Ayun apan, I
 
ditegak-dirikan tiang-tiang pondasi oleh tetuha
di usia yang tak seumur rahasia kami dibesarkan
kurus menjulang kekayu ulin di bubungan lantai
hasil bertarung pada letih dan harimau jadi-jadian
sekeping papan api tanah tahura lahirnya muasal
tanah kami bak sepetak kebun kecil parahiyangan
kami beri tali di kedua sisi, mengayun seisi udara
 
//ayun apan, pang ayun apan
hanyut saludang bawa badiri
ayunakan, dang ayunakan
babuku nyanyi awak nang bujang
bawa banyanyi bariang-riang..//
 
Cungkarampit, II
 
dalam tubuh sungai yang sunyi,
di lembah hutan yang kedap kami bersembunyi
mencari celah terkecil di sela suara buak beringin
mengantar diri; menyeterui puisi yang dibacakan
menghitung jumlah tawa yang dikerah-beri kecapi
gilirannya bertugas mencari,
giliran kita tak tahu ke mana mesti rela berbagi
 
 
Ampar-ampar pisang, III
 
bukan rentang tangan yang harus menengadah
akan tetapi  kaki kita yang semakna meminta
pada pemilik nama, suara, bumi, ; dunia!
seorang anak menghitung dengan ketukan birama
di baris akhir nyanyi yang henti,
lipat kakimu selipat kakiku di kaki-kaki cuaca
pisangku balum masak,
masak sabigi dihurung bari-bari
 
Lenggang-lenggok, IV
 
kami telah dibesarkan  dari keteraturan rahim arus
tak diperdengarkan gelisah pusara mesin perahu
akar-akar nipah menjadi dayung berpulang hilir
 
mengayuh arah berlawan di sore yang paling sayu
melenggang pelan perahu olahan kami ke tengah
kuat benturan diterpa hingga purna di dasar karam
berceritalah pada kelembutan hakikat air, karena
dijadikannya masa kecil terulas dalam urat bakau
 
Bahahagaan, V
 
menghadang laju si utuh yang piawai berlompat
garis demi waktu, waktu demi garis dihantarkan
atau ia memang tak diajarkan rasa lelah bermain?
seorang kawan lain mengeluhkan, sebab karena
ia yang tak usai-usainya berjaga di gegurat-garis
sepulang itu membumbung sebuah tanya besar:
mengapa ia tidak menghadang seekor babi,
yang senantiasa meronta-ronta minta
dimakani di dalam diri?
 
Baajakan, VI
 
tenggelam dalam semak, menyatu lumbung rumput
tiada yang pernah tahu bahwa denyut napas tercegah
haram menginjak ranting, menimbulkan bekas bunyi
karena persembunyian kita,
adalah alam di mana kita ditidurkan oleh gelang dayak
 
dalam igauan kita masih saja kerap mencari-cari
berlomba siapa lebih dulu menanam pangkal tumit
menemukan permulaan titik bercerai-pisah sajak ini
beradu ketangkasan berlari selihai kancil lembah
ahli mengendap di balik kata yang belum rampung
 
tetapi kita selalu dapat melepas tawa yang lesat,
meskipun anak kampung sebelah mengadukan
perihal kekalahannya yang kerapkali berulang
pada sesepuh yang terkenal pandai meneluh
 
kemudian kita menonggak tanda lelah,
cung palangan, lamun tagatuk buruk tangan
 
Ciputat, 2015