Banyak pasangan memasuki dunia pernikahan dengan berbagai harapan indah penuh kebahagiaan. Memang sudah sepantasnya seperti itu. Karena memiliki suatu barang bukanlah suatu hal yang sangat sulit.

Benda tidak memiliki daya tolak selama kita memenuhi syarat untuk memperolehnya. Tetapi memiliki seseorang yang saling mencintai itu suatu berkah tak ternilai.

Sebuah kutipan manis dari Fahd Pahdepie: "Maka, bagiku, mencintaimu adalah berhenti mengandaikan semua hal baik yang tak ada dalam dirimu sekaligus memaafkan semua hal buruk yang ada dalam dirimu."

Kutipan di atas adalah salah satu contoh penguat hati untuk bergandengan tangan melangkah bersama menyatukan dua diri menjadi satu. Karena pernikahan tidak menjamin kamu akan selalu berbunga-bunga dibuat oleh cinta. Kenyataan tidak juga semanis gula-gula yang menenangkan.

Pernikahan tidak ubahnya tahap lain dari kehidulan sebelumnya. Sarat masalah dengan segala pilihan penyelesaian. Banyak konflik dengan diri sendiri dan lingkungan. 

Ada juga kesusahan hati yang sering tiba-tiba datang. Atau akan kita temui harapan kosong yang memilukan. Kita akan menemui dengan bentuk berbeda. 

Adanya pasangan bisa meringankan masalah yang akan kita hadapi, tetapi bisa juga justru dialah sumber masalah itu. Perbedaan karakter adalah masalah awal yang bakalan membuat kita pusing. Namun satu sisi, itulah pintu perkenalan kita dengan orang asing yang kini menjadi bagian dari hidup kita.

Masalah kedua adalah soal perbedaan selera makan dan selera hidup. Apalagi pasangan berasal dari dua budaya yang berlainan. Suami suka makanan pedas, istri sebaliknya, misalnya. Masing-masing pasangan akan mencari rumus penyelesaian masing-masing.

Ketiga adalah soal keuangan. Kebutuhan setelah menikah akan jauh berbeda dengan saat hidup sendiri. Apalagi sudah memiliki anak. Maka pasangan harus mempunyai disiplin dan manajemen agar bisa tercukupi semua kebutuhan. Masalah ini juga sangat rawan konflik antara suami dan istri. 

Selanjutnya adalah masalah dengan keluarga besar. Intervensi pihak keluarga kedua belah pihak yang terlalu banyak akan mengganggu keseimbangan keluarga yang baru dibangun.

Poin-poin tadi merupakan catatan awal yang akan dihadapi pasangan suami-istri. Seberapa kuat komitmen dan komunikasi yang baik akan menjadi titian untuk keluar dari masalah dengan selamat.

Hendaknya pasangan suami-istri memang menjadi satu menghadapi persoalan yang muncul dalam dunia pernikahan mereka. Namun pasti ada masanya mereka berdiri di sisi yang berlawanan. 

Suami istri berselisih untuk berbagai hal. Dengan menjaga keseimbangan, misalnga salah satu marah, maka satu pihak diam. Satu menjadi api, satu lagi menjadi air. 

Selama masalah bukan berasal dari pihak ketiga, atau masalah dibawa ke ruang publik, akan ada faktor pendamai yang bekerja lebih baik. Ada cinta yang merekatkan kembali yang lekang. 

Namun sering kita tak tahan dengan konflik dalam rumah hingga menceritakan ke pihak lain. Padahal solusi dari masalah-masalah keluarga itu ada dalam rumah itu sendiri. Selama tidak ada kekerasan dalam rumah tangga.

Sebetulnya konflik yang dihadapi setiap pasangan itu bisa dimaknai sebagai ujian. Jika lulus melewatinya, maka kelas keharmonisan akan naik. Makin erat ikatannya seperti di-recharge untuk menghadapi ujian-ujian selanjutnya.

Pada awal pernikahan, bapak memberi nasihat, bahwa indahnya berumah tangga akan terasa di awal saja, selanjutnya akan banyak masalah yang datang. Maka beliau memberi bekal kata sabar dan nrimo sak pawehe (menerima seberapa pun pemberian suami). Nasihat tersebut banyak betulnya.

Di awal nikah, saya mesti belajar masak sesuai selera suami dan berusaha menyesuaikan lidah daripada harus memasak dobel. Kebiasaan begadang sampai malam suami tidak serta-merta hilang, sedangkan saya sangat suka tidur. Sering saya ketiduran saat kami ngobrol sampai larut. Itu sebuah contoh kecil perbedaan dalam keluarga.

Tetapi kami sepakat, semua konflik yang terjadi, meskipun sering kali sama-sama sedih, bukanlah sebuah masalah. Selama tidak ada orang ketiga di antara kami. Itu hanyalah sebuah proses yang mungkin juga dihadapi oleh pasangan lain. 

Kita juga akan menghadapi masalah, mungkin dalam bentuk lain, seumpama kami bukan pasangan suami istri. Jadi, konflik itu seperti benda dan bayang-bayangnya.

Namun akhir-akhir ini banyak sekali pasangan yang saling melepaskan komitmen pernikahan, dengan alasan pihak ketiga. Tidak selalu laki-laki yang berulah, perempuan juga berpeluang besar untuk menyakiti pasangan, bahkan dalam keadaan sudah ada anak-anak. Seolah-olah keadaan ini adalah penyakit menular. Lama-lama kesalahan ini dianggap lumrah dan termaafkan.

Maka ketika ada keluarga yang kuat, hendaknya juga bisa menjadi kebaikan yang menular. Memberikan pengaruh positif dalam masyarakat yang makin rentan dengan penyakit perpisahan keluarga. Ada kampanye penguatan keluarga dalam media sosial karena saat ini hampir semua orang menjadikan medsos sebagai bagian dari kehidupan.

Memang pernikahan bukan sekadar menikmati bunga-bunga dan gula-gula kehidupan. Namun pernikahan juga bukan ladang masalah yang membuat pasangan harus lari meninggalkan komitmen. 

Pernikahan hanya tahap kehidupan yang harus dilalui dengan semua konsekuensi beserta jalan keluarnya. Maka kuatlah menjalaninya dan berbahagialah mengarunginya.