Sebagai manusia kita pasti beraktivitas setiap harinya. Dari aktivitas ringan hingga aktivitas yang menguras tenaga. Ada yang melakukan aktivitas di rumah sampai dengan keliling dalam negeri bahkan luar negeri. 

Aktivitas kita tentu tak lepas dari kata gangguan, musibah, atau bahkan celaka. Seperti contoh apabila kita hendak berpergian ke pasar, lalu kita dicopet di jalan, itu merupakan gangguan/musibah yang kita terima saat melakukan aktivitas berpergian. 

Terlebih apabila kita berpergian seorang diri, resiko untuk menerima tindakan kriminalitas sangatlah tinggi. Secara definisi, kriminalitas merupakan segala macam bentuk tindakan dan perbuatan yang merugikan secara ekonomis dan psikologis yang melanggar hukum yang berlaku dalam negara Indonesia serta norma-norma sosial dan agama. 

Dapat diartikan bahwa, tindak kriminalitas adalah segala sesuatu perbuatan yang melanggar hukum dan melanggar norma-norma sosial, sehingga masyarakat menentangnya. (Kartono, 1999: 122). 

Kriminalitas secara sosiologi memiliki 2 (dua) unsur yaitu kejahatan yang merugikan ekonomis dan psikologis serta kejahatan asusila yang menimbulkan banyak celaan masyarakat. 

Kasus perampokan, penjambretan, pencopetan, pembegalan merupakan contoh kejahatan yang merugikan secara ekonomis dan psikologis. Sedangkan pemerkosaan, pelecehan seksual merupakan kejahatan yang dapat menimbulkan efek secara psikologis dan sanksi moral dari masyarakat. 

Kriminalitas dapat terjadi kepada siapapun baik laki-laki maupun perempuan. Namun resiko lebih tinggi ada pada perempuan ketika sedang berpergian sendirian.

Di Indonesia tingkat kriminalitas terbilang cukup tinggi, khususnya yang berada di kota-kota besar. Banyak kasus yang terjadi seperti penjambretan di jalan sampai menghilangkan nyawa seseorang, pencopetan, dan pemerkosaan yang merajalela, membuat kita resah dan menimbulkan ketakutan masyarakat. 

Kita perlu berbenah. Selain menegaskan kekuatan hukum, ada alternatif lain yang mungkin dapat negara lakukan untuk meminimalisir kejahatan tersebut. Di zaman sekarang, teknologi telah berkembang dengan pesat. 

Didukung dengan kreatifitas dari generasi milleneal, negara dapat bernisiatif menciptakan apa yang dinamakan Go Safe. Meneladani apa yang dilakukan oleh aplikasi Go-Jek, negara dapat membuat sistem berbasis teknologi yang tujuannya untuk memberikan rasa aman bagi pelanggan. 

Go Safe ini dapat dikelola oleh BUMN guna meminimalisir kejahatan yang ada di Indonesia. Go Safe nantinya dapat merekrut orang-orang pilihan lalu dilatih dan dididik layaknya militer. Kemudian setelah dinyatakan lulus dari pelatihan, dapat bekerja di BUMN tersebut. 

Lulusan dari Go Safe ini akan bekerja layaknya bodyguard yang mendampingi pelanggan jika hendak berpergian. Sehingga pelanggan dapat mendownload aplikasi Go Safe, kemudian mereka dapat memesan Go Safe seperti apa yang dilakukan pada Go-Jek. 

Go Safe akan mendatangkan minimal 2 (dua) orang (tergantung pemesanan) yang sudah terlatih untuk menemani pelanggan selama berpergian. Lamanya waktu penyewaan bodyguard tersedia di aplikasi, sehingga pelanggan tinggal memilih sesuai kebutuhan. 

Apabila pelanggan hendak berpergian ke luar kota selama 2 hari, bisa dipilih menu aplikasi 2 hari, begitu seterusnya. Ketika ternyata waktu 2 hari itu belum cukup, pelanggan dapat menambah perpanjangan waktu di aplikasi tersebut untuk bodyguard yang sama. 

