Sebelum memulai menulis di sini, saya jadi mikir, kira-kira tulisan apa yang mesti disodorkan? Jadi ragu bila topik jadi terasa enteng dan tidak berenergi apa-apa. Dibanding penulis lain, mereka sudah makan asam garam di blantika kepenulisan.

Maklum, saya pemula. Untuk memulai menulis, tentu dihantui perasaan seperti itu. Ragu, khawatir, dan seabrek emosi negatif lainnya. Jikapun terus berkutat pada energi ini, tentunya jadi kelamaan mikir. Akhirnya zonk, tak menghasilkan tulisan, selembar pun.

Akhir-akhir ini, geliat untuk menulis terus membuncah. Apalagi usai berkelana di jagat online. Begitu banyak platform yang memberi kesempatan seluas-luasnya kepada para penulis. Ini juga jadi semangat untuk menulis. Pun juga untuk terus mengasah diri dalam menulis.

Dulu, akses untuk masuk jagat kepenulisan kedengarannya begitu elitis. Bahkan ada yang bertanya-tanya, kira-kira berapa ia membayar sampai tulisannya dimuat di media? Kini beda. Untuk berkarya dan menerbitkannya, sudah banyak akses yang bisa dicoba. Semisal di sini, Qureta.

Namun, satu sisi, tentu ada juga beberapa platform yang susah ditembus. Kamu mesti gigih berjuang untuk terpampang di platformnya. Di samping kualitas tulisan, juga harus selaras dengan selera platform tersebut.

Menulis di media daring, pada beberapa tahun terakhir, memang tengah mencapai jayanya. Seperti ada wajah baru di jagat online. Portal tak lagi terbatas pada identitas berita online, melainkan sudah berubah jadi dunia sendiri di dalam mempertemukan pegiat literasi dari berbagai perbedaan, mulai dari kewilayahan hingga profesi; dipersamai oleh satu gerakan: baca-tulis!

Dunia literasi memang perlu terus dibangun. Kemunduran literasi adalah beban peradaban yang mesti kita bangkitkan bersama.

Soal literasi, mendefinisikannya tidak lagi sekadar berbicara pada ruang baca dan tulis. Lebih dari itu, ia menyentuh ranah psikologis manusia, yakni tentang soal memahami dan bertindak sesuai apa yang dibaca dan ditulis.

Pada konteks ini, saya setuju dengan salah satu salah pakar pendidikan Islam, Arief Budiman. Pada laman Republika, ia mencontohkan akibat dari kegagapan literasi. Misalnya, banyak orang yang paham soal lampu lalu lintas bahwa ia adalah penanda aturan, tapi masih saja dilanggar. Menurutnya, ini bias dari buruknya tradisi literasi kita.

Padahal, kata Arief, literasi kita sudah terbilang tua. Banyak penanda adanya peradaban yang pernah dibangun leluhur, semisal relief-relief candi atau tulisan tertentu di beberapa situs sejarah.

Lain Arief, lain pula rilis survei. CIGI-Ipsos per 2016, misalnya, memaparkan bahwa sebanyak 65 persen dari 132 juta pengguna Internet di Indonesia percaya dengan kebenaran informasi di dunia maya tanpa cek dan ricek.

Demikian pula halnya survei Central Connecticut State UniversityBerdasarkan hasil risetnya per 2016, literasi Indonesia berada di tingkat kedua terbawah dari 61 negara, hanya satu tingkat di atas Bostwana. 

Tidak hanya itu, kemampuan membaca masyarakat Indonesia yang sangat rendah juga dibuktikan dengan riset menurut UNESCO. Ia mengungkapkan bahwa hanya 1 dari 1.000 orang di Indonesia yang membaca buku.

Nah, pada titik inilah sesungguhnya kita berkontemplasi. Kira-kira dengan geliat literasi online saat ini, apakah ini jadi jaminan keseriusan kita untuk memperjuangkan bangkitnya tradisi literasi? Atau hanya sekadar umbar sensasi, untuk menunjukkan diri bahwa saya bisa nulis? 

Kalau toh seperti itu motifnya, perlu diragukan. Bahkan ini bisa dikatakan sebagai kemunduran dari tradisi literasi itu sendiri.

Saat-saat majunya literasi online, banyak juga platform yang menggunakan berbagai cara sebagai satu metode untuk mem-branding platformnya. Salah satunya menyediakan honorarium bagi karya penulis. Diterbitkan tentunya.

Platform-platform ini membuat rasa penasaran. Maklum, batas idealisme, kan, jangan mati di antara ruang gratis dan berbaya? Idealisme adalah nilai yang berkelanjutan. 

Sepiawai apa pun seorang penulis, akan berakhir juga ketika kopi dan kreteknya tak mampu lagi dibayar. Meski dalam benaknya, ia masih berkehendak menuliskan kebenaran, kandas. Ini bukan kata saya, tapi kata teman. Kalau dipikir, benar juga.

Nah, platform-platform berhonor ini terkadang bikin kesal juga. Memang honornya ada yang lumayan gede. Tapi kadang PHP juga. 

Beberapa karib yang pernah ngirim ke sana, digantung nasibnya: antara ditolak dan diterima karyanya. Memang itu hak prerogatif yang mengampunya. Tapi setidaknya, perlu ada kepastian bagi penulis. Jika ditolak, kan, masih ada media lain yang mungkin bakal terima? Tapi ini? "Ah, bikin kesal," kata yang mengalami.

Perjuangan kebangkitan literasi itu tanggung jawab semua pihak. Semua cara dan strategi itu adalah benar. Pemerintah pun sudah berpikir ke arah itu. Meski belum terasa capaian konkret dari usaha itu, minimal, mari kita tepuk tangan.

Pemerintah telah menyajikan regulasi perbukuan, yakni Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan. UU ini mengamanatkan adanya penguatan sistem perbukuan yang menghasilkan buku bermutu, murah, dan merata serta menumbuhkembangkan budaya literasi di masyarakat.

Saya mulai bingung, apa maksud dari tulisan ini? Maaf, kembali lagi dibaca dari atas, lalu dipertemukan antarparagraf. Mana kira-kira yang bermakna, seperti itulah maksud dari judul tulisan ini.