Tak selalu pernikahan akan dipuja-puja. Masih ada perempuan yang ketakutan untuk menikah. Kenapa? Karena pernikahan tidak menjanjikan memberi tempat aman dan nyaman bagi si perempuan. Ikatan sah malah menjadi belenggu penuh kengerian.

Salah satu faktanya, sebelum menikah, perempuan sudah tahu mengenai hukum agama yang membolehkan poligami (boleh beristri maksimal 4 dengan syarat dan ketentuan berlaku).

Tidak bermaksud menyudutkan hukum tersebut, setidaknya perempuan sudah ketakutan terlebih dahulu dengan adanya pembolehan laki-laki beristri lebih dari satu. Tanpa mengkaji lebih dalam, laki-laki tidak mau tahu dan langsung mengamini dan menggunakan dalil-dalil agama sebagai "senjata" untuk memuaskan egonya.

Hukum tersebut memberi kemenangan satu langkah dibanding perempuan. Karena perempuan pasti dikecam habis-habisan jika bersuami lebih dari satu. Tentu saja, itu tak selazim laki-laki yang beristri lebih dari satu.

Apakah ada seorang perempuan yang rela berbagi suami dengan perempuan lain?

Sayangnya, tidak semua perempuan punya mental sekuat baja untuk dipoligami. Untuk berbagi suami, perlu "peperangan" luar biasa dalam batin seorang perempuan. Tidak ada kebahagiaan dalam kondisi keterpaksaan atau tidak ada pilihan lain istilahnya.

Dalil "asal bisa berlaku adil" biasanya yang membuat laki-laki ingin menambah istri. Adil yang seperti apa? Jika perkara harta bisa dihitung sama rata, lalu perkara perasaan siapa yang tahu? Tidak ada kategori "adil" dalam hal perasaan yang tak kasat mata.

Baca Juga: Jangan Menikah!

Yang membuat ketakutan perempuan yang belum menikah adalah tidak ada tanda-tanda penunjuk apakah laki-laki itu akan berpoligami atau tidak. Siapa tahu, laki-laki yang "katanya" akan membahagiakan lahir dan batin justru berbalik arah tidak sesuai tujuan awal? Kan, tidak ada yang tahu?

Jadi, dapat diasumsikan bahwa menikah adalah ajang coba-coba atau "terjun bebas" dari sebagian perempuan (mungkin sebagian perempuan yang lain benar-benar yakin dengan pilihannya). Dia tidak tahu akan selamat atau mati di tengah-tengahnya. Bisa dikatakan modal nekat, sih.

Banyak perempuan yang menikah dengan modal nekat karena faktor dan tekanan lain. Hingga di pertengahan jalan terjadi hal yang menyudutkannya, tapi dia tidak bisa berkutik selain bertahan di pernikahannya.

Misalnya, bertahan dalam rumah tangga demi masa depan anak-anaknya. Niatnya ingin bahagia, eh malah berujung derita. Sungguh, ini akan menjadi konflik batin yang luar biasa bagi perempuan (istri).

Memang, tidak ada pernikahan yang berjalan mulus bagai jalan tol. Setidaknya, jangan ada perasaan tersudutkan atau penyesalan telah memutuskan menikah dari kedua belah pihak.

Pernikahan Bukan Ajang "Menjual" Tubuh Berkedok Ikatan Sah

Apakah namanya jika bukan "menjual" tubuh ketika seorang laki-laki hanya melihat fisik saja untuk menikahi perempuan? Jangan naif, kita sudah dewasa! Sebagai orang yang telah cukup umur untuk menikah, faktor seksual sangat berpengaruh. Lagi-lagi, perempuan kembali berada satu langkah di belakang laki-laki.

Tubuh perempuan menjadi salah satu perhitungan laki-laki untuk menikahinya. Misalnya, ada pertanyaan dari calon suaminya, "Kamu masih perawan?" Di sini, kata perawan tertuju pada rusaknya bagian tubuh perempuan (selaput dara) karena suatu hal (berhubungan seks, jatuh, dan sebagainya).

