mahasiswa
2 minggu lalu · 44 view · 4 min baca menit baca · Hukum 64320_48224.jpg
Ilustrasi: paisabazaar.com

Perlindungan Hukum Nasabah Internet Banking

Perkembangan teknologi informasi pada dunia perbankan membuat para perusahaan mengubah strategi bisnis dengan menempatkan teknologi sebagai unsur utama dalam proses inovasi produk dan jasa. 

Seperti halnya pelayanan electronic transaction (e- banking) melalui ATM, phone banking dan Internet Banking misalnya, merupakan bentuk-bentuk baru dari pelayanan bank yang mengubah pelayanan transaksi manual menjadi pelayanan transaksi yang berdasarkan teknologi.

Namun dengan adanya teknologi tersebut terdapat masalah-masalah yang terkait dengan pembahasan makalah ini, seperti satu permasalahan dalam penggunaan internet banking adalah kepercayaan dan kenyamanan bagi para nasabah.

Sementara ini, keamanan dan kenyamanan kurang diprioritaskan oleh banyak bank yang masuk ke internet di Indonesia. Banyak nasabah bank yang tidak mau menggunakan fasilitas internet banking karena merasa tidak aman dan nyaman ketika melakukan transaksi. 

Mayoritas nasabah merasa tidak aman jika web internet bankingyang di akses adalah bukan web resmi melainkan manipulasi dari paracracker (seam page) dan juga takut ketika melakukan transaksi uang mereka tidak sampai ke tujuan yang disebabkan karena ulah para cracker

Bukan hanya itu, tetapi nasabah juga takut kalau PIN dan UserID mereka dapat diketahui oleh pihak yang tidak berwenang. Masalah tersebutlah yang membuat banyak nasabah tidak ingin menggunakan fasilitas internet banking, padahal fasilitas ini sangat efesien dan efektif. Hal ini juga dapat dikategorikan sebagai kebocoran data pribadi dari perusahaan perbankan.

Pengertian e-banking yang didefinisikan oleh Federal Financial Institute Examination Council, yaitu pengiriman produk dan jasa perbankan, baik produk atau jasa tradisional maupun yang modern secara otomatis dan langsung ke nasabah melalui saluran komunikasi elektronik dan interaktif. 


Pengertian internet banking itu sendiri lebih ditekankan ke aspek distribusi layanan perbankan yang bisa diakses dari jauh, terutama melalui koneksi internet. Penerapan Teknologi Informasi di dunia perbankan bertujuan untuk kecepatan dan ketepatan pengolahan dan penyediaan informasi, serta meingkatkan pelayanan kepada para nasabah.

Menurut Bank Indonesia, Internet banking merupakan salah satu layanan jasa Bank yang memungkinkan nasabah untuk memperoleh informasi, melakukan komunikasi dan melakukan transaksi perbankan melalui jaringan internet. Jenis kegiatan internet banking dibedakan menjadi tiga.

Yang pertama adalah Informational Internet Bankingyaitu pelayanan jasa bank kepada nasabah dalam bentuk informasi melalui jaringan internet dan tidak melakukan eksekusi transaksi (execution of transaction).

Yang kedua adalah Communicative Internet Bankingyaitu pelayanan jasa Bank kepada nasabah dalam bentuk komunikasi atau melakukan interaksi dengan bank penyedia layanan internet bankingsecara terbatas dan tidak melakukan eksekusi transaksi. 

Dan yang terakhir adalah Transactional Internet Bankingyaitu pelayanan jasa bank kepada nasabah untuk melakukan interaksi dengan bank penyedia layanan internet bankingdan melakukan eksekusi transaksi.

Pada dasarnya perlindungan hukum kepada nasabah merupakan hal yang sangat essensial melihat adanya fungsi bank sebagai agent of trust. Bank sebagai agen of trust dengan dasar utama kegiatan perbankan adalah trust atau kepercayaan, baik dalam menyalurkan dana maupun dalam menghimpun dana. 

