“Negaraku mabuk agama, krisis logika”. Kata-kata tersebut saya lihat pada sebuah gambar yang tersebar di sosial media. Kata-kata itu tidak salah menurut saya karena melihat tensi di masyarakat kita sekarang memang tidak sedikit yang mengesampingkan logika sampai lupa diri ketika berbicara soal agama. Saat melakukan debat di sosial media atau kehidupan nyata pun jika topiknya mengenai agama, maka yang dipakai justru debat kusir yang cenderung tidak beretika dan tidak diisi dengan argumen yang jelas. Jangan lupa dibubuhi kata-kata kasar dan caci-maki.

Menurut saya, untuk menghindari hal-hal demikian perlu adanya pembelajaran filsafat logika dan sejarah filsafat di jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA). Menurut John Seiler Brubacher(1898-1988), “filsafat yang berasal dari kata Yunani filos dan sofia berarti cinta kebijaksanaan atau belajar. Lebih dari itu dapat diartikan cinta belajar pada umumnya, dalam proses pertumbuhan ilmu pengetahuan (sains) hanya terdapat dalam apa yang kita kenal dengan filsafat. 

Untuk alasan ini sering kita katakan bahwa filsafat adalah induk atau ratu ilmu pengetahuan”. Kemudian dengan mempelajari logika, penggunaan nalar sebagai objek materialnya akan sangat membantu kita untuk berfikir secara tepat, rasional, cermat dan objektif. Kita akan mempelajari macam-macam kesalahan logika (logical fallacies) yang sering di gunakan dalam debat kusir. Misalnya Ad Hominem (menyerang pribadi lawan debat dan bukan membantah argumennya), Argumentum ad Fidem (menjadikan iman sebagai dasar argumen sehingga tidak bisa dibantah), Argumentum ad Baculum (berargumen dengan cara menakut-nakuti atau memberi tekanan), dan masih banyak lagi sehingga kita dapat terhindar dari penggunaannya.

Lantas, mengapa harus pada tingkat SMA? Karena siswa-siswi SMA yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi akan belajar mata kuliah dasar filsafat sehingga dengan mempelajarinya mulai dari SMA, mereka tidak akan kaget. Secara kognitif juga anak-anak usia SMA sudah mampu berfikir dengan cara yang lebih abstrak dan logis dibandingkan anak SD dan SMP. 

Selain itu dalam kurikulum SMA Indonesia sejauh ini masih mempelajari logika dalam pelajaran matematika dan Bahasa Indonesia namun hanya sebatas premis, kesimpulan dan silogisme sehingga perlu di perdalam dalam mata pelajaran filsafat. Dengan memiliki generasi muda yang sudah dipersiapkan untuk berfikir secara logis tentu negara kita dapat lebih maju dalam bidang ilmu pengetahuan.

“Ih tapi kan kalo belajar filsafat bisa jadi ateis! Seram banget!”

Perlu diketahui bahwa ketakutan orang Indonesia terhadap filsafat bagi saya merupakan salah satu faktor mengapa Indonesia masih begitu tertinggal secara sains dan teknologi, karena ketakutan pada filsafat adalah ketakutan pada pemikiran yang logis, kritis dan maju. Masih ada orang-orang yang berfikiran bahwa rekayasa genetik itu melangkahi kodrat manusia, edukasi seks dianggap mengajarkan pornografi atau seks diluar nikah, rahim pinjaman dianggap zina dan masih banyak lagi. Ini juga alasan mengapa masih begitu banyak orang Indonesia yang sangat mudah percaya kepada hoax atau berita bohong. 

Selama belajar di Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas kita tidak dibiasakan melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat kritis. Bertanya kepada guru akan dianggap bodoh, adu argumen dengan guru dianggap melawan, merasa lebih pintar dan tidak memiliki rasa hormat. Karena masih banyak sekolah dan guru yang seperti itu kita akhirnya terbiasa nurut hingga akhirnya ketika ada berita bohong juga hanya nurut tanpa mencari tahu terlebih dahulu.

Disinilah kita sangat dirugikan dengan stigma negatif masyarakat terhadap filsafat. Filsafat di identikan dengan ateisme, mempertanyakan eksistensi Tuhan dianggap sebagai sebuah kelancangan sehingga timbul prasangka-prasangka buruk terhadap orang-orang yang mempelajari filsafat. Makanya kita juga perlu mempelajari sejarah filsafat karena faktanya, ada banyak filsuf besar yang beragama. 

Contoh saja Ibnu Sina, seorang ilmuwan yang namanya juga begitu besar di dunia filsafat dan beliau tetap taat beragama. Atau Al-Kindi yang merupakan filsuf muslim pertama di dunia. Jangan juga sampai lupa dengan filsuf dari negara kita sendiri yakni, Tan Malaka dengan buku Madilognya yang mengajak orang Indonesia supaya terlepas dari logika mistik. Sudah saatnya kita mematahkan stigma bahwa sesungguhnya filsafat tidak menuntun seseorang kepada ateisme, namun pada rasionalitas.