Consultant
3 tahun lalu · 606 view · 2 menit baca · Politik ahoksadikin.jpg

Perlu Cagub Seperti Ali Sadikin untuk Mengalahkan Ahok

Pilkada DKI masih lama. Tapi orang sudah meributkan siapa yang kelak bakal bisa menggantikan Ahok. Menggantikan Ahok? Memangnya ada apa dengan Ahok? Apa dia dianggap gagal jadi gubernur selama ini?

Setidaknya, itu yang diinginkan para ABA Fans Club alias Klub Asal Bukan Ahok. Buat mereka, tak terlalu penting alasan mengapa Ahok harus diganti. Yang penting adalah bagaimana pada 2017 nanti, DKI punya gubernur baru, gubernur yang bukan Ahok.

Nah, itu masalahnya. Mencari calon pengganti atau pesaing Ahok sekarang ini susahnya seperti nyari duit. Kalau mau nyebut sembarang nama sih ada aja. Misalnya Sandiaga Uno, Biem Benyamin, dan … (duh, siapa lagi ya?). Tapi, yakin nama-nama ini bisa bersaing melawan Ahok? Kalau jawab yakin tapi di hati sebenarnya ragu itu namanya ndak yakin. 

Lagian kenapa sih ngotot banget pengen menggantikan Ahok? Karena dia keturunan Cina? Karena dia Kristen? Karena dia suka blak-blakan dan bicara kasar? Karena dia nggak bisa diajak kompromi?

Satu-satunya yang bisa membuat nama Ahok jatuh adalah kalau gubernur Jakarta itu terbukti melakukan kesalahan. Nggak usah besar-besar amat kesalahan itu, karena modal ketidaksukaan orang pada Ahok --di bawah sadar mereka-- sebetulnya sudah banyak. Tinggal memantik aja sedikit, bisa dimainkan untuk menggoyang Ahok.

Misalnya, kalau terbukti Ahok pernah menyuap orang atau nilep uang Pemda. Ada sih gosip-gosip seperti ini yang bersliweran di sosial media. Tapi, semuanya hanya sekadar gosip, tak ada buktinya. Tak ada sumber yang layak dipercaya yang bisa mengkonfirmasi kebenaran berita (eh gosip) itu. 

Sebetulnya ada cara lain yang tak perlu mengandalkan keburukan Ahok. Yakni dengan mencari calon yang benar-benar dipercaya publik memiliki sifat-sifat yang dimiliki Ahok, plus Muslim. Biar bagaimanapun, faktor agama tetaplah penting. Bohong kalau penduduk Jakarta sepenuhnya terbuka dan tak terlalu peduli dengan urusan agama.

Mereka mendukung Ahok sambil merem urusan agama selama ini karena ketiadaan calon Muslim yang baik. Ada sih yang baik, tapi tidak cukup memenuhi syarat seperti yang mereka bayangkan. Calon-calon beragama Islam yang ada selama ini tampak terlalu baik: kalem, lembut, sopan, dan tampan. Tapi, bukan calon seperti ini yang diinginkan orang Jakarta.

Penduduk Jakarta sudah terlalu muak dengan kemunafikan. Mereka sudah jijik dengan tampilan yang religius, kalem, kelihatan sopan, tapi sesungguhnya di balik semua topeng itu adalah penjahat. Penjahat urusan uang, penjahat urusan perempuan, dan penjahat urusan agama.

Penjahat urusan uang adalah korupsi. Penjahat urusan perempuan adalah poligami dan kekerasan rumah tangga. Penjahat urusan agama adalah menista dan melakukan diskriminasi pada agama lain.

Ingat ya. Tahun 2004, penduduk Jakarta pernah berharap pada orang-orang yang berpenampilan moralis dan religius. Pada Pemilu tahun itu, mayoritas orang Jakarta mencoblos partai agama yang tokoh-tokohnya selalu tampil religius hingga membuat partai itu menang di ibu kota ini. Tapi, sayang sungguh sayang, orang-orang yang diharapkan itu cuma casing-nya doang yang tampak alim, tapi dalamnya bak komputer jangkrik.

Jadi, gak usah deh jual-jual agama atau kedok moralitas lagi di Jakarta. Kalau mau cari lawan yang sepadan, carilah tokoh yang seperti Ali Sadikin. Casing-nya luar dalam oke, plus dia seorang Muslim.

Persoalannya adalah apa ada tokoh yang seperti itu sekarang?