Besarnya kepercayaan nasabah terhadap sistem elektronik berkaitan dengan besarnya kepercayaan mereka terhadap online banking

Untuk mengatur adanya penggunaan teknologi informasi dalam dunia perbankan yang salah satunya internet banking, OJK membuat Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 38/POJK.03/2016 tentang Penerapan Manajemen Risiko dalam Penggunaan Teknologi Informasi oleh Bank Umum (POJK Manajemen Resiko TI).

 Adanya pengaturan baik berupa undang-undang maupun peraturan Otoritas Jasa Keuangan diharapkan dapat mengakomodir semua kebutuhan perlindungan hukum bagi nasabah yang akan melakukan transaksi internet banking. 

Namun ternyata peraturan ini masih terdapat tindakan yang melanggar hak-hak dan perlindungan terhadap nasabah. Salah satu kasus terkait permasalahan internet banking adalah hilangnya uang nasabah pengguna internet banking.

Perlindungan yang diberikan oleh bank sangat penting untuk menimbulkan kepercayaan dan kenyaman nasabah. Karena resiko yang ditimbulkan dalam layanan ini sangat tinggi, ada kemungkinan nasabah menderita kerugian karena disadap oleh hacker/crackeryang mampu menembus firewallatau memasuki website yang memiliki nama domain yang hampir sama.


Sedangkan dari segi tanggungjawab pihak bank sebagai pihak penyelenggara layanan internet bankingmembebankan kepada nasabah agar lebih meningkatkan kewaspadaan dan ketelitian dalam menggunakan layanan internet banking. 

Bila terjadi hal-hal yang mencurigakan atau dianggap akan menimbulkan bahaya dalam hal ini ancaman cybercrime dalam penggunaan internet banking, maka nasabah dapat memberitahukan ke bank bersangkutan melalui call center yang tersedia ataupun bisa langsung mengajukan penggaduan secara tertulis ke CSO bank yang bersangkutan.

Adapun kompensasi yang diberikan oleh bank kepada nasabah internet banking adalah pemberian ganti rugi materiil sesuai kerugian yang dialami nasabah apabila telah tercapai kesepakatan antara nasabah dan pihak bank. 

Karena sebelum pihak bank memberi ganti rugi terhadap nasabah, mereka akan mengecek terlebih dahulu setiap instruksi transaksi dari nasabah yang tersimpan pada pusat data dalam bentuk apapun, termasuk namun tidak terbatas pada catatan,tape/cartridge, printoutkomputer/perangkat.

Dan komunikasi yang dikirimkan secara elektronik antara bank dan nasabah, merupakan alat bukti yang sah, kecuali nasabah dapat membuktikan sebaliknya.

Pembobolan sejumlah rekening bank merupakan bukti bahwa keamanan dari transaksi internet bankingsangat penting. Fakta ini semakin memperkuat argumen dari hasil riset bahwa adopsi internet banking harus mengacu jaminan keamanan dan privasi. 

Yang justru menjadi persoalan bahwa adopsi teknologi terbaru, termasuk internet banking tidak bisa lepas dari proses edukasi kepada karyawan dan nasabah karena keduanya merupakan faktor yang berpengaruh terhadap transaksi. Realitas pembobolan rekening bank harus secepatnya dituntaskan demi menjaga reputasi internet banking.

Perlindungan hukum berkaitan erat dengan rasa kepercayaan dan keamanan nasabah terhadap sistem tersebut, oleh karena itu diperlukan suatu perlindungan hukum yang memadai. 

Namun demikian, terlepas dari nilai lebih layanan internet banking, maka dari sudut pandang hukum kehadiran layanan internet bankingmasih menyimpan sejumlah permasalahan. Kondisi ini diperburuk lagi dengan perubahan pada layanan internet bankingbaik dari sisi teknologi maupun bisnis sangat cepat.

Artikel Terkait