Sebuah gerakan yang menyerukan kesetaraan gender mulai ramai akhir-akhir ini. Hal ini bukan tanpa sebab. Kekerasan dan pelecehan seksual sering terjadi pada para wanita.

Tak hanya hal itu saja, diskriminasi dan budaya patriarki yang tetap berlanjut hingga saat ini membuat wanita sulit mendapat pekerjaan dari pada pria.

Dari budaya patriarki yang secara menerus dilaksanakan oleh masyarakat membuat para pria mendominasi di berbagai bidang mulai dari pekerjaan hingga rumah tangga.

Beberapa aksi tradisional yang dapat kita temui hingga saat ini, yang juga tidak jauh berbeda dengan berabad-abad yang lalu yakni menempatkan posisi wanita lebih rendah dari pria dalam berbagai bidang seperti ekonomi dan lain sebagainya.

Tetapi seiring berjalanya waktu muncul masalah baru yang terjadi di masyarakat yakni ketika pendapatan suami tidak mencukupi kebutuhan hidup keluarga sehingga membuat istri menanggung beban ganda juga untuk mencari uang mencukupi kebutuhan keluarga.

Dari sinilah masalah kesetaraan gender mulai muncul. Yaitu ketika seorang wanita yang telah bercerai atau suaminya telah meninggal mendapat diskriminasi karena harus mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga.

Mereka dianggap kurang berkompeten seperti para pria karena tidak mendapatkan pendidikan sebelumnya. Gerakan ini juga bertujuan untuk menghilangkan dominasi pria di berbagai bidang.

Gerakan Feminisme sendiri pertama kali muncul di dunia pada kisaran abad ke 19 hingga 20 masehi. Gerakan ini berasal dari negara barat yang sebagian besar menganut ideologi liberal dengan pemikiran dasar hak asasi manusia, persamaan dan kebebasan.

Mereka (kaum feminism) beranggapan bahwa wanita adalah salah satu kelompok yang paling tidak beruntung di dunia. Mereka juga beranggapan bahwa segala hal di dunia lebih berpihak pada pria.

Feminisme di Indonesia sendiri mulai muncul sejak era kolonialisme, yang mana pada masa itu kehidupan para wanita tidak dapat aktif seperti yang terjadi pada masa modern ini. Para wanita pada saat itu tidak mendapatkan hak untuk bersekolah dan hanya menjadi pelayan keluarga.

Inilah mengapa para orang tua pada masa tradisional tidak menginginkan seorang anak wanita, karena mereka hanya dianggap sebagai beban keluarga. Sedangkan dengan memiliki seorang anak pria dianggap dapat membatu berbagai pekerjaan dan dapat mengangkat derajat mereka.

Dari masa itu juga muncul seorang tokoh yang berjuang untuk mengangkat derajat wanita agar dapat setara dengan pria yaitu R.A Kartini. Beliau berusaha membuktikan bahwa wanita juga dapat menggantikan peran pria.

R.A. Kartini sempat merasakan bangku sekolah hingga usia 12 tahun saja, karena adat budaya Jawa saat itu yang melarang wanita untuk dapat bersekolah pada usia tersebut hingga menikah.

Usaha R.A. Kartini tidak berhenti begitu saja, beliau terus mengirimkan tulisan yang dimuat pada majalah wanita Belanda yang berisi rasa keprihatinannya terhadap nasib wanita pada era itu. Hingga pada 1912 berkat jasanya dapat didirikan sekolah wanita di Semarang dan secara bertahap dibangun di daerah lainya.

Berdasarkan urgensi di atas, feminisme di Indonesia memang diperlukan sebagai bentuk hak asasi manusia yang seharusnya juga dimiliki oleh para wanita. Gerakan ini juga berguna untuk menekan angka kekerasan seksual dan diskriminasi pada kaum wanita.

Dengan gerakan feminisme yang masif, diharapkan seluruh wanita di Indonesia bisa mendapatkan kehidupan yang selayaknya juga didapatkan oleh kaum pria, seperti wajib mendapatkan pendidikan dan pekerjaan yang layak.

Perubahan cara pandang wanita di Indonesia yang saat ini mulai terbuka lebih ke arah bagaimana cara agar dapat mengusahakan kemajuan dalam bidang pendidikan di Indonesia dan  dapat berperan serta dalam menjalankan kegiatan perpolitikan dengan menjadi anggota dewan.

Wanita di Indonesia juga berhak mendapatkan pendidikan dan dapat menerapkan prinsip my body my choice. Dengan demikian mereka dapat memilih jalan hidup mereka sendiri di luar budaya adat dan tradisi mereka.

Walaupun demikian, terdapat masalah baru yang juga muncul pasca gerakan ini mulai berjalan. Gerakan anti feminisme juga semakin menguat di media sosial. Mereka yang tidak mendukung feminisme menyatakan bahwa dengan terpenuhinya hak wanita sebagai seorang istri maka terpenuhi juga hak asasi mereka sebagai manusia.

Sebagian warga masyarakat dan pihak lain juga menyatakan bahwa wanita harus bertindak sesuai fitrahnya, yaitu di rumah untuk mengurus rumah tangga dan mendidik anak. Sedangkan untuk mencari nafkah adalah tugas pria.

Mereka yang tidak mendukung feminisme juga memandang gerakan feminisme hanya menginginkan kesetaraan gender hanya dibidang pekerjaan yang elit saja, seperti pejabat tinggi negara, pemimpin perusahaan dan lain sebagainya.

Tetapi ketika dihadapkan dengan pilihan pekerjaan yang sedikit berat sebagian besar mereka akan mengatakan bahwa pekerjaan tersebut tidak seharusnya untuk wanita, karena daya kerja wanita berbeda dengan pria dan begitu seterusnya.

Perdebatan seperti ini tidak akan mudah hilang begitu saja di kalangan warga masyarakat. Hingga pada akhirnya perlu atau tidaknya gerakan feminisme akan diserahkan kembali kepada pandangan masing-masing individu dewasa ini sesuai urgensi yang sedang terjadi.

Referensi

Bachr, M. A. (2019). Fenomena Gerakan Indonesia Tanpa Feminisme di Media Sosial. Journal of Family Studies. Retrieved from http://urj.uin-malang.ac.id/index.php/jfs/article/download/420/305/

Fitriatishaliha, N. (2021). Mengenal Raden Ajeng Kartini, Sosok, dan Perjalanan Hidupnya. (S. Hardianto, Ed.) Retrieved from https://www.kompas.com/tren/read/2021/04/21/081918965/mengenal-raden-ajeng-kartini-sosok-dan-perjalanan-hidupnya?page=all

Indonesia, CNN. (2020). Bagaimana Islam Memandang Feminisme? Retrieved from https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20200427092159-289-497523/bagaimana-islam-memandang-feminisme

Safitri, F. N. (2022). Munculnya Gerakan Feminisme Gelombang Pertama. (W. L. Ningsih, Ed.) Retrieved from https://www.kompas.com/stori/read/2022/04/01/080000279/munculnya-gerakan-feminisme-gelombang-pertama?page=all