Tugas bodyguard tersebut hanya menemani pelanggan dan memastikan pelanggan tersebut aman dari perampok, pencopet, penjambret atau tindakan yang mengancam keselamatan dari orang yang tidak bertanggungjawab. 

Bodyguard yang disewa akan memperoleh gaji yang setimpal dari BUMN dan tambahan poin pada aplikasinya. Tambahan poin juga akan menjadi uang tambahan, apabila telah mencukupi batasan tertentu. 

Jika inovasi ini dapat terealisasi, mungkin akan melibatkan beberapa instansi seperti Kementerian Informasi dan Komunikasi, Kepolisian RI, Kementerian Keuangan, dan bahkan instansi-instansi lain yang terkait.

Menurut penulis, Go Safe tersebut dapat menjadi alternatif keamanan di Indonesia. Karena adanya bodyguard ini menghadirkan kedekatan dengan masyarakat dan mereka dapat dipesan selama 24 jam non stop

Tentu hal tersebut tidak dapat dilakukan oleh TNI ataupun POLRI di Indonesia karena memang tugas dan fungsinya berbeda. TNI dan POLRI tidak dapat mendampingi orang satu per satu untuk menjamin keamanannya selama 24 jam. 

Sehingga menurut penulis, adanya Go Safe dapat membantu peran TNI dan POLRI dalam menjaga keamanan bangsa kita. Masyarakat sangat diuntungkan, karena pemesanan Go Safe sangatlah mudah layaknya seperti Go Jek. 

Masyarakat dapat dengan mudah memperoleh keamanan dari bodyguard yang dipesan. Hanya tinggal pesan di aplikasi, kemudian menunggu konfirmasi kedatangan dari bodyguard tersebut. 

Tak hanya untung di masyarakat, negara pun juga memperoleh benefitnya. Jasa yang diberikan oleh bodyguard, memperoleh imbalan dari pelanggan dan itu disetorkan kepada kas negara. 

Bayangkan jika Go Safe dapat diakses oleh masyarakat di seluruh pelosok negeri, tentu dapat menjadi tambahan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang fantastis. Hal ini tentu dapat menyumbang devisa bagi APBN negara kita. Semakin bertambah devisa negara, maka akan semakin baik pertumbuhan negara kita. 

Di samping itu, Go Safe juga dapat mengurangi pengangguran di Indonesia, karena dapat menyerap banyak tenaga kerja menjadi bodyguard.

Go Safe jika dikaji lebih lanjut dapat menjadi pilihan negara kita dalam memerangi kriminalisme. Mengandalkan teknologi yang ada, Go Safe dapat dirancang sedemikian rupa sesuai dengan kebutuhan masyarakat. 

Seperti yang penulis jelaskan di atas, bahwa adanya menu waktu yang diperlukan untuk penyewaan bodyguard, jumlah orang yang menjadi bodyguard, sistem pembayaran dan lain lain dapat dirancang sedemikian rupa pada aplikasi. 

Bodyguard yang selalu menemani masyarakat di mana pun ia pergi, dapat membuat para pelaku kejahatan berpikir berulang kali untuk menyerang pelanggan. Sehingga pelaku kejahatan pun akan ketakutan dan mengurungkan niat jahatnya. 

Dengan demikian, kasus pemerkosaan, perampokan di jalan, penjambretan dapat terminimalisir dengan baik. Sebagai kesimpulan, inovasi Go Safe hanyalah gambaran umum untuk menciptakan keamanan bersama. 

Selebihnya, jika memang inovasi tersebut menarik, dapat dikaji lebih lanjut dengan menyusun cost and benefit analysisnya. Tujuannya hanya satu, untuk membantu pemerintah menciptakan keamanan bersama di kehidupan sehari-hari.