Kalau kita cermati fenomena anak muda zaman sekarang, tampaknya ada banyak perbedaan dibandingkan dengan zaman kita-kita yang serba ewuh-pakewuh itu. 

Anak muda zaman sekarang lebih ekspresif dalam mengungkapkan suatu hal dan memerlukan setiap argumentasi untuk mengerjakan sesuatu sehingga mereka memiliki tendensi gampang membantah jika tidak sesuai dengan prinsipnya. Berbeda dengan zaman kita yang cenderung manut pada setiap perintah orang tua, apa pun bentuknya.

Anak muda zaman sekarang juga lebih berani untuk menyampaikan pendapatnya kepada orang lain, termasuk pada yang lebih tua. Mereka sangat bebas untuk mengekspresikan diri sehingga bisa tampil dengan percaya diri.

Kepercayaan diri yang besar dan keakuannya yang sangat tinggi ternyata menciptakan narsistik di kalangan anak muda. 

Dalam batas tertentu, narsis tentu tidak jadi soal. Namun narsisme yang berlebihan tentunya sangat berbahaya karena efeknya itu dapat menyerang pihak lain, baik melalui kata-kata maupun fisik. 

Akibatnya, tingkat bullying cukup memprihatinkan saat ini, bahkan sampai ke gontok-gontokan hanya karena tidak mau dikalahkan, entah dari segi penampilan atau hal lainnya. Bahkan fenomena megalomania ini sudah meresahkan dan ternyata lahir dari epidemi aliran narsisme.

Jelas sekali, anak muda membutuhkan 'arah' dan arahan. Banyak segi positif yang dimiliki oleh anak muda zaman sekarang. Hanya saja, mereka butuh 'arah' agar lebih positif lagi.

Kalaupun ada hal yang dinilai negatif dari anak muda sekarang, semisal kurang menghormati orang yang lebih tua, gampang membantah, terlalu selfie, dan lain-lain, mari kita berikan arahan agar mereka tidak tersesat sehingga yang negatif dapat menjadi positif.

Untuk itu, anak muda memang butuh 'arah' dan arahan. 'Arah' itu bukan patron. Kita bisa menjadi diri sendiri sehingga tidak terkontaminasi untuk menjadi orang lain, tapi kita memerlukan kompas untuk mempelajari 'gayanya'. 

Gaya di sini bukan hanya melulu mengenai penampilan, tapi lebih luas lagi, yakni mengenai cara pandang, segi kehidupannya, dan lain sebagainya.

'Arah' anak muda tentunya dari sosok anak muda lagi. Karena sama-sama muda, tentu akan lebih gampang melekat satu sama lain.

Ini pendapat secara pribadi saya. Bahwa Kaesang sangat cocok menjadi 'arah' bagi anak muda zaman sekarang.

Kaesang Pangarep adalah putra bungsu Presiden Jokowi yang nyentrik dan humoris. Usianya tergolong dewasa muda dengan popularitas yang bagus serta statusnya sebagai anak presiden.

Kenapa perlunya sosok seperti Kaesang yang muda ini? Pertama, karena sama-sama muda sehingga mudah melekat dengan kaum muda dan bisa menjadi stimulasi untuk men-challenge orang lain yang sama-sama muda itu dengan gejolak jiwa muda yang seolah mampu mengubah dunia dengan mudahnya. Istilahnya: 'kalau dia bisa, kenapa gue ngga?'

Jika Kaesang berwirausaha dengan menjual pisang dengan 'Sang Pisang' dan sukses, ini adalah stimulasi yang bagus untuk anak-anak muda belajar kewirausahaan, mungkin bikin usaha 'Pik Keripik Pisang', 'Nana Banana Cake', atau yang lainnya. Yang penting tidak mau kalah dengan Kaesang dalam entrepreneurship.

Kedua, Kaesang seolah ingin melepaskan trademark 'Anak Babeh Gue yang Presiden RI'. Dia adalah seorang Kaesang yang anaknya Jokowi dan Iriana saja, tanpa jabatan dan status yang mengikuti. Kaesang yang medsosnya selalu ramai dan punya bisnis jualan pisang.

