Kemelaratan sebagian besar masyarakat menjadi tontonan banyak pemuda dan sebagian elite negara. Kita mungkin sengaja lupa atau bahkan dibuat untuk lupa terhadap revolusi besar yang pernah ada dan kita sukses melewatinya.

Mungkin karena berangkat dari pengalaman yang sama, yakni ketertindasan dan kemelaratan. Tak ayal, dari pengalaman bersama itu, gelombang perlawanan terhadap sistem dan penggeraknya telah dilangsungkan dan melahirkan revolusi radikal.

Saat ini, apakah mungkin bagi kita untuk melangsungkan revolusi radikal? Elite tak berdaya, pemuda digelapkan matanya dengan jebakan hedonisme dan gaya pikir pragmatisme. Lantas siapa yang akan peduli dengan penderitaan sebagian besar rakyat kita? Lantas siapa yang akan menggerakkan gelombang revolusi radikal?Atau, adakah revolusi pasca-reformasi di negara kita ini?

Sementara, akademisi ternama telah dikooptasi oleh sistem politik dengan menjadikannya komisaris di BUMN dan segala tetek bengeknya itu, kemudian membuat ia bisu dan memberi pandangan yang netral lagi tak berpihak.

Tidakkah kita melihat jerit tangis para petani ketika lahan garapannya dicaplok begitu saja oleh pemerintah? Pembangunan infrastruktur menjadi dalil pembenarannya. Ini tak ubahnya dengan konsep Stallin yang mengalokasikan angkatan kerja pada program industrialisasinya, sekalipun mampu merangsang pertumbuhan ekonomi dalam skala nasional, tetapi ia menyisahkan kisah luka yang dalam bagi para pemiliknya.

Sependek ini, mungkin kita telah banyak menemui hal yang menghambat kemajuan dan menghalangi wujud cita-cita kemerdekaan. Banyak hal yang menyebabkannya, bisa jadi karena tarikan hasrat yang melampaui rasionalitas manusia. Hematku, itu adalah kerja-kerja kapitalisme selain membuat struktur tak kasat mata untuk menindas kaum marjinal.

Sebagai contoh, Adian Napitupulu (mantan aktivis) dan Budiman Sudjatmiko (mantan aktivis) kehilangan taring saat KPK dilemahkan, sementara aktivis-aktivis lokal di daerah dibungkam dengan banyak cara, salah satunya dengan menggantungkan persoalan perut padanya, hingga logika politik rente bermain, tanggung renteng menjadi penguatnya, orasi tinggallah dalam mimpi. 

Bukan hanya itu saja, mantan presiden salah satu partai politik yang notabenenya pengusung pemurnian agama Islam didapati sebagai terdakwa kasus korupsi.

Tak cukup sampai di situ, evolusi ke evolusi, revolusi ke revolusi hingga reformasi sistem relasi sosial tidak menjamin kejahatan dan pelanggaran masa lalu tak akan terjadi kembali hari ini. HAM misalnya, dari Piagam Madinah, Maghna Charta sampai DUHAM dan beberapa kovenan yang telah diratifikasi, tidak menjamin kejahatan atasnya tak akan terjadi. Faktanya justru tetap saja ada.

Demokrasi juga demikian, hal yang menegasi darinya juga tetap saja ada. Betapapun kita telah mentransformasikannya dari demokrasi terpimpin, demokrasi pancasila dan demokrasi konstitusional. Oleh karena itu, sistem yang baik tanpa manusia yang baik tetap saja berpotensi menjadi tidak baik.

Ruang sosial ini memang ngeri-ngeri sedap. Salah sedikit saja, potensi hewani manusia bisa teraktual. Hal itu telah disadari banyak orang, terlebih pelbagai contoh telah tersaji secara alami dan dapat diamati setiap saat. 

Makanya, memasuki ruang sosial, perlu pematangan diri; lahir dan bathin, teoritis dan praksis. Dan yang paling berpotensial untuk itu adalah seorang pemuda dan mahasiswa, sebagaimana kata Tan Malaka, idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki pemuda, sekalipun hari ini hanya sebagian kecil adanya.

Jika ukuran idealnya orang untuk dijadikan teladan (intelektual) adalah; masa lalu, hari ini, dan gagasannya tentang masa depan, lantas kepada siapa lagi kita mencari teladan (intelektual) dengan fenomena yang serampangan seperti saat ini? Oleh karena itu, penting kiranya untuk mendudukkan siapa yang hendak kita runtuhkan. Sebagaimana kata Ustaz Safwan di suatu diskusi, musuh bersama adalah oligarki dan setan besarnya adalah kapitalisme.

Salah satu problem bangsa hari ini adalah kurangnya intelektual organik dan rausyanfikr di tengah-tengah dinamika bangsa. Entah apa penyebab pastinya, hipotesis sementara saya, selain karena ketidakmandirian ekonomi yang menyebabkan pragmatisme dalam gerakan, juga bisa jadi karena sistem yang ada saat ini memungkinkan terjadinya tanggung renteng dalam keburukan yang diakibatkan oleh logika politik rente para elite daerah sampai pusat.

Dalam konteks bernegara memang demikian adanya, sistem kita memang dibuat tersandera akan kepentingan oligarki dan kapitalisme. Salah satu hal yang masih segar dalam ingatan kita adalah upaya pelemahan KPK dan pembiaran sistem partai politik yang bias akan kepentingan yang parsial. Dari sekian banyak problem kita hari ini, naif rasanya kalau kita hanya diam di tempat, apatah lagi ikut-ikutan dalam konstelasi yang memuaskan hasrat semata.

