di rumah, aku pikir itu kurang ajar tapi entah kenapa ibu antusias sekali memamerkan hal yang memalukan itu”

            “hahaha…” aku tertawa cukup keras, sebab ingatanku ikut terbang bersama ceritanya.

            “ih apaan sih, ga ada yang lucu”

            “lucu dong, apa lagi lihat fotomu sewaktu kecil, pakai kerudung putih dan mata yang sedikit berlinang”

            “eeh, gara-gara kamu minta foto itu dipajang, malah terpampang muka kecilku yang habis nangis itu di ruang tamu”

            “itu salah satu alasanku sering bertamu”

            “seneng banget yaah ngeledek” ungkapnya kesal. Padahal aku tidak meledek, aku jujur. Aku candu melihat matanya yang setengah basah dan berdiri di sudut ruangan. Hal itu membuatku merasakan indahnya menjadi seorang anak yang diperhatikan.

            “ga mau ketemu ibu?” tanya Lidya memecah lamunanku perihal foto kecilnya.

Aku tidak segera menjawabnya, aku sangat menghormati wanita yang mungkin sudah lebih paruh baya itu. Ia sangat baik sekali waktu aku berkuliah di Bandung, menganggap aku seperti anaknya sendiri mungkin aku selalu bisa diandalkan menjaga Lidya ketika di luar. Tapi semenjak aku meninggalkan Bandung aku tidak pernah lagi berkabar dengannya, berpamitan saja tidak.

            “mungkin belum Lid, semoga di lain waktu”

            “baiklah”

Dia menyesap Cappucinonya terlihat masih membekas meninggalkan jejak yang mengotori pinggir bibirnya. Karena aku perhatikan ia buru-buru mengambil tisu dan membersihkan bibirnya dengan malu. Aku mencoba mengalihkan pandangan ke sudut ruangan, di sana ada satu pot bunga matahari, indah sekali mekar dengan tangguh menantang hidup melawan kehendak.

            “dasar kuaci” aku tersentak mendengar ucapannya, kenapa kuaci? Melihat kebingunganku ia langsung menimpali.

            “kan kamu suka banget dengan bunga matahari, halaman indekosmu saja dulu dipenuhi dengan tanaman bunga matahari, sampai aku pernah dimarahi karena tidak sengaja memetik bungamu”

            “tidak sengaja gimana, emang tangan kamu aja yang nakal”

            “ya ga nakal-nakal banget sih, Cuma pengen kasih ke kamu aja biar keliatan seperti di TV-TV itu”

Aku cuma terdiam, tidak tau harus menjawab apa lagi, aku bingung selanjutnya harus apa, ini sangat tidak nyaman. Kenapa dia mesti berpikir seperti itu dulu, apa yang sebenarnya ia rasakan. Apakah ia merasakan hal sama dengan apa yang pernah aku rsasakan, tapi mungkinkah begitu? Ahhh. Jangankan perasaannya, perasaaanku saja aku gagal memahami. Barang tentu ia berkata demikian hanya sebagai penghibur keadaanku.

Di luar sudah mulai reda, hujan berhenti hanya meninggalkan hawa dingin dan beberapa genangan air. Aku melihat arlojiku, sekarang pukul 7 kurang, sudah lebih 2 jam kami di sini. Sebelum aku mengangkat pandangan dari arlojiku, saat itu di belakang Lidya sudah berdiri seorang pria dengan kemeja biru dan potongan rambut yang klimis tersenyum kepadaku lalu menepuk pundak Lidya dengan lembut.

            “Sekar, mari kita pulang sayang. Kamu hanya berdiam saja dari tadi”

Deg… wanita yang di hadapanku ia panggil Sekar, haaa Sekar. Wanita itu yang bersamaku duduk selama ini, bukan Lidya. Tidak mungkin aku kira ini mimpi, tapi wajahnya seketika berubah, lengkung bibirnya sangat aku kenal, itu benar Sekar tepat dihadapanku dengan seorang pria yang sepertinya adalah suaminya. Deg…Sesaat aku tersadar dengan kecamuk pikiranku yang aneh itu, dua orang yang di hadapanku tadi sudah tidak lagi ada, mereka pergi, benar-benar pergi, tanpa pamit. Hanya meninggalkan berjuta tanya di kepalaku.

