Ketika kita memasukkan frasa “generasi milenial” pada mesin pencarian Google, maka akan terdapat 9.350.000 data yang ditemukan. Dengan hal ini, dapat dipastikan bahwa dunia tidak asing lagi dengan istilah generasi milenial.

Pada sebuah kesempatan, penulis mencoba melakukan riset kecil terhadap warganet pengguna Instagram perihal makna dari istilah generasi milenial. Hasil dari riset tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar warganet menganggap istilah generasi milenial adalah orang-orang yang kategori usianya masih muda dan produktif dalam melakukan segala hal. 

Selain itu, generasi milenial juga dikaitkan dengan golongan orang-orang atau anak-anak remaja yang melek terhadap teknologi modern.

Teori generasi (Generation Theory) yang dikemukakan oleh Graeme Codrington & Sue Grant-Marshall, Penguin, pada tahun 2004 berlawanan dengan hal tersebut. Menurut teori generasi, klasifikasi generasi manusia hingga dewasa ini dapat dibedakan menjadi lima jenis generasi yang didasarkan atas tahun kelahiran.

Kelima klasifikasi generasi tersebut, yaitu: (1) Generasi Baby Boomer yang lahir pada tahun 1946-1964; (2) Generasi X yang lahir pada tahun 1965-1980; (3) Generasi Y yang lahir pada tahun 1981-1994 dan sering disebut dengan generasi millennial; (4) Generasi Z yang lahir pada tahun 1995-2010 (disebut juga Generasi Internet), dan (5) Generasi Alpha yang lahir pada tahun 2011-2025.

Pertumbuhkembangan kepribadian dari masing-masing generasi tersebut tidak sama. Hal tersebut sangat dipengaruhi oleh faktor sosial budaya yang melatarbelakangi setiap rentang tahun kelahiran.

Melalui teori generasi dapat dilihat bahwa generasi milenial sebenarnya generasi yang lahir dalam rentang waktu sekitar tahun 1981 sampai tahun 1994. Selain itu, jika meninjau dari KBBI maka istilah milenial bermakna orang atau generasi yang lahir pada tahun 1980-an dan 1990-an. 

Dengan kata lain, pemaknaan generasi milenial sama sekali tidak berhubungan dengan faktor usia dan tingkat produktivitas. Akan tetapi, lebih fokus terhadap rentang tahun kelahiran.

Penggunaan istilah generasi milenial sering menunjukkan penyimpangan pemaknaan dalam kehidupan masyarakat. Hal tersebut sering kali terjadi ketika masyarakat yang tergolong generasi lebih awal menilai atau mengkritisi generasi yang ada di bawahnya.

Pemaknaan yang salah kaprah tentang istilah generasi milenial oleh masyarakat adalah menganggap bahwa generasi milenial merupakan generasi yang manja, mudah bosan, dan malas. Sebagai contoh, sering kali warganet melontarkan komentar “dasar generasi milenial!”, ketika melihat video remaja yang tidak lazim.

Tidak jarang pula warganet melontarkan hujatan dengan menyebut istilah generasi milenial. Hal ini menyebabkan timbulnya suatu perubahan makna pada suatu kata. Perubahan tersebut tergolong dalam perubahan makna peyorasi, yaitu makna kata yang mengalami perubahan menjadi lebih buruk, lebih kasar atau kedudukannya lebih rendah dari makna kata yang sebelumnya.

Sebagai contoh kasus, akhir-akhir ini sedang ramai diperbincangkan pidato ketua umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, yang mempertanyakan peran generasi milenial di masa sekarang ini. Menurutnya, peran dan sumbangsih generasi milenial belum tampak selain hanya aksi demonstrasi menolak UU Cipta Kerja yang sudah berlangsung dalam beberapa waktu lalu.

“Anak muda kita, aduh saya bilang sama Presiden, jangan dimanja, dibilang generasi kita generasi milenial. Saya mau tanya, hari ini apa sumbangsihnya generasi milenial yang sudah tahu teknologi seperti kita bisa virtual tanpa harus bertatap langsung,” ungkapnya dalam sambutan saat peresmian kantor DPD-DPC PDIP secara virtual. (Merdeka.com, 28/10/2020)

“Apa sumbangsih kalian kepada bangsa dan negara ini? Masak hanya demo saja. Nanti saya dibully, saya enggak peduli. Hanya demo saja, ngerusak, apakah ada di dalam aturan berdemo diizinkan? Karena ketika reformasi, kita masuk ke alam demokrasi, Ya. Tapi adakah aturannya bahwa untuk merusak? Enggak ada,” tegasnya. (Merdeka.com, 28/10/2020)

Pernyataan yang dilontarkan oleh Megawati secara tidak langsung menimbulkan peyorasi pada istilah generasi milenial. Hal tersebut, ditunjukkan dalam ungkapan beliau yang menganggap bahwa generasi milenial tidak memiliki sumbangsih bagi negara, hanya berdemo dan merusak fasilitas publik.

Pada kenyataannya, pernyataan Megawati tidak sepenuhnya mewakili sikap generasi milenial. Jika melihat lebih luas tentang peran dan sumbangsih generasi milenial maka dapat diperoleh berbagai prestasi yang berhasil ditorehkan. Selain itu, ungkapan yang dilontarkan Megawati seolah-olah menilai bahwa generasi milenial adalah seluruh anak muda. Padahal dalam demonstrasi tersebut, tidak semua orang termasuk generasi milenial.

Kasus serupa juga sering ditemukan dalam ungkapan warganet di media sosial. Misalnya, ada warganet yang mengungkapkan milenial sebagai generasi yang terhambat perkembangannya. Hal itu, seolah menimbulkan persepsi bahwa warganet menganggap rendah generasi milenial. Padahal, yang diungkapkan oleh warganet lebih merujuk pada generasi Z.

Dari beberapa contoh kasus yang sudah disebutkan dapat ditarik kesimpulan bahwa banyak warganet, masyarakat, hingga tokoh masyarakat yang salah kaprah dalam penggunaan istilah generasi milenial. Hal tersebut dapat terjadi karena adanya perluasan makna sehingga menyebabkan peyorasi terhadap istilah generasi milenial. 

Jadi, makna generasi milenial yang sesungguhnya adalah mereka yang lahir dalam rentang waktu sekitar tahun 1981 sampai tahun 1994.