Dalam persoalan ini, saya teringat cerita Ust. A.M Safwan sesaat setelah mengantarnya kembali ke kediamannya. Katanya, suatu waktu orang Indonesia menghampiri Imam Khomeini di Iran dan bertanya; bagaimana caranya untuk melakukan revolusi seperti revolusi Iran di Indonesia? Imam menjawab; ciptakan 1000 (kurang lebih) intelektual organik ala Antonio Gramsci dan rausyanfikr ala Ali Syariati.

Tapi, sebelum terlampau jauh mengidentifikasi maksud dari Imam Khomeini, mari kita tilik terlebih dahulu kedirian kita masing-masing. Sebab, dewasa ini kita krisis memanusiakan diri sendiri. Akibatnya, kita mengalami dualitas kedirian antara kita pada ranah publik dan kita pada ranah privat.

Banyak yang cenderung menolerir kebatilan pada aspek privat sementara cenderung menantangnya pada rana publik, atau sebaliknya; mengampanyekan kebaikan (publik) sementara tindakan kesehariannya buruk (privat), dan yang paling banyak menjangkiti sebagian millenial, yakni bermimpi menjadi Bung Karno tapi tindak laku kesehariannya (privat) seperti “Pak Tarno”.

Oleh karena itu, pengertian seorang yang terpelajar, intelektual yang tercerahkan (rausyanfikr) adalah ia yang menyatukan ranah privat dan ranah publiknya, atau; adalah ia yang menyatukan antara gagasannya dan tindakannya serta ucapan dan perilakunya. Semoga pada ranah privat kita terus berusaha memanusiakan diri sendiri dan mengisi ranah publik (termasuk maya) dengan hal-hal yang positif-progresif, karena amal jariyah tak hanya di masjid!

Hipotesis di atas lahir dari dualitas standar yang bagi orang banyak meletakkan ukuran Intelektual hanya diukur dari tindak laku di aspek publik saja. Hal itu tak cukup, intelektual sebagai teladan tak akan lengkap jika ukurannya demikian.

Tidakkah kita lihat kasus korupsi yang dilakukan oleh orang-orang yang kita anggap cukup berintelektualitas? Tidakkah kita lihat pemuda yang menyelingkuhi kepentingan rakyat yang tertindas? Padahal mereka juga intelek.

Oleh karena itu, intelektual sebagai pribadi yang hendak dijadikan teladan. Ia mesti kita kenali dan ketahui; bagaimana ia membangun relasi sampai pada posisinya di ranah publik. 

Dalam perkembangan politik hari ini, politisi bukan lagi alternatif teladan masyarakat betapapun ia seorang yang intelek. Jika kepribadiannya baik, tak mungkin ia melangsungkan politik uang, korupsi, kolusi dan nepotisme.

Akademisi yang masih independen menjadi ruang yang cukup potensial untuk dijadikan teladan kita saat ini, misalnya seorang Dr. Zaenal Arifin Mochtar yang tak henti-hentinya menyuarakan gagasannya yang ilmiah menyoal pemberantasan korupsi, pemberantasan politik uang, dan menyuarakan gagasannya tentang negara di masa depan.

Oleh karena itu, kita mesti identifikasi bahwa ruang akademik yang baik adalah ruang yang terminimalisir oleh anasir politik, sebab pada dirinya (akademisi) terletak kemandirian berpikir yang dilengkapi pisau analisis yang tajam (ilmiah). Hal itu memang belum di rasa cukup untuk mendobrak dan merobohkan oligarki dan kapitalisme.

Solusi berukitnya adalah dengan menciptakan rausyanfikr ala Ali Syariati dan Intelektual organik ala Antonio Gramsci. Akademisi mendidik dan melahirkan akademisi-akademisi yang independent dan Rausyanfikr serta intelektual organik mendidik rakyat dengan dan juga mendidik penguasa dengan perlawanan.

Siapakah intelektual organik itu? Gramsci memakai istilah intelektual dalam arti luas yang secara praktis ekuivalen dengan intelegensia, atau semacam kelas terdidik. Dan pada umumnya setiap kelas utama memproduksi lapisan intelektualnya masing-masing yang kemudian bertugas mempertahankan keberlanjutan gerakan masyarakatnya. Tak hanya itu, seorang intelektual organik baginya harus mampu menyatukan entitas yang berbeda berdasarkan solidaritas tertentu.

Bagi Gramsci, intelektual organik adalah seseorang yang tidak sekadar menjelaskan kehidupan sehari-hari dari luar berdasarkan kaidah-kaidah saintifik, tapi juga memakai bahasa kebudayaan untuk mengeskpresikan perasaan dan pengalaman nyata yang tidak bisa diekspresikan oleh masyarakat secara umum.

Dengan demikian, intelektual organik adalah sesuatu yang amat penting keberadannya dalam masyarakat marjinal. Semestinya, keberadaannya bukanlah di menara gading, kantor-kantor ber AC dan duduk diatas sofa yang empuk, melainkan harus berada di tengah-tengah masyarakat yang masrjinal. 

Sementara, Rausyanfikr adalah pemikir yang tercerahkan. Ia berbeda dengan ilmuwan. Seorang ilmuwan menemukan kenyataan, sementara seorang rausyanfikr menemukan kebenaran. Ilmuwan hanya menampilkan fakta sebagaimana adanya, rausyanfikr memberikan penilaian sebagaimana seharusnya.

Jadilah!