Seorang anak muda yang terlahir dari sebuah desa kecil di pelosok Negeri. Namanya Muhammad Alif, ia biasa dipanggil dengan nama Alif. Ia dibesarkan pada keluarga yang cukup sederhana, dan ia adalah anak kedua dari 9 bersaudara.

Ia sudah biasa hidup untuk merantau dan belajar menimba ilmu dari tempat yang jauh dari tempatnya. Sejak lulus SD (sekolah dasar) ia melanjutkan pendidikannya di MTSN dan MAN di sebuah kecamatan di daerahnya, yang mana tempat itu jauh dari desa kecilnya.

Sekarang ia sudah melanjutkan pendidikan nya di sebuah perguruan tinggi lintas provinsi. Dewasanya tidak begitu singkat dan juga tidak begitu cepat. Dari MTSN sampai Dibangku kuliah, ia sudah terbiasa untuk mengurusnya sendiri. Berbekal keinginan untuk merubah kehidupan keluarga dan memperjuangkan kedua orangtuanya, ia memberikan diri dan memulai tekat dalam juangnya.

Dewasa yang begitu tidak mudah dijalani, tidak mudah untuk di iringi berbagai tindakan, walau mudah diucapkan dengan sekedar kata-kata lewat bibir saja. Betapa tidak terlalu memperhatikan semua itu, ia seiring berjalannya waktu, seiring terbiasa menghadapi berbagai terpaan kesulitan hidup, bahkan pernah ia ingin menyerah namun bangkit lagi kembali.

Mimpinya sederhana, ia dapat membanggakan kedua orang tua dan semua keluarganya. Ia ingin membuktikan perkataan orang yang pernah mematahkan semangatnya untuk terus belajar dan membentuk karakter dirinya. "Kenapa kamu kuliah? Kamu mau menambah beban orang tuamu yaa!". Menyakitkan memang apa yang dikatakan orang tersebut kepada dirinya, padahal niat dan cara ia berjuang baik dalam hal menyongsong masa depannya. Tapi ia memilih karena itu ia harus membuktikan jalan juang yang ia pilih untuk kehidupannya.

Ini tidak lagi tentang keras dan betapa sakit rasanya putus cinta, tapi semua yang ia lewati lebih dari semua itu. Tidak banyak yang ia inginkan, Tuhan meridhoi jalannya sudah cukup bagi Alif. Manakala berbagai kesulitan itu tidak dapat ia hindari dalam cerita juang hidup di perantauan nya. Kata rindu Ibu, rindu Ayah, rindu kampung halaman tercinta, sudah cukup menyayat-nyayat lubuk hati kecil dan juga terbayang-bayang dalam benak ketika langkah demi langkah kuatnya.

Kalau kau hanya sekedar sakit hati putus cinta, tapi Alif tetap kuat ketika dunia mempercundangi dia. Kau hanya sekedar lapar karena keborosan hidup mu, sedangkan ia memang sudah biasa untuk mengikat pinggangnya sekuat-kuat yang ia bisa. Kau hanya sekedar berjalan-jalan untuk kesenangan mu belaka, tapi ia tidak ia begitu memanfaatkan setiap jalannya harus menjadi cerita bukan jalan yang harus dilupakan berlalu begitu saja.

Liburan tiba masa sekolah nya, ia harus bekerja untuk menafkahi jalan juangnya. Baginya semua harus ia lewati dengan sangat berhati-hati setiap langkah demi langkah walau lemah. Ia tidak pernah takut jikalau ia gagal dalam proses juangnya, tapi ia takut untuk mengecewakan orang yang menunggu datang kepulangannya dengan melihat keberhasilan yang dicita-citakan pada setiap ruangnya.

Dalam benaknya, "andai aku tak berhasil dalam selangkah juang ku ini, aku malu untuk pulang dengan tangan hampa". Betapa ia terpukul jika itu terjadi, ia harus bagaimana dan berbuat apa selanjutnya ia melangkah dengan gontai kaki setiap pijaknya. Mungkin saja.

Keberhasilan yang ia pikirkan dalam benaknya, cukup melihat senyum lebar dibibir kedua orang tuanya dan bahkan jikalau saja kedua orangtuanya nanti berkata, "Nak, aku bangga dengan cerita juang mu". Baginya itu cukup menghapus setiap sulit dalam langkah-langkah juang sendirinya. Bagi Alif hanya itu saja yang ia pinta setelah resah yang dirasa.

Hidup memang begitu singkat, antara 5 waktu (sholat), antara detik berganti menit, menit berganti waktu, waktu berganti siang, siang berganti malam, malam berganti hari, hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun dan antara bernafas dan tidak. Begitulah kehidupan ini, kadang melalaikan kita, kandang pula menjadi motivasi kita untuk tidak melakukan segalanya dengan lalai hingga terbuai dalam sandiwara dunia.

Kita tidak pernah tahu kapan datang dan berakhirnya kita hidup di dunia. Tapi paling tidak, kita sadari semua harus diperjuangkan dengan kesungguhan bukan dengan kesenangan belaka. Dalam lagu Jason Ranti liriknya, "barangkali hidup adalah do'a yang panjang", barangkali dan bisa saja tidak. Tapi setidaknya kita masih berjuang sampai juang kita tidak lagi kita pikirkan akan dapat apa, tapi yakin semua telah di atur Tuhan dalam suratan takdir untuk hambanya.

Untuk mu Alif, selamat berjuang. Dalam juang tak ada kata tidaklah mendapatkan apa-apa. Jalani dengan ikhlas dan berikan yang terbaik, untuk setiap masa-masa bahkan setiap pengalamannya jangan lupa berterimakasih lah pada semua yang telah kau jalani. Dunia memang tempat belajar, baik itu baik dan buruknya.

Kemana nantinya akan berlabuh, pulang rindukan kehangatan yang jarang ia temukan. Rumah yang ia adalah juga penghuni tanpa harus derita yang ia rasa. Kemanakah lagi tujuannya?

selangkah.juang 2021