Travelling identik melelahkan. Bumbu-bumbu keluhan, makian, helaan napas dalam-dalam, atau bahkan mabuk perjalanan adalah racikan bumbu yang membuat perjalanan makin "menggigit" dan tak terlupakan. Bukankah begitu?

Nah, sama halnya perjalanan hidup seorang anak manusia. Tidak selamanya berjalan sesuai impian awal. Selalu ada saja "bawang merah" yang memedihkan mata. "Kukira hari ini akan panas cerah, tapi aku kehujanan di jalan!" Ya, seorang anak manusia tidak bisa menolak "hujan" bahkan "badai" yang tetiba menghampiri di perjalanan hidupnya.

Siapa saja tak bisa menolak apa yang terjadi dalam hidupnya, tapi bisa menentukan sikap seperti apa untuk menanggapi peristiwa tersebut. Siapa saja tiada yang sempurna dalam hidup ini, tapi bisa memilih merasa sempurna dan tak membandingkan diri dengan orang lain.

Kalimat di atas adalah motivasi pribadiku. Tapi apa? Menyetir diri dalam "travelling" hidup tak semudah merangkaikan kata menjadi tulisan. Ya, seorang penulis pun sering kehilangan kata-kata ketika harus mengambil tindakan dalam hidupnya. Tiada lain sebuah kebingungan yang muncul.

Semua petuah diri yang "sok hebat" ini nyatanya sirna tak berbekas. Kenapa? Karena penulis hanyalah manusia biasa. Sama-sama makan nasi dan minum air putih. Juga, tak mampu mencegah motivasi-motivasi agar tetap sesuai tata letak fungsinya.

Jadi, apakah penulis "berkamuflase" dengan tulisannya? Atau, malah tulisannya dijadikan "topeng diri"?

Jawabannya: bisa iya; bisa tidak. Ketidakmampuan menjangkau sesuatu membuat si penulis mengimajinasikan "sesuatu" itu terlalu dalam. Hingga, terlihat seperti "kamuflase" atau "topeng diri".

Baca Juga: Hening

Tapi, kejujuran penulis untuk mencurahkan keadaan diri melalui kata-kata adalah suatu hiburan nyata. Meskipun dia sering kehilangan petunjuk "kata-kata" untuk bertindak seperti kelaziman umum.

Misalnya, penulis yang galau dan memilih menulis bertemakan "ketegaran"; dia berkamuflase dengan maksud 'andai dia bisa setegar itu saat ini (ketika dihantam masalah hidup)'. Namun di sisi lain, tulisannya adalah bentuk hiburan dan "bentuk semoga" agar bisa tegar.

Tapi, siapa sangka jika sebuah kegalauan tentang hidup menjadi "racikan" yang nikmat untuk dituliskan? Pengalaman-pengalaman tiap orang pasti unik, hanya saja ada yang ingin membagikan (dalam bentuk tulisan) dan ada yang memendamnya sendiri.

Oleh karenanya, mari, berbagi keunikan hidup supaya memberikan motivasi untuk yang lain dan sebagai upaya saling menguatkan!

Permata yang Indah "Haram" untuk Manja!

Baiklah, tulisan ini boleh dilabeli sebagai bentuk "kamuflase/penyamaran" atau bukan. Boleh-boleh saja, sebab sudut pandang tiap orang berbeda-beda.

Kehidupan terdesain sangat keras. Bahkan batu karang pun tiada apa-apanya. Ingin menyerah? Wajar. Berjalan saja tanpa tanya apa-apa kepada Tuhan. Jika lelah, beristirahatlah sejenak. Lalu, melanjutkan perjalanan kembali. Simpel, bukan?

Kenyataan pasti tak sesimpel yang kutuliskan di sini. Akan ada proses jatuh bangun terseok-seok. Dan, itu wajar. Semua orang pasti akan mendapat bagian akan hal ini. Mungkin waktunya yang berbeda.

Jangan manja! Tuhan tidak pernah menciptakan makhluknya untuk bermanja-manja. Sedangkan sebuah benda saja harus diperlakukan untuk menjadi serbaguna. Apalagi seorang manusia yang bernyawa.

Permata yang indah dibentuk dari proses yang menyakitkan. Digosok dan diasah sedemikian rupa hingga berkilau indah bin mahal. Sesakit itulah anak manusia yang tertatih demi menjadi "permata".

Manusia menjadi permata dalam kehidupan tentu tak bisa diukur dengan nominal uang. Justru, makin "mahal" seorang manusia, makin berguna untuk orang lain. Bukan ingin disembah-sembah.

Bentuk kesadaran akan nikmatnya ujian ("digosok" seperti permata) tidak datang selaras keterkejutan itu hadir. Menyerah adalah pesona tersendiri yang siap menjerat si calon permata. Yakin mau menyerah?

Dicoba saja dahulu. Berjalan pelan-pelan sampai lelah, hingga kelelahan itu yang akan meninggalkanmu. Rawatlah baik-baik tiap luka yang mendera saat jatuh di perjalanan, hingga luka itu sembuh sendiri.

Aku sedang diproses oleh Tuhan untuk menjadi permata yang suatu saat akan berkilau indah. Bukan, bukan untuk kujual diriku sendiri dengan harga mahal atau perihal nominal. Tapi, untuk memfungsikan diri bagi orang lain yang membutuhkan. Itulah arti "kemahalan" yang sebenarnya.

Perjalanan panjang dan tertatih dalam hidupku persis yang dialami si permata; diolah oleh pengrajinnya. Pengrajinku adalah Pencipta hidup ini. Jadi, jangan manja ketika sakit luar biasa mendera dalam kehidupan. Wajar-wajar saja, kok.

Semua orang memiliki prosesnya sendiri-sendiri; kesakitan masing-masing. Pun menjadi permata versi diri sendiri yang justru membedakan dengan orang lain. Itulah sebabnya dunia ini gemerlap penuh warna, karena penduduknya adalah "permata" yang diolah Pencipta sedemikian rupa.

Wahai pembaca, kita sama-sama permata yang sedang berproses menemukan kilau masing-masing. Sebenarnya, aku tidak tahu apa-apa maksud rintangan hidup. Yang kulakukan hanya mengeluh, mengeluh, dan mengeluh.

Sampai pada titik aku kelelahan dan keluhanku tak berubah wujud ibu peri. Akhirnya, aku memutuskan untuk mengumpulkan segudang motivasi diri untuk terjun ke belantara hidup. Ya, aku pasti menjadi permata yang indah suatu saat nanti.

Kesimpulannya, permata yang indah haram hukumnya untuk manja!