Pertanyaan macam apa itu? Seolah laki-laki menikahi perempuan hanya berstandarkan tubuhnya. Belum tentu perempuan yang rusak selaput daranya karena berhubungan seks; bisa jadi dia pernah jatuh atau kecelakaan; kan, tidak ada yang tahu?

Seandainya dia sudah "tidak perawan", berbagai pikiran negatif pasti berkecamuk di pihak laki-laki. Jika dijelaskan pun, belum tentu akan percaya. Dan, berujung gagal menikah karena perkara "keperawanan". Sebaliknya, perempuan "perawan" yang menerima pinangan laki-laki itu sama saja mengamini bahwa tubuhnya menjadi standar pernikahannya.

Tidak mudah menjadi perempuan. Sebab, tidak bisa berbalik tanya kepada laki-laki, "Apakah kamu masih perjaka?" Itu pertanyaan sama tidak bergunanya. Karena jawaban "iya" dan "tidak" sama-sama tidak ada buktinya, "tidak berbekas", beda dengan perempuan.

Lain hal, perempuan yang sudah menikah pasti terbebani pikirannya untuk menjaga tubuh tetap ideal. Kenapa? Supaya suaminya tidak tergoda kepada perempuan lain (atau malah ingin tambah istri). Sementara laki-laki, ya biasa-biasa saja. Tidak tertekan harus menjaga tubuh agar istrinya tak tergoda laki-laki lain. Warbiyasah.

Pernikahan seperti sebuah "transaksi". Istri sebagai "produk" yang harus selalu menyenangkan suaminya dan membuatnya membayar dengan "kebahagiaan lahir dan batin". Apalagi yang diinginkan si istri kalau bukan kebahagiaan lahir dan batin? Tidak ada.

Seorang suami yang menjadi tiang keluarga bertanggung jawab penuh atas semua kebutuhan istri. Keadaan istri yang tidak bisa apa-apa selain mengandalkan suaminya makin menguntungkan si suami karena efek ketergantungan itu. Suami yang baik tidak akan berfantasi jauh-jauh. Tapi, suami yang jahat akan memanfaatkan kesempatan ini untuk "menindas" istrinya.

Sebuah transaksi biasanya akan menyoalkan untung dan rugi. Pernikahan berubah menjadi penuh "perhitungan". Jika suami merasa rugi telah berupaya keras dalam rumah tangganya, muncullah "orang baru". Ini yang paling ditakutkan si istri. Untuk apa hidup dalam ketakutan?

Kasus lain, janda dan duda dipandang berbeda. Perempuan yang sudah pernah menikah memiliki stigma "barang bekas". Sedangkan duda dianggap wajar-wajar saja. Apalagi kalau bukan perkara "tubuh".

Sebenarnya, posisinya sama saja, sama-sama sudah pernah menikah. Janda dan duda pun harusnya punya label yang sama; tidak hanya perempuan saja yang punya citra buruk begitu. Tapi, faktanya memang demikian.

Jangan terburu-buru menikah kalau belum siap mental. Kenapa? Karena dalam berumah tangga wajib ada dua orang yang saling menjaga. Kata saling dapat dianalogikan seperti dua kaki yang harus melangkah. Tidak akan bisa maju jika hanya satu kaki saja.

Jika Anda memutuskan menikah, berarti harus siap dengan segala ketidakpastian yang tetiba muncul. Pernikahan bukan sesuatu yang bisa digenggam dengan pasti. Dan, harus mempersiapkan diri dengan segala konsekuensinya dan kemungkinan terburuk. Karena kemungkinan baik dan buruk porsinya selalu sama.

Dengan demikian, jangan terlalu memusingkan perihal tubuh, apalagi untuk menarik perhatian laki-laki. Jika laki-laki itu berhasil tertarik karena perihal fisik, maka bukan tidak mungkin dia juga akan tertarik kepada perempuan lain suatu saat nanti. Ingat, di atas langit masih ada langit!

Easy come, easy go (yang mudah datang, mudah pula untuk pergi).