Ya, memang sih sesekali ada pamernya juga sebagai anak presiden. Itu adalah hal yang sangat wajar. Namun sejauh ini harus kita acungi jempol karena bisnis 'Sang Pisang' adalah wujud kemandirian dari sang anak presiden.

Di kala dahulu dan saat ini banyak negara-negara di dunia yang anaknya presiden masih mengandalkan bisnis atas nama kekuasaan dari ayahnya, Kaesang dan Gibran terlepas dari hal itu.  

Ini bisa menjadi 'arah' yang bagus kalau anak presiden saja punya bisnis yang mandiri. Di masa mendatang, hal seperti ini bisa menjadi pencegah agar tidak lahir raja-raja kecil dalam jaringan bisnis yang KKN. 

Anak muda akan meniru hal yang positif, misal: bapak gue pejabat, tapi gue mau bisnis sendiri tanpa mengandalkan bantuan atau embel-embel bapak gue yang pejabat itu.

Justru dengan status sebagai anak presiden atau anak pejabat akan dengan gampangnya mentransfer sesuatu ke ruang publik. Chat sedikit saja bisa langsung viral di media, share video sedikit saja bisa langsung jutaan orang yang menonton sehingga anak presiden atau anak pejabat bisa dengan mudah menyebarkan nilai-nilai yang positif lebih luas lagi pada anak-anak muda zaman sekarang.

Ketiga, Kaesang dengan aneka kreativitasnya di media sosial, dengan membuat vlog, ataupun pernah bermain film arahan Ernest berjudul 'Cek Toko Sebelah', tentu adalah hal yang sangat positif karena kata Albert Einstein, creativity is an intelligent having fun.

Selain memperoleh having fun, kreativitas memicu anak muda selalu maju atau berlomba untuk mendapatkan sesuatu, entah kompensasi, pengakuan ataupun penghargaan. Kita yang tua-tua ini tugasnya adalah memberi arahan agar kreativitas tetap dalam jalur yang baik, misalnya: bermusik tanpa pakai drugs atau berkompetisi dalam olahraga tanpa dopping, dan lain-lain.

Keempat, menjadi diri sendiri. Dari media dan berita yang saya baca, Kaesang tampaknya adalah pribadi yang apa adanya alias tidak jaim, mungkin sesekali nyeleneh. Misalnya: dia pernah menuliskan rasa irinya pada Jan Ethes sebagai cucu pertama Jokowi, lantas dia di-bully ini dan itu di media sosial.

Padahal hal itu wajar saja sebab sebagai anak bungsu, saya juga pernah merasa iri seperti Kaesang ketika keponakan saya lahir dan seakan menjadi curahan kasih sayang orang tua saya yang seolah beralih dari saya sebagai anak bungsu ke cucu kesayangan. Namun seiring dengan waktu, rasa cemburu itu hilang dengan sendirinya karena kita telah terbiasa dengan berbagai perubahan yang ada dalam keluarga.

Sama halnya kakak yang baru memiliki adik kecil, pasti ada sedikit banyak rasa cemburu di awalnya. Jadi, hal itu adalah wajar-wajar saja. Jangankan untuk anak presiden, orang biasa atau siapa pun juga akan merasa hal yang sama.

Hanya saja, Kaesang perlu membuat batasan agar tidak kelewatan atau salah persepsi dari banyak orang sehingga dia harus berhati-hati dalam setiap kata dan tindakannya karena bagaimanapun juga dia adalah anak presiden yang tindak-tanduknya diperhatikan oleh seluruh rakyat Indonesia. 

Contoh lainnya adalah mengenai kedatangan Kaesang untuk bertakziah saat Ibu Ani Yudhoyono meninggal dunia. Ia berpakaian yang dinilai netizen 'Pakaian ala Eropa' dengan jeans, padahal seyogianya setiap orang melihat pada esensi isi daripada bentuk.

Isinya adalah empati dari Kaesang untuk turut berbelasungkawa. Jangan terlalu fokus pada bentuk baju atau pakaiannya. Kita sendiri kurang tahu keadaan dia pada saat itu seperti apa.

