Alkisah ada seorang anak membaca ramalan zodiak bahwa besok dia akan sial. Karena itulah keesokan harinya dia tidak turut ajakan ibunya untuk pergi bersama sang kakak. Alih-alih menghindari sial di luar rumah, dia malah jadi sial karena tidak keluar rumah. Sang kakak dibelikan baju baru oleh sang ibu, sedangkan sang adik karena menolak ikut jadi tidak dibelikan.

Usut punya usut, dia membaca ramalan zodiak yang sudah tidak update lagi. Ohya pantas saja sudah nggak valid. 

Zodiak dalam ilmu astronomi adalah rasi bintang yang muncul di equator langit sepanjang tahun. Rasi bintang yang muncul selama ini banyak dituliskan berjumlah 12. Namun dalam ilmu astronomi modern didapatkan sebuah fakta menarik bahwa rasi bintang dalam zodiak kini ada 13. Pantas saja beberapa ramalan bintang disinyalir menjadi kurang presisi kevalidannya.

Posisi 12 rasi bintang sebelumnya mirip dengan jumlah bulan dalam setahun sehingga perhitungan pergantiannya pun menjadi pas yakni tiap tengah bulan. Nah, kalau sekarang jadi ada 13 rasi bintang dalam zodiak, gimana dong? Gini nih, perlunya ada pengukuran ulang para ahli perbintangan agar tidak lagi menyesatkan.

Hlah, bukannya percaya pada zodiak sendiri itu sesat? Nah, ini dia perlu kita bedakan. Penggunaan penanda alam terutama bintang telah ada sejak dahulu di berbagai bangsa dunia. Hingga kini pun masih banyak pencarian tentang misteri alam semesta. Namun yang unik adalah ketika penanda fenomena alam ini kemudian dibungkus dalam budaya masyarakat setempat kemudian dicap sebagai mitos.

Contoh hal yang sederhana adalah kebiasaan masyarakat Jawa Kuno ketika bulan purnama untuk berendam. Dalam ilmu astronomi, posisi kesegarisan antara matahari, bumi dan bulan akan menyebabkan adanya kenaikan gelombang air laut secara signifikan. Salah satu fenomena kesegarisan itu adalah bulan purnama.

Dalam serial anime Avatar: the legend of Aang, diceritakan bahwa seorang pengendali air akan memiliki kekuatan berlebih saat bulan purnama. Dia akan dibantu oleh gravitasi bulan untuk mengendalikan aliran darah. Imajinasi ini tampak berlebihan mungkin dalam masyarakat modern kita. Namun dalam Kebudayaan Jawa Kuno, malam purnama memiliki kecenderungan manusia menaikkan emosi karena aliran darah turut naik terkena efek gravitasi bulan. Karenanya “disunahkan” untuk ngadem berendam.

Begitu pula dalam kisah runtuhnya dinasti Qin, dinasti terakhir di China sebelum memasuki masa republik. Awal keruntuhan dimulai dari ramalan beberapa “orang pintar” kala itu yang melihat adanya bintik matahari cukup lebar. Ini adalah siklus yang terjadi pada matahari secara rutin. Sebenarnya, bintik matahari merupakan fenomena harian, namun bintik yang cukup besar terjadi berulang dalam periode yang lama.

Bintik matahari adalah wilayah pada matahari yang lebih dingin daripada area sekitarnya. Jangan dibayangkan bahwa matahari dingin itu membeku lho ya. Kamu masak telor di bintik matahari saja musnah bukan hanya telornya. Tetap panas hanya saja jauh suhunya di bawah area lain yang bukan bintik matahari.

Apabila bintik matahari terjadi terlalu besar maka berpengaruh pada suhu matahari yang sampai ke bumi. Apabila suhu matahari turun 2 derajat saja itu sudah cukup untuk membawa pada iklim sehingga menghasilkan gagal panen. Rentetan dari gagal panen adalah kelaparan dan juga ekonomi goyah. Inilah yang kemudian merembet pada runtuhnya sebuah dinasti di China akibat tidak mempercayai orang pintar itu.

Jadi kembali pada pembahasan zodiak. Sebenarnya ilmu perbintangan ini terbagi menjadi dua yakni astronomi dan astrologi. Ilmu astronomi yang sederhana hanya memperkenalkan tentang fenomena alamnya. Namun ilmu astronomi yang lebih jauh dapat digunakan untuk mengantisipasi permasalahan politik, ekonomi, pertanian dan kesehatan di sebuah wilayah.

Pengetahuan akan ilmu fenomena alam ini penting dalam pengambilan kebijakan. Sebagaimana bisa kita ambil contohnya pada film Red Cliff dimana perdana menteri zao-zao salah dalam mengambil keputusan mengeksekusi dua laksamananya yang memahami tentang arah angin. Ilmu yang terlalu tinggi ini kadang akan memakan waktu lama jika dijelaskan ke masyarakat awam sehingga kemudian dibungkus dalam sebuah karya sastra namun belakangan justru dikenal sebagai “mitos”.

Para orang pintar zaman dahulu ini biasa berada di sekitar para raja sebagai penasehat. Tidak beda dengan staf khusus istana hari ini. Mereka adalah orang-orang yang ahli dalam bidangnya dan bertugas memberi nasehat dalam raja mengambil keputusan. Di antaranya adalah para ahli astronomi yang mampu memberikan pandangan mengenai keputusan dalam bidang pertanian misalnya dalam antisipasi perubahan iklim yang ekstrim.

Namun berbeda dengan astrologi yang merupakan karangan manusia semata. Tanpa adanya riset ilmiah. Seakan sama pembahasannya dengan para ahli astronomi istana. Sehingga pada tataran inilah susah membedakan antara astronomi dan astrologi. Seperti dalam fenomena zodiak yang kurang update ini. Sehingga tidak valid hasil “ramalan”-nya. Hoax dan menyesatkan.

Jadi percaya ramalan boleh dong? Ya boleh banget lah, asalkan memang itu riset yang ilmiah. Ramalan cuaca misalnya atau ramalan hari kelahiran bayi atau kita kenal dengan HPL. Nah, maka dari itu. Ramalan zodiak ini perlu direvisi dulu yakni dengan menambahkan rasi bintang ophiuchus. Terus nanti adakan riset ilmiah apa yang jadi efek dari zodiak yang ada 13 itu pada kehidupan manusia.