Uni Eropa, sebagai wujud tahap akhir dari integrasi politik dan ekonomi regional, menjadi dambaan bagi bentuk regionalisme lain di dunia. Sebaga iunion, Uni Eropa mencatat berbagai keberhasilan seperti dengan mendorong demokratisasi, pasar bebas, dan unifikasi kebijakan sehingga Uni Eropa menjadi aktor berpengaruh di setiap kebijakan yang dijalankan oleh setiap negara-negara anggota Uni Eropa. Sebagai aktor yang berpengaruh, Uni Eropa memiliki bank sentral, mahkamah, dan ibukotanya sendiri.

Namun, sebagaimana ciptaan manusia yang lain, Uni Eropa memiliki cacat yang seringkali disadari oleh negara anggotanya, dan gerakan ini bisa kita kenal sebagai Eurosceptisism. Inggris adalah salah satunya, yang sampai saat ini gerakan eurosceptisism mendapatkan tempat di ranah publik Inggris oleh partai seperti Konservatif dan UKIP.

Bagi Inggris, keberadaan Uni Eropa tidak baik bagi kemajuan negara mereka karena sebagai sebuah organisasi regional, Uni Eropa membatasi kedaulatan Inggris dalam memutuskan berbagai hal seperti nilai tukar, migrasi orang dan berbagai hal lainnya. Tulisan ini akan membahas gerakan British Exit dan pengaruhnya pada keberadaan Uni Eropa.

Sekilasi Mengenai Uni Eropa dan Apa yang Ingin Mereka Capai

Dua hal yang ingin dicapai Uni Eropa adalah integrasi ekonomi dan politik. Secara ekonomi, proyek Uni Eropa untuk menyatukan Eropa secara ekonomi sudah dimulai. Mulai dari Common Agricultural Policy, Exchange Rate Mechanism, sampai Bank Sentral Eropa. Tujuannya adalah menghilangkan hambatan perdagangan, menyesuaikan nilai tukar menjadi seragam, menyesuaikan harga komoditas, seperti batu bara dan gandum, dan menciptakan pasar tunggal .

Integrasi politik oleh Uni Eropa dicapai dengan cara membentuk Parlemen Eropa, Komite Ekonomi dan Sosial Eropa, Mahkamah Eropa dan sebagainya. Intinya, badan-badan ini akan membahas dan menentukan regulasi bersama yang berkaitan dengan hukum, ekonomi, sosial dan aspek publik lainnya.

Namun, peran mereka sebatas menangani konflik antar anggota Uni Eropa, maupun organisasi yang berdiri di negara anggota Uni Eropa dan melanggar ketentuan yang ditetapkan Uni Eropa. Sebagai organisasi regional, Uni Eropa memperoleh bujetnya dari jumlah bea masuk yang dibebaskan dari impor masing-masing negara anggota Uni Eropa (dirumuskan pada tahun 1977) dan proporsi dari GNP negara anggota (disusun tahun 1988).

Pengaruh Uni Eropa bagi masing-masing negara anggota Uni Eropa bisa ditemukan dalam Pemerintahan Pusat, Kementerian Luar Negeri ( untuk kasus Inggris, Commonwealth Office juga termasuk), dan Pemerintahan Lokal. Di tingkat pemerintahan pusat, perdana menteri memiliki staff yang akan melaporkan dan melakukan negosiasi atas kepentingan negaranya di Parlemen Eropa dan badan-badan lainnya ( di Inggris, staf-staff tersebut tergabung dalam Ministerial Group for European Coordination).

Sementara itu, di Kementerian Luar Negeri (dan Commonwealth Office untuk Inggris), mereka harus mengikut apa yang dinamakan Common Foreign and Social Policy, yang secara singkat berupa segala tindakan yang dilakukan oleh negara anggota Uni Eropa harus mendapatkan persetujuan dari negara anggota Uni Eropa lainnya. Dari segi Pemerintahan Lokal, Pemerintahan Lokal yang terdapat di dalam negara anggota Uni Eropa memiliki kesempatan untuk membuat proyek yang melibatkan Uni Eropa, negara anggota Uni Eropa, maupun pemerintahan lokal yang lain.

Dari segi program dan kebijakan, Uni Eropa mengatur banyak aspek kehidupan dari negara-negara yang menjadi anggotanya. Buku the European Unions and British Politics yang ditulis oleh Andrew Geddes merinci kebijakan-kebijakan Uni Eropa dan respon Inggris menjadi beberapa bagian, yakni Common Agricultural Policy, European Union Enviromental Policy, European single market, European Monetary Union, Maastricht Treaty, dan Common Foreign Social PolicyCommon Agricultural Policy mengatur harga,suplai pertanian dan pertenakan, sekaligus mengatur standar kesehatan dari produk tersebut. 

