Pola berpikir kritis adalah salah satu hal yang perlu ditanamkan ke dalam jiwa siswa-siswa SLTA. Begitu yang saya pikirkan beberapa hari ini. Bagi saya, selaku siswa sebuah Sekolah Menengah Atas merasa jika pola pemikiran murid perlu dibentuk sejak bangku sekolah.

Tujuannya agar anak-anak tidak hanya bisa menguasai berbagai materi serta wawasan yang diajarkan di dalam kelas, tetapi agar bisa mencerna simpang siur informasi di era digital ini. Apalagi, di era yang disebut-sebut sebagai post-truth ini, manusia sulit sekali untuk membedakan mana yang valid dan mana yang bukan. Kalaupun bisa, manusia terlampau malas untuk mencari tahu.

Apalagi, di era penuh keterbukaan ini, manusia harus mulai bergerak, baik fisik maupun pemikirannya perlu untuk melangkah menyambut esok pagi. Masyarakat harus meninggalkan pemikiran yang tertutup (close-minded) dan segera penuh kesigapan untuk memperbarui pemikirannya dengan menerima ide-ide lain dari luar dirinya.

Ada beberapa hal yang menjadi dasar dari pembangunan sikap kritis ini:

  1. Minat Baca Rendah

Menurut UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001%. Minat baca yang begitu rendah di kalangan pelajar maupun masyarakat umum ini tentu saja diakibatkan oleh rendah pula sikap kritis yang tumbuh di dalam diri seorang pelajar. Harusnya, sikap kritis membawa kepada keingintahuan, membuat siswa-siswi betah pula berlama-lama membuka buku di perpustakaan.

Akhir-akhir ini, perpustakaan sekolah yang harusnya menjadi tempat untuk menimba wawasan menjadi terbengkalai. Petugas perpustakaan pun sedikit bermuka masam melihat bagaimana perpustakaan dibiarkan berdebu, buku-buku tersusun rapi dijadikan pondasi sarang laba-laba.

Padahal, perpustakaan sekolah berisi buku-buku yang menarik. Mulai dari novel-novel sastra angkatan lama sampai yang baru, buku-buku sains dan buku sejarah. Tentu saja semua hal itu sangat diperlukan bagi mereka yang haus, yang masih memiliki sejuta pertanyaan di benaknya.

Dengan sikap kritis, pelajar akan menjadi haus akan bacaan. Tidak lagi ada buku-buku berdebu, semua orang akan mempertanyakan kembali pelajaran yang baru didapatnya, kemudian bergegas pergi ke perpustakaan dan mencari sumber referensi lain untuk memenuhi hasrat ingin tahunya.

Menumbuhkan sikap kritis artinya menumbuhkan minat baca, semakin mudah seseorang meyakini apa yang diperolehnya, semakin sulit pula ia akan mencari tahu lebih lanjut. Berpuas diri bukanlah hal yang bagus untuk pembangunan mental dan karakter.

 2. Kondisi Sosial-Politik yang Semrawut

Semrawut atau acak-acakan, begitulah yang tepat untuk mendeskripsikan apa yang terjadi dewasa ini di negeri kita. Menggoreng agama dalam wajan politik, mengkotak-kotakkan manusia sesuai tokoh mana yang ia sukai, hingga wacana mendirikan ideologi baru diatas pancasila.

Semua itu yang menjadi dasar kenapa kita perlu untuk bersikap kritis. Jika masyarakat umum sudah tidak bisa lagi diganggu-gugat atas ideologi dan keinginan membara mereka akan urusan pandangan politik, maka giliran para pelajar yang harus mulai membenahi pemikirannya.

Kita tidak perlu lagi menjadi keyboard warrior dan menyebarkan berita-berita palsu atas dasar emosi dan kepentingan kelompok, kita hanya perlu untuk berpikir jernih. Melalui bola mata kita sendiri, terlihat jelas bagaimana masyarakat cenderung mati-matian membela pihak yang mereka sukai, tak peduli apakah berita yang mereka dapat benar-benar valid atau ngawur.

Untuk menjadi bangsa yang waras secara mental, pikiran jernih diperlukan dalam setiap pengamatan dan penerimaan berita yang datang. Orang-orang yang mudah percaya dengan berita palsu tentu tidak memiliki sikap kritis ini di dalam dirinya, ia gampang untuk digiring dan dikotak-kotakkan demi kepentingan kelompok-kelompok tertentu.

Cukuplah sudah sampai saat ini pertikaian Pandawa-Korawa ini terjadi, dan cukup juga Indonesia menjadi padang Kurusetra pertempuran penuh bualan dan omong-kosong. Generasi emas yang dicita-citakan saat ini perlu dibangun atas sikap kritis dan tingkat kesadaran pemikiran yang tinggi, bukan hanya berwawasan tapi tidak bisa memilih dan berpikir dengan jernih.

 3. Matinya Kebudayaan

Pelajar di masa sekarang tentu tidak banyak yang tahu siapa itu Punakawan, siapa itu Togog dan Semar yang ngejawantah ke bumi, tidak pula tahu bagaimana Bima menemukan Tuhan di samudera penuh monster-monster menyeramkan. Invasi budaya barat dan timur menggerus nilai-nilai lokal.

Jika orang-orang bilang hanya budaya barat yang membuat budaya sendiri hilang, maka salah besar. Budaya-budaya diluar Nusantara dapat merusak citra bangsa, entah itu berasal dari negeri samurai, gurun pasir, atau dari hutan hujan. Kita terlalu sibuk membentengi diri dari budaya barat sehingga budaya-budaya luar non-barat kita abaikan dan merusak dari dalam.

Kita terlalu sibuk menyelaraskan kebenaran dengan kebudayaan, keyakinan dengan pagelaran, atau karinding dengan toa. Hal-hal seperti ini perlu didasari dengan sikap kritis, karena dalam menentukan apakah jaipongan itu termasuk kebenaran atau bukan, tidak hanya bisa didasari oleh keyakinan dan pembenaran sepihak.

Kita hanya tinggal menunggu pertunjukan wayang akan digusur dan dibumihangsukan karena tidak selaras dengan motif-motif tertentu, kita juga hanya perlu menunggu sampai upacara-upacara adat dibubarkan oleh klaim-klaim kebenaran sepihak. Keyakinan tanpa didasari oleh sikap kritis atau skeptis itu pincang dan hanya akan menimbulkan perselisihan, seperti yang sudah pernah dibahas oleh Abdullah Hasan di Qureta dalam Keyakinan lewat Keraguan.

Lantas apa yang kita perlukan saat ini?

Kita perlu untuk belajar berpikir. Jika tak bisa merubah mindset masyarakat yang terlanjur anti-kritis garis keras, maka hanya diperlukan satu obat: membiasakan berpikir kritis sejak bangku sekolah. Rekan-rekan guru maupun siswa diluar sana, saya hanya berpesan agar terus lestarikan sikap kritis di ambang krisis ini.