Memiliki pasangan hidup tanpa punya beban cinta masa lalu itu idaman semua orang. Karena kita akan menjadi cinta pertama yang tidak harus menanggung rasa cemburu dan rasa ingin tahu terhadap kisah cinta pasangan sebelum memutuskan untuk melabuhkan hati kepada kita.

Pastinya akan ada perbandingan antara kita dengan sang mantan, ada kisah-kisah romantis yang mereka jalani, ada pula janji-janji yang mungkin masih menjadi utang yang tidak akan bisa terbayar. Membayangkan saja, hati kita sudah patah berkeping-keping. 

Siapa yang bisa memilih masa lalu dari seseorang yang akan bersanding dengan kita? Sedangkan kita pun mungkin punya kekurangan yang sama dan sulit diterima pasangan. Ketika memutuskan untuk saling menerima, maka masa lalu harusnya bukanlah momok yang harus kita takuti.

Nah, ada beberapa hal yang bisa mengurangi kebaperan kita atas masa lalu pasangan:

1. Jujur

Terbuka dan jujur merupakan poin dasar seseorang untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Agar bisa saling mengenal dengan baik, hendaknya kita bagi cerita masa lalu dengan pasangan. 

Kalaupun ada rasa cemburu bukanlah menjadi hal yang sulit diatasi karena hubungan baru biasanya masih memiliki cinta masih berbunga dan hangat hangatnya. Jika suatu saat ada cerita datang terbawa burung yang terbang, maka kita tidak akan kaget lagi. 

Mengetahui pasangan jujur itu melegakan meskipun awalnya sakit.

2. Menyelesaikan cinta sebelumnya yang belum selesai

Khusus poin ini, aku mengalaminya. Meskipun di awal sudah dijelaskan oleh suami tentang cinta masa lalunya yang berakhir mengambang, namun hal ini sangat mengganggu. 

Suami ada salah komunikasi dengan mantan kekasihnya. Mereka berpisah karena jarak, tidak pernah ada kata putus meskipun waktu itu komunikasi mereka terputus. Lima belas tahun yang lalu jarak masih menjadi sebuah masalah, belum ada alat komunikasi canggih seperti sekarang. Mau kirim surat lupa alamatnya. 

Jadi, karena merasa tidak ada kepastian dari hubungan mereka, ceweknya menikah dengan kawan suamiku. Cewek itu mengira tidak ada kabar berita dari tempat merantau kekasih hati, menandakan sudah tak ada lagi cinta. 

Memang tidak ada yang salah, kecuali miskomunikasi. Lalu mereka bertemu kembali lewat media sosial beberapa tahun belakangan. Keluarga kami berhubungan baik meskipun hubungan mereka belum diakhiri secara resmi. 

Meskipun terlihat baik-baik saja, namun masing-masing dari kami, yakni mereka berdua, aku dan suami cewek itu pasti ada semacam kerikil dalam hati. Mungkin karena memang belum pernah bertemu lagi setelah perpisahan yang cukup lama ini, maka belum ada putusan selesai dari mereka. 

Meskipun bisa dilakukan melalui media komunikasi lain, tetap saja pertemuan langsung akan lebih bisa menyampaikan pesan yang ingin diberikan. Bukan kesengajaan bila sampai begitu lama berpisah dan tidak kembali, melainkan karena keadaan yang belum membawa mereka bertemu. 

Nah, untuk yang mau memulai hidup baru dalam pernikahan, sangat dianjurkan menyelesaikan urusan yang harus selesai biar nggak ada ganjalan di kemudian hari

3. Saling menerima dan memaafkan

Perjalanan sebelum bertemu jodoh itu cukup panjang. Kita akan banyak bertemu orang, mengalami banyak keadaan, dan jatuh cinta kepada siapa saja. Begitu juga dengan yang dialami pasangan kita. 

Kita tidak akan tahu rahasia Allah siapa jodoh kita akhirnya. Yang harus kita jaga adalah diri kita masing-masing agar tidak menyesal ketika bertemu dengan jodoh yang Allah kirim untuk kita nantinya. 

Mereka yang memutuskan untuk menahan perasaan dan tidak menjalin hubungan (pacaran) akan sangat bersyukur karena tidak perlu menjelaskan hal-hal yang bisa saja menyakiti hati pasangam kita. 

Maka, menerima dan memaafkan masa lalu pasangan sangat penting untuk kesehatan hubungan selanjutnya. Apalagi ada konsep jodoh yang mengatakan bahwa jodoh kita itu cerminan siapa diri kita. Artinya, ketika kita memaafkan pasangan, maka sama saja kita memaafkan diri kita sendiri.

4. Menjaga komitmen dengan sepenuh hati

Setelah hati berlabuh dan terikat dengan ijab qobul, maka komitmen sudah tertambat, masa lalu ditinggalkan saja biar tidak jadi beban. Bukan berarti menjalin pertemanan tidak dibolehkan, boleh-boleh saja asal komitmen pernikahan dipegang kuat. 

Selama kita menyadari pernikahan adalah rumah yang dihadiahkan Allah untuk kita jaga dengan sepenuh hati, maka urusan masa lalu bukanlah hal yang akan menjadi penghalang untuk melangkah.

5. Menjadikan pernikahan adalah sebuah ibadah 

Ketika kita akan beribadah, maka kita akan memenuhi rukun dan syarat sahnya, tidak serampangan juga tidak sembarangan. Apalagi beribadahnya barengan dengan pasangan yang kita cintai, maka akan bisa lebih khusuk dan nikmat. 

Salah satu syarat ibadah adalah berserah dan ikhlas, dengan memohon pertolongan Allah, maka akan lebih menjaga hati kita dari godaan yang datang termasuk godaan mantan.

Semua pasangan ingin menjadi pasangan yang berbahagia sampai maut memisahkan melalui suka duka dalam rumah tangga. Bukan suatu hal yang mudah memang, melihat akan banyak sekali masalah hang dihadapi. Beberapa point di atas semoga saja bisa membantu meredam rintangan yang datang menemui kita.

Khusus poin nomor 2, masalah yang berhubungan dengan orang lain memang tidak bisa diselesaikan sendiri melainkan harus diselesaikan bersama-sama. Bisa jadi dengan dibukanya pembicaraan itu sama dengan membuka lagi cerita lama. Akan hadir kembali hati-hati yang sudah lama sembunyi. 

Perlu kebesaran hati semua pihak untuk menghadapinya. Hadapi dan selesaikan agar hati benar-benar selesai dengan urusan masa lalunya.