Bumi Manusia saat ini sedang mencuri perhatian masyarakat Indonesia. Film yang tayang pada saat menjelang hari kemerdekan Indonesia itu sudah mendapat hampir 100 ribu penonton di hari pertamanya. Jumlah penontonnya pun terus meningkat hingga hari ini.

Film ini diadaptasi dari novel yang ditulis oleh penulis legendaris Indonesia, Pramoedya Ananta Toer. Novel Bumi Manusia merupakan salah satu mahakarya Pram. Novel ini berlatarkan tanah Jawa pada awal abad ke-20 ketika era kolonialisme Belanda masih berkuasa.

Bumi Manusia bercerita tentang kisah percintaan antara Minke, yang diperankan oleh Iqbaal Ramadhan, dan Annalies Mellema, yang diperankan oleh Mawar de Jongh. Minke merupakan seorang pribumi, berdarah asli Jawa. Sedangkan Annalies adalah seorang Indo, yang merupakan darah campuran; ayahnya Eropa sementara ibunya adalah seorang Nyai (gundik) yang pribumi.

Tema dari cerita ini sebenarnya bukan hanya tentang kisah percintaan. Namun, tentang perjuangan pribumi melawan diskriminasi hukum bangsa Eropa. Melawan rasialisme pada era kolonialisme yang menganggap bangsa Eropa dan Indo lebih terhormat dibanding dengan pribumi.

Minke dan Nyai Ontosoroh, Pribumi yang Melawan

Nama asli Minke adalah Tirto Adhie. Ia mendapat nama Minke dari gurunya di HBS, yang akhirnya ia sadari kata Minke berasal dari Monkey (monyet). Itu merupakan salah satu rasialisme yang ditunjukkan oleh bangsa Eropa terhadap pribumi dalam film ini.

Namun, Minke tetap menimba ilmu di HBS, meski ia seorang pribumi. Dan Minke adalah seorang pribumi yang pintar. Ia mahir berbahasa Belanda layaknya orang Eropa. Selain itu, ia rajin menulis di surat kabar.

Pertemuan antara Minke dan Annalies bermula pada saat Robert Suurhorf, teman Minke, mengajaknya ke rumah Robert Millema, kakak dari Annalies. Kunjungan Suurhorf yang mengajak Minke itu ternyata bertujuan untuk merendahkan Minke di hadapan Annalies. 

Namun, ternyata Annalies tidak sama seperti gadis Indo lainnya yang tertarik dengan anak Eropa atau Indo. Justru Annalies tertarik dengan Minke. Minke pun diajak berkeliling perusahaan milik keluarganya dan meninggalkan Suurhorf serta Robert Mellema. 

Ketertarikan Annalies pada dirinya membuat Minke heran. Karena Annalies tidak seperti orang Eropa atau Indo lain yang memperlakukan dirinya. Keheranan Minke makin menjadi ketika ia bertemu dengan ibu Annalies yang seorang pribumi, Nyai Ontosoroh.

Nyai Ontosoroh, yang diperankan oleh Sha Ine Febriyanti, membuat Minke heran sekaligus kagum. Pasalnya, meskipun ia seorang gundik dari orang Eropa, ia dapat menunjukkan wibawanya.

Nyai Ontosoroh tidak seperti gundik lainnya. Ia pintar dan fasih berbicara bahasa Belanda layaknya orang Eropa. Nyai pun mampu mengurusi perusahaan Mellema milik suaminya. Nyai pun dihormati oleh semua yang ada di rumah Mellema, kecuali Robert, karena dia memandang rendah pribumi seperti orang Eropa dan Indo pada umumnya. 

Minke dan Nyai Ontosoroh menjadi simbol perlawanan pribumi pada film ini. Mereka menolak diperlakukan seperti budak oleh orang Eropa dan Indo. Mereka membuktikan bahwa pribumi juga dapat berpendidikan seperti orang Eropa dan Indo. 