European single market diatur dalam Treaty of Rome, berisi tentang pembebasan hambatan perdagangan, perpindahan barang dan orang. European Monetary Union mengatur mata uang tunggal dan kebijakan ekonomi bersama. Terakhir, Common Foreign and Social Policymengatur tentang angkatan bersenjata bersama Eropa dan kebijakan militer bersama Eropa yang berwujud joint action.

Kritik Terhadap Uni Eropa: Perspektif Inggris terhadap Melemahnya Ekonomi Uni Eropa

Uni Eropa yang ambisius memiliki kelemahan, atau setidaknya itu yang dilihat oleh negara anggotanya, seperti Inggris dan kemunculan British Exit.Gerakan British Exit muncul karena asumsi bergabungnya Inggris dengan Uni Eropa akan membatasi Inggris sebagai negara berdaulat, terutama terkait kebijakan yang berkaitan dengan kemakmuran orang banyak.

Sebagai referensi dalam tulisan ini, buku yang diedit Martin Holmes yang berjudul The Eurosceptical Reader memperlihatkan keraguan tokoh-tokoh Inggris atas beroperasinya Uni Eropa dan segala kebijakannya dan tulisan ini akan merangkum beberapanya. Kritik yang paling awal berbicara soal berlakunya Euro dan European Monetary Union sebagai badan pelaksananya.

European Monetary Union yang diisi oleh gubernur bank sentral di semua negara-negara Eropa dan bertugas menjaga tingkat inflasi, dianggap tidak demokratis karena mereka tidak dipilih secara demokratis, sedangkan wewenang mereka begitu besar. Sangat janggal, jika keberlangsungan ekonomi suatu negara diarahkan oleh orang lain yang bukan berasal dari negara tersebut, tidak tinggal di negara tersebut, dan secara sepihak meminta negara lain untuk menggunakan aturan ekonomi yang ditetapkan Uni Eropa.

Kedua, peran mereka dalam menjaga inflasi dan harga berarti EMU tidak akan peduli akan jumlah pekerjaan atau jumlah uang yang harus dimiliki bank di tengah hutang yang dimiliki individu, asal jumlah inflasi dan harga terjaga. Ini terjadi di Spanyol dan Irlandia, dimana pengangguran harus di atasi dengan pengetatan dan pemotongan subsidi, sehingga dampak melemahnya Euro yang bersumber dari dua negara tersebut tidak terjadi. Jika berbicara dari perspektif Inggris, walaupun mereka bisa menangkis dampak melemahnya Euro dengan menggunakan poundsterling, tapi mereka akan kesulitan menangani migrasi para penduduk dari negara anggota Uni Eropa yang mengalami pelemahan ke negara kepulauan tersebut. Sehingga, karena Inggris merupakan anggota Uni Eropa, penduduk Inggris dan penduduk negara anggota Uni Eropa harus diperlakukan sama, dan benturan akan terjadi karena perbenturan di lapangan kerja.

Kritik berikutnya datang dengan melihat korelasi antara efektivitas Uni Eropa dan perdagangan Eropa-Inggris. Kritik yang ditulis oleh Graeme Leach menyatakan bahwa diberlakukannya mata uang tunggal berarti ekonomi Inggris menjalankan apa yang dinamakan konvergensi, yakni performa ekonomi Inggris ditentukan oleh performa ekonomi negara-negara Eropa.

Berlakunya mata uang Euro akan menyamakan bunga bank dan menurunkan sifat spekulatif, sehingga orang-orang akan beralih menggunakan mata uang negara non Uni Eropa dan menggunakannya untuk membeli barang di luar Uni Eropa. Penggunaan Euro merupakan pintu gerbang dari masuknya barang-barang yang lebih unggul dari negara yang dominan secara teknologi, seperti Jerman dan Perancis. Uni Eropa mengagas pergerakan barang dan orang yang bebas dari hambatan, sehingga negara anggota Uni Eropa diharuskan bersaing dengan standar yang sama dan menggunakan uang yang sama, serta tidak diizinkan melakukan tindakan seperti devaluasi yang membuat suatu komoditas bisa unggul dari nilai mata uang yang diturunkan, dan barang tersebut jadi murah. Inggris memiliki basis industrinya sendiri dan bisa memanipulasi harga dengan mata uangnya, namun cepat atau lambat, mereka harus melakukan kompromi terhadap kemajuan ekonominya, dengan membayar pajak dan kompensasi lainnya untuk Uni Eropa. Porsi yang