Aku beranjak dari kursi menuju pintu keluar, tidak ada siapa-siapa, tidak kutemukan mereka di luar. Aku langsung menuju kasir yang tidak jauh dari pintu masuk, pasti kasir itu melihat mereka keluar dari warung kopi ini. Sambil terengah aku coba menyusun kata untuk bertanya kepada penjaga kasir itu.

            “mba ada lihat dua orang yang baru keluar dari sini?” tanyaku sangat panik.

            “tidak ada yang baru keluar dari sini mas” deg… jatungku memompa darah semakin kencang, tapi tubuhku malah terasa sangat berat, aku merasa menciut diantara wajah-wajah pengunjung warung kopi malam ini. Belum puas dengan jawabannya aku kembali bertanya.

            “seorang gadis yang duduk dengan saya di meja itu mba” tanganku mengarah ke meja yang kududuki dengan Lidya tadi, eh bukan tapi Sekar, ahhh siapapun itu. Tapi air muka kasir itu sedikit berubah, dahinya mengkerut, aku pikir dia merasa heran, tapi kenapa heran bukankah pertanyaanku jelas.

            “maaf mas, sejak tadi mas hanya terdiam sendiri di meja itu, tanpa seorang gadis hanya menatap kosong ke arah luar”

Deg… kepalaku mulai sakit, lelucon seperti apa ini. Aku sudah ngobrol banyak dengan Lidya yang kemudian berubah menjadi Sekar tapi nyatanya aku hanya merenung, sendirian tanpa siapapun. Bajingan, ada apa denganku? Aku segera membayar ke kasir lalu keluar dan menjauh dari warung kopi itu, menghentikan taksi menuju kamar hotel dengan pikiran yang kalut, tanpa mengucapkan apapun aku terlalu sibuk dengan lelucon hari ini.

Sampai di kamar hotel aku melihat sebungkus roti yang diberi seorang ibu di kereta tadi malam, aku buka dan memakan beberapa keping. Aku mengeluarkan rokok di saku bajuku, membuka, menaruhnya di sela bibir, menyulutnya dan menghembuskan asap berharap bersama dengan itu ikut terbang pikiran-pikiranku yang kalut. Aku terduduk di kursi menekan remote TV untuk melupakan sejenak kejadian yang sangat aneh tadi. Suara TV mulai mengisi ruangan, terdengar seorang reporter mengabarkan sebuah berita di seberang sana. Tapi jantungku kembali berdegup, deg… apa lagi ini.

            “saat ini saya sedang berada tepat di sebelah gerbong Kereta yang menuju Bandung dini hari tadi tergelincir di Tasikmalaya, keadaan gerbong terlihat sangat mengenaskan karena terguling cukup jauh dari rel”

Itu kereta yang ku tumpangi, tidak sampai ke Bandung tapi berhenti karena kecelakaan di Tasikmalaya, malam tadi aku di dalam kereta itu. Aku bingung sekali, ada apa ini, kereta itu tidak sampai ke Bandung. Ahh kepalaku semakin sakit, sakit sekali seperti sedang tertusuk-tusuk jarum, pandanganku mulai gelap, hening tanpa suara, terasa perih sekali, semua sudah gelap hanya terdengar suara tangis orang-orang menyesali segala arogansinya. Aku terbaring di kursi kereta itu, darah sudah mendesak keluar tanpa instruksi terasa asin mengisi ruang mulutku. Dalam pikiranku yang belum selesai, terlintas wajah Lidya dengan retina matanya yang begitu indah, lalu Sekar dengan tipis bibirnya yang manis, gadis kecil berkerudung putih bermata basah berdiri di sudut ruangan, seorang ibu yang tabah memasak untuk orang yang tak kunjung datang.  Sumpah ini terasa begitu menyakitkan.

Deg… dengan sayup aku melihat roti itu, roti yang diberikan oleh ibu baik hati dengan kedua malaikat kecilnya lengkap serta stickynote yang lucu, terbaca olehku dengan segala kemampuan yang tersisa.

            “Sudahi kesakitanmu nak”

Aku kaget setengah mati, memang sepertinya aku juga akan mati, semua orang menjerit menangis mengampun ke pada Tuhan. Aku juga demikian, hanya saja aku bersyukur kepada Tuhan dan tersenyum dengan darah di sela-sela bibirku sambil berkata lirih.

            “Terima kasih Tuhan doaku telah dikabulkan, ibu itu sudah turun…” semuanya gelap, benar-benar gelap.

“Jika tak kutemukan kau dalam ruang realitas. Maka akan aku jemput kau dalam khayalan, menari bersama lalu mati dengan kesunyian”

***