Dulu, seorang teman saya sidang menggunakan celana jeans dan terang saja dia dimarahi oleh para dosen pengujinya sewaktu awal sidang berlangsung. Sebenarnya dia sudah tahu aturan pakaian formal saat sidang dan ternyata bukanlah salah dia karena saat itu celana kain satu-satunya dicuci oleh sang adik. Dia juga tak sempat membeli atau meminjam celana dan terpaksa memakai jeans ke kampus.  

Memang hal itu mengurangi nilai, tapi esensinya adalah isi dari apa yang disidangkan sehingga sebaiknya orang pun dalam menilai sesuatu harus berpikir menyeluruh, tidak dilakukan sepotong-sepotong atau langsung menghakimi baik-buruknya sebab kita tidak tahu keseluruhan adegan dalam kesehariannya Kaesang.

Mungkin saat itu dia sedang terburu-buru untuk segera datang bertakziah tanpa sempat mengganti baju. Mungkin pakaiannya dicuci seperti kejadian teman saya itu. Mungkin dia sendiri menilai pakaiannya sopan sehingga langsung datang melayat. Atau banyak kemungkinan lainnya. 

Kelima, tetap berbudaya timur di negeri orang. Ini terlihat dari cara salaman Kaesang yang mencium tangan kepada yang lebih tua atau berdongkok sopan saat berjalan melintasi banyak orang ketika melayat. Memang ini perilaku yang biasa saja dalam adat ketimuran, tidak perlu berlebihan menanggapinya, tapi adab ini sangat diperlukan.

Kita bisa melihat generasi muda banyak mengalami degradasi moral akibat invasi budaya seperti Budaya Barat ataupun Budaya Korea yang menggiring pada individualisme dan materialisme.

Adat ketimuran yang sudah dinilai biasa-biasa saja itu perlu ditanamkan pada anak muda zaman sekarang. Dahulu masih ada pelajaran budi pekerti sehingga anak tahu caranya menghormati orang tua atau gurunya, anak juga memiliki tata bahasa yang berbeda saat berbincang dengan yang sebayanya atau pada kaum yang lebih tua. 

Memang saat ini implementasi budi pekerti seperti pisau dalam dua sisi: yang pertama adalah dapat membumikan perilaku yang menjunjung tinggi kesopanan dalam bermasyarakat; yang kedua adalah bisa membumikan budaya ewuh pakewuh.

Untuk zaman sekarang, budaya ewuh pakewuh tampaknya telah luntur akibat transformasi zaman yang begitu dinamis sehingga kita memerlukan pengayaan kembali budi pekerti dalam aplikasi sikap anak muda dan Kaesang adalah 'arah' yang bagus.

Kaesang yang sejak SMA telah menempuh studi di Singapura tidak serta-merta menjadi pribadi yang berperilaku Barat. Padahal Singapura adalah negara yang maju dan sering disebut 'Little America', Kaesang tetap tampil apa adanya dan memperlihatkan kejawaannya. 

Anak muda bisa meniru 'gayanya' yang berhasil menjadi diri sendiri di negeri orang sekalipun. Kan bisa dibandingkan dengan dahulu ada seorang artis yang baru saja dua tahun tinggal di Amerika Serikat, gaya Sunda-nya langsung luntur dan berubah kebarat-baratan dalam tempo yang sangat singkat. 

Style orang memang pilihan masing-masing, namun kalau sudah mengekskalasikan segala sesuatunya yang berbau Barat adalah salah. Inilah pentingnya 'arah,' meskipun terlihat remeh-temeh, namun mendasar.

Oleh karena itu, 'arah' sangat diperlukan. Kaesang bukanlah patron untuk anak muda, melainkan 'arah' dan dibutuhkan banyak Kaesang-Kaesang yang lain yang bisa menjadi 'arah' buat anak muda.

Dan kita yang tua-tua ini hanya sekadar memberi arahan. Arahan adalah bukan merupakan perintah absolut dari sang raja kepada bawahannya. Arahan adalah cara mendidik kita pada generasi yang lebih muda, tentunya dengan menanamkan nilai-nilai yang demokratis.