1 minggu lalu · 196 view · 3 menit baca · Budaya 37148_25913.jpg
Pixabay

Pernikahan dan Sebuah Pengakuan

Pernikahan sebuah momen yang sakral bagi sepasang kekasih. Di mana mereka disatukan lalu saling berucap janji meresmikan ikatan perkawinan secara norma agama, norma hukum, norma adat, dan norma sosial.

Di Indonesia, upacara penikahan sudah diatur sedemikian rupa oleh adat serta budaya yang mengikat, agar kesakralan sebuah pernikahan tidak hilang. Dan diharapkan kedua mempelai mampu mempertahankan pernikahan mereka hingga maut memisahkan.

Menurut wikipedia, budaya merupakan suatu cara hidup atau kebiasaan yang berkembang, dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia.

Masing-masing daerah memiliki budaya upacara pernikahannya sendiri. Seperti, upacara pernikahan budaya Jawa akan berbeda dengan upacara pernikahan budaya Minang; lalu ada upacara pernikahan budaya Batak, Bali, dan masih banyak lagi.

Harus kita akui, pada saat ini, semua orang berpacu untuk memenuhi standar yang diciptakan oleh sosial, termasuk dalam hal pernikahan. Budaya untuk mendapatkan sebuah pengakuan sudah tertanam di benak masyarakat. 

Jika melangsungkan acara pernikahan dengan mewah dan meriah, maka tentu akan diakui keberadaan, kekayaan, serta kedudukannya di dalam suatu lingkungan sosial.

Para orang tua sengaja membuat mewah pernikahan yang digelarkan untuk anaknya demi memperlihatkan betapa ber-uangnya dia, agar status sosialnya selalu menjadi buah bibir dan disanjung oleh orang yang hadir ataupun yang mendengar.

Banyak pasangan kekasih ingin menikah, namun terkendala oleh berbagai macam tuntutan, baik tuntutan dari pihak keluarga maupun tuntutan yang muncul dari dalam diri calon mempelai sendiri. Semua tak lepas dari keinginan agar mendapatkan sebuah pengakuan.

Tidak lama ini, seorang beauty vlogger Suhay Salim mematahkan semua anggapan bahwa upacara pernikahan itu ribet serta membutuhkan budget yang banyak. Ia melangsungkan pernikahan dengan menggunakan celana jins dan baju biasa saat menikah dengan sang pujaan hatinya di Kantor Urusan Agama (KUA). Ia memang berniat menikah tanpa menggelar pesta meriah.

"Kalau hal yang harusnya bisa simpel harus jadi ribet cuma karena tuntutan masyarakat, gue akan menentang habis-habisan," ujar Suhay Salim.

Pernikahan Suhay menambah daftar orang yang menerapkan konsep pernikahan kasual. Di Amerika Serikat, konsep pernikahan tersebut diminati kalangan milenial. Situs panduan acara pernikahan The Knot sempat melakukan penelitian yang menunjukkan adanya tren peningkatan nikah kasual sejak tahun 2016.

Dalam kehidupan beragama, pernikahan juga diatur dengan sedemikian rupa. Bagi yang beragama Islam, dalam pernikahan, harus ada calon istri, calon suami, wali nikah, dua orang saksi, serta ijab dan kabul. Jika kelima poin tersebut terpenuhi, maka sudah bisa dilangsungkan sebuah pernikahan (Pasal 14 Kompilasi Hukum Islam)

Agama sudah mengatur semuanya dengan indah, bukan? Terkadang manusia suka menciptakan luka bagi dirinya sendiri. Hal yang seharusnya mudah dan indah, menjadi susah dan lelah.

Daripada setiap kali ditanya kapan nikah, lalu memberi jawaban klise berkaitan dengan keuangan, kenapa nggak menikah seacara sederhana saja? Lagi pula menikah itu persoalan sah, yang, kalaupun perlu selamatan, cukup yang sesuai dengan kemampuan finansial sekarang.

Menikah itu tak perlu mewah, yang penting berkah. Tak jarang karena terlalu sibuk mempersiapkan acara resepsi mewah, lupa dengan keberkahan dari pernikahan. Menikah dengan bermewah-mewahan hanya akan menambah beban pikiran bagi pasangan mempelai maupun keluarga.

Bukan hanya ketika mempersiapkan pernikahan, setelah resepsi pernikahan pun akan dipusingkan oleh biaya yang belum terselesaikan. Bagi seorang crazy rich sekelas Jusup Maruta dan kalangan selebritis lainnya, tentu ini tidak menjadi masalah.

Namun beda halnya dengan kalangan menengah ke bawah, memaksakan agar apa yang tidak ada, diada-adakan. Simpanan yang seharusnya bisa digunakan untuk menunjang kebutuhan rumah tangga, habis begitu saja. Sekali lagi, ini demi sebuah pengakuan dalam sosial.

Katakanlah jika yang hadir dalam resepsi pernikahan memberi amplop berisi uang, kado, dan lain sebagainya, namun itu belum tentu balik modal atau berbanding lurus dengan jumlah biaya yang dikeluarkan.

Pernikahan itu sah-sah saja untuk dirayakan, dengan mengundang banyak sanak keluarga, tetangga, rekan-rekan lainnya. Tetapi kita harus tahu tujuan dari perayaan tersebut.

Kita harus paham sebab dan akibatnya, jangan karena kebiasaan saja. Perayaan pernikahan bertujuan untuk memberi tahu orang lain bahwa kedua mempelai sudah resmi menikah sesuai aturan negara serta sah secara agama.

Kemewahan tidak dapat menjadi patokan kelanggengan kehidupan dalam rumah tangga. Akan terasa percuma kalau nikahannya sudah mewah, tetapi ujung-ujungannya malah berpisah.

Maka jangan sampai niat menikah dengan bermegah-megahan itu hanya untuk memanjakan hawa nafsu; dan jangan sampai merayakan pernikahan yang mewah hanya untuk mendapat sanjungan dari manusia.

Jangan takut dibilang pernikahanmu tidak berkelas hanya karena digelar sederhana; karena indahnya pernikahan itu tidak tergantung kepada seberapa besar kamu menyelenggarakan resepsi pernikahan, tetapi seberapa besar niatmu memutuskan untuk saling mencintai dengan jalur yang telah ditetapkan dalam pernikahan, serta menjaga janji pernikahan yang harus dipertanggungjawabkan.

Percayalah, sebenarnya pernikahan berkelas itu di mana ketika kita mampu menyederhanakannya dengan ilmu, cinta, dan kasih sayang.