Konflik dalam Cerita

Konflik dimulai saat Minke diperintahkan pulang ke Bojonegoro oleh ayahnya. Ayah Minke adalah seorang priayi, pribumi yang memiliki jabatan. Minke dipanggil pulang karena beredar kabar bahwa Minke tergoda oleh seorang Nyai hingga lupa dengan keluarganya.

Dalam kisahnya, meskipun Minke anak seorang priayi, tetapi ia meninggalkan keningratannya. Ia berkata kepada ibunya, "Aku hanya ingin menjadi manusia bebas, tidak diperintah, dan tidak juga memerintah. Duniaku bukan jabatan, pangkat, gaji, dan kecurangan. Duniaku bumi manusia dengan berbagai persoalannya." 

Minke pun kembali ke Surabaya untuk melanjutkan sekolahnya di HBS dan menemui kembali Annalies di Wonokromo. 

Konflik kembali terjadi ketika Herman Mellema tewas di tempat prostitusi. Kasus tewasnya Herman ini dibawa ke pengadilan. Dari sinilah penonton disajikan pengadilan era kolonialisme dulu. Pengadilan yang diatur oleh orang-orang Eropa dengan perlakuan-perlakuan diskriminatif terhadap pribumi.

Nyai Ontosoroh yang dituduh jadi dalang pembunuhan Herman diperlakukan diskriminatif di pengadilan. Perlakuan diskriminatif itu seperti harus membuka alas kaki di pengadilan, berjalan jongkok di hadapan hakim, hingga tidak diperbolehkan berbicara menggunakan bahasa Belanda oleh pribumi.

Namun di pengadilan, Nyai Ontosoroh dapat melawan dan membuktikan tuduhan itu salah. Hingga akhirnya seorang pegawai prostitusi itu mengaku membunuh Herman.

Setelah peristiwa itu, Minke akhirnya menikahi Annalies. Pernikahan itu diakui sah oleh pengadilan agama. Sehingga Minke tercatat sebagai suami sah Annalies.

Namun, konflik lain muncul. Setelah kematian Herman Mellema, hak asuh Annalies tidak jatuh pada Nyai Ontosoroh. Hal itu karena Herman tidak menikahi Nyai Ontosoroh secara sah. Sehingga hak asuh jatuh ke istri sah Herman yang ada di Belanda, meskipun Nyai Ontosoroh adalah ibu kandung Annalies.

Annalies pun diperintahkan untuk kembali ke Belanda. Perlawanan berikutnya pun dilakukan oleh Nyai Ontosoroh dan Minke. Mereka berdua tidak menerima pemulangan Annalies, terlebih Minke sebagai suami sah Annalies. 

Nyai Ontosoroh pun melakukan banding di pengadilan, sementara Minke menjadi lebih rajin menulis di surat kabar. Minke mengangkat tentang ketidakadilan hukum yang dibuat orang Eropa. Minke menulis tentang diskriminasi orang Eropa dalam memperlakukan pribumi, sehingga mulai membangkitkan kesadaran kaum pribumi akan ketidakadilan.

Namun, berbagai perlawanan yang dilakukan Nyai Ontosoroh dan Minke akhirnya tidak membuahkan hasil. Kekuatan hukum bangsa Eropa tidak dapat dilawan. Annalies pun dijemput paksa untuk pulang Belanda dan meninggalkan Nyai Ontosoroh serta Minke.

Di akhir film, tangis dari Nyai Ontosoroh dan Minke serta orang-orang di perusahaan Mellema melepas kepergian Annalies. "Kita telah melawan, Nyo. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya," kata Nyai Ontosoroh kepada Minke.

Epilog

Era Bumi Manusia ini memang era di mana kolonialise sedang sangat kuat. Pribumi tidak berdaya melawan hukum yang diterapkan bangsa Eropa. Sekuat-kuatnya melawan, tetap tidak kalah. Namun, inilah awal perlawanan kaum pribumi. Tulisan-tulisan Minke justru memantik perjuangan untuk melawan kolonialisme.

Film ini berhasil menunjukkan bagaimana penderitaan pribumi atas diskriminasi dan penjajahan era kolonialisme. Maka di dalam piagam Jakarta, paragraf pertama pun disebutkan:

"Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan."