Pandemi Covid-19 telah menjadikan perubahan pada pola hidup kita. Demi mengurangi percepatan penularan virus, kampanye untuk mengurangi interaksi fisik pun digaungkan. Diperkenalkannya konsep bekerja dari rumah hingga hadirnya penyelenggaraan pembelajaran jarak jauh bagi siswa. Semua ini menjadi tambahan rezeki tentunya bagi sektor teknologi informasi seperti operator pulsa dan penjual gadget.

Dalam kondisi sebelum pandemi, kemajuan teknologi informasi sangat terasa memudahkan pekerjaan kita bahkan sampai memenuhi dengan baik gaya hidup kita. Namun ternyata di masa pandemi, kita mengalami kekagetan yang mana ternyata kecanggihan teknologi yang kita miliki belum mampu untuk memaksimalkan kegiatan daring kita terutama dalam bidang pendidikan.

Pendidikan sebagai salah satu layanan dasar ternyata kalah dengan sektor ekonomi. Di masa pandemi, sebagai perbandingan, berbagai market place terus mengkampanyekan untuk belanja online. Layanan belanja online tentu membutuhkan banyak fitur pendukung seperti metode pembayaran dan pengiriman barang. Bagi market place, dua fitur pendukung itu telah terbangun dengan baik sehingga tinggal panen saja di masa pandemi ini.

Namun pada dunia pendidikan justru terjadi kewalahan di masa pandemi ini. Banyaknya orang tua yang menyuarakan untuk menyudahi pembelajaran daring padahal kasus covid semakin meningkat. Hal ini  membuktikan bahwa penggunaan teknologi informasi untuk penyelenggaraan pendidikan belum semaksimal transaksi belanja online. Tidak maksimalnya penyelenggaraan belajar daring ini bisa kita runutkan pada kurangnya infrastruktur selain bisa jadi faktor SDM juga.

Kondisi Infrastruktur Teknologi Informasi di Indonesia

Pada sisi infrastruktur, meskipun Indonesia telah memiliki banyak satelit namun hal ini bukan berarti ketersediaan akses internet sudah sangat baik. Ada tiga syarat pokok masyarakat untuk menikmati internet yakni : backbone, backhaul dan jaringan akses. Satelit hanyalah backbone saja yang masih harus dibantu lagi distribusi ke daerah (backhaul) dan jaringan akses seperti kabel optik dan BTS (Base Tranceiver Station) agar bisa sampai ke rumah warga.

Utilisasi bandwidth Palapa Ring milik Kominfo di bawah 50% menurut data Bappenas. Lebih diperjelas pada masing-masing areanya yakni Palapa Ring Barat 33%, Palapa Ring Timur 23,16% dan Palapa Ring Tengah 15%. Tidak maksimalnya penggunaan satelit karena Pemerintah hanya fokus pada infrastruktur backbone tanpa memikirkan penghubung ke masyarakat. Jelas sekali ini adalah kebijakan yang salah.

Apabila diamati dalam luas wilayahnya ada sekitar 4.652 kecamatan dan 71.984 desa yang sama sekali tidak terjangkau internet padahal berada pada porsi Palapa Ring. Inilah yang menjadikan pada daerah tersebut tidak mungkin diselenggarakan pembelajaran daring padahal kondisi masih pandemi yang tentunya rentan penambahan kasus apabila dibuka kelas tatap muka. Inilah salah satunya yang menjadikan bantuan paket internet dari Kemendikbud pun tidak banyak membantu kegiatan pembelajaran di masa pandemi.

Alih-alih menyediakan akses internet sampai ke desa, pemerintah justru mengambil kebijakan untuk meluncurkan kembali satelit. Tentunya ini hanya akan menambah ketidakmaksimalan teknologi informasi yang kita miliki. Harusnya dana sebesar itu bisa diarahkan untuk membangun infratruktur backhaul dan akses jaringan.

Pemulihan Perekonomian Paska Pandemi melalui Pembangunan Teknologi Informasi

Penguatan infrastruktur teknologi informasi perlu diupayakan di masa pandemi ini. Pemanfataan teknologi informasi juga bisa digunakan untuk memaksimalkan percepatan pemulihan perekonomian paska pandemi. Apabila infrastrukturnya semakin kuat akan lebih banyak masyarakat yang dapat menikmati akses internet dengan baik.

Ketika internet telah mampu merambah sampai ke pelosok, maka semakin banyak potensi lokal yang dapat kita olah dengan maksimal. Pemulihan perekonomian yang terimbas pandemi tidak hanya terkonsentrasi pada keadaan lokal apalagi di daerah terpencil. Antar daerah akan dapat saling bertukar komoditasnya dengan dibantu komunikasi dan informasi yang lancar. 

Bayangkan apabila internet telah ada sampai ke seluruh pelosok nusantara, maka akan semakin banyak transaksi yang dilakukan oleh masyarakat dalam perdagangan baik itu pemesanan barang yang tidak perlu tatap muka hingga pembayaran yang cukup lewat ponsel. Bagi kita yang tinggal di daerah kota mungkin adalah hal biasa, namun bagi daerah 3T kemudahan ini belum bisa mereka rasakan karena kondisi infrastruktur belum maksimal.

Jika efisiensi transaksi yang kita rasakan selama ini pun dapat dirasakan oleh masyarakat 3T nantinya, tentu percepatan pemulihan ekonomi paska pandemi akan lebih maksimal. Paling tidak, bisnis operator pulsa akan hidup dan bergairah di daerah 3T dan bisa dilanjutkan dengan geliat ekonomi lainnya yang mungkin masih terhubung dengan keberadaan teknologi informasi.

Pandemi yang membuka tabir tidak maksimalnya infrastruktur teknologi informasi kita sudah seharusnya menjadi evaluasi pemerintah untuk mengalihkan fokus pengadaan satelit beralih pada pembangunan infrastruktur pendukung. Pemerintah yang memiliki jargon untuk menyediakan akses internet di setiap kecamatan seluruh indonesia maka perlu dibuktikan dengan berdirinya BTS dan pembangunan kabel optik paling tidak di seluruh kecamatan.

Siapa tahu dengan adanya akses internet ke pelosok, masyarakat pelosok pun tak kalah kreatif dalam adu content video yang mampu untuk viral dan memberi manfaat bagi banyak orang. Atau kita semakin banyak menemukan tempat wisata baru yang masih asri di daerah 3T. Sharing informasi seperti ini akan membuka masuknya investasi sehingga membuka lapangan kerja. Dan mungkin masih banyak lagi hal yang bisa lebih dimaksimalkan untuk pemulihan perekonomian paska pandemi jika pemerintah mengubah fokus pembangunan teknologi informasi.