3 bulan lalu · 1993 view · 3 menit baca · Politik 63397_36348.jpg

Perlawanan Sengit PSI VS Gerontokrasi

Setelah sekian lama saya membuat beberapa tulisan mengenai PSI, banyak orang yang bertanya kepada saya dengan nada nyiyir, “Mengapa kamu dukung PSI? Memang apa untungnya buat kamu?” 

Kira-kira pertanyaan-pertanyaan seperti itu muncul dari teman-teman, baik dari dunia nyata, dunia maya, sampai dunia ghoib.

Padahal jika mereka ingin berpikir dan terlihat lebih serius, mereka bisa membaca satu per satu tulisan saya mengenai PSI. Kenapa? Karena di tulisan itulah, terkandung alasan-alasan. Tulisan yang dibuat, artikel yang disajikan, dan setiap pendapat yang dituangkan adalah alasan saya mendukung PSI.

Kebiasaan buruk para pembaca saat ini adalah kebiasaan membaca judulnya saja. Atau jangan-jangan judul harus dibuat tidak menarik agar dibaca? Kalau tidak menarik, tentu tidak ada yang membaca. Kalau menarik, tentu orang sudah merasa cukup tahu isinya dari judul.

Kalau semua artikel bisa dibaca dari judul, tentu ratusan kata dan ribuan karakter akan sia-sia dipublish. Saya percaya bahwa jika orang Indonesia masih bisa berubah. Rakyat Indonesia masih bisa sedikit memberikan waktunya untuk membaca utuh artikel. Mau baca cepat atau baca detail, tidak jadi masalah.

Hal yang menjadi masalah adalah mereka merasa tahu dalam membaca judul. Nah dari sini, izinkan saya sekali lagi untuk memberikan alasan-alasan mengapa saya dukung PSI. Mengapa saya menuliskan banyak hal tentang PSI. Ini menjadi sebuah alasan yang logis.

Pertama, PSI itu memperjuangkan dan benar-benar melawan korupsi. Tidak hanya sekadar lip service, mereka mempertontonkan perlawanan mereka terhadap korupsi. 

Bukan sekadar teori, namun sudah masuk ke ranah pengejawantahan. Pengejawantahan ini ditunjukkan dengan keseriusan mereka dalam menyaring kader-kadernya dan caleg-calegnya.

Mereka menyaring caleg-calegnya, sedemikian rupa sehingga mereka tidak memberikan ruang sedikitpun untuk para eks napi koruptor. Maka satu-satunya jalan adalah dengan cara merekrut kader-kader muda. Yang lepas dari praktik-praktik gerontokrasi.

Ada rontok dalam gerontokrasi. Apa itu politik gerontokrasi? Politik ketuaan. Perlawanan terhadap politik ketuaan atau gerontokrasi ini sebenarnya lahir dari Perancis. Mereka bosan dengan politik dan sistem pemerintahan gerontokrasi yang merontokkan semangat dan menggerogoti parlemen Perancis pada saat itu.

Maka dalam melawannya, para kaum muda pada akhirnya harus melawan dengan bentuk protes di jalanan, di parlemen, dan langsung menuju kepada sistem pemerintahan. Akhirnya, Perancis berubah. Bisa jadi kemungkinan besar, semangat ini diwariskan oleh PSI, dalam merekrut kader-kadernya yang muda.

Sebenarnya gerontokrasi bukan bicara tentang politik yang diisi oleh orang-orang tua. Tapi politik semacam ini berbicara tentang “kebiasan-kebiasaan” tua yang dilakukan oleh partai-partai “tua”. Tua dalam artian “kebiasaan”, bukan “usia”.


Karena bicara tentang usia, KH Ma’ruf Amin pun adalah kandidat yang paling tua. Namun di dalam semangat, jangan-jangan KH Ma’ruf Amin ini memiliki semangat muda dalam menjalankan roda pemerintahan. Tua itu satu hal, akan tetapi dewasa itu lain hal.

Politik gerontokrasi itu melegalkan korupsi. Bahkan ada politisi tertentu, yang hidup dalam “politik tua orde baru”, mengatakan bahwa korupsi itu sah, asal melancarkan pembangunan. Korupsi itu ibarat oli untuk pembangunan. Kalau mau kita kritisi, pembangunan macam apa yang ditunjukan?

Membangun Indonesia, tapi setelah itu rupiah runtuh dan merusak generasi berikutnya? Begitu? Coba lihat apa yang terjadi sebelum krisis moneter yang membahana di 1998. Praktik-praktik sebelumnya yang merusak. Indonesia sempat berada dalam masa-masa kelam politik gerontokrasi.


Inilah yang dilawan oleh PSI. Melawan korupsi. Melawan politik gerontokrasi. Melawan praktik-praktik “legalisasi” korupsi. Menyelesaikan korupsi jangan mulai dari ujungnya saja. KPK memang “terbatas” hanya bisa mengeksekusi di ujung.

Tapi peranan-peranan partai muda seperti PSI lah yang menjadi suluh di tengah-tengah gelapnya dan suramnya harapan akan pemberantasan korupsi. Mereka memulai dari caleg. Caleg-calegnya bebas korupsi. Sengaja perekrutan kader muda, dengan semangat muda yang diseleksi langsung oleh Mahfud MD.

PSI adalah partai yang mau dikatakan sebagai partai seumur jagung, yang memperlihatkan bagaimana keseriusan itu membuahkan hasil. Kita harus mendoakan dan mendukung partai PSI ini, agar bisa lolos ke Senayan. Menjungkirbalikkan praktik-praktik yang sudah mendarah daging di sana.

Kita tentu sangat berharap kepada PSI. Besar harapan dan idealisme mereka, untuk meletakkan satu per satu lentera di tengah gelapnya politik gerontokrasi yang sudah menggerogoti lembaga legislatif di Indonesia. DPR menjadi target operasi pertama dari PSI.

Mungkin istilah “target operasi” agak sensitif bagi kita, khususnya bagi yang memiliki trauma dengan rezim Orde Baru. Tapi, izinkan penulis gunakan istilah ini untuk menjelaskan mengenai PSI, yang mempertontonkan keberanian mereka dalam menghantam praktik-praktik korupsi.


PSI juga tidak pernah setuju akan wacana pelemahan KPK, yang ternyata oh ternyata, tidak disukai juga oleh partai-partai “nasionalis” apalagi “agamais” lainnya. 

Inilah PSI. Inilah alasan saya mendukung PSI. Masih ada alasan yang lain? Ada. Ikuti saja dan Nantikan tulisan saya yang lainnya di sini.

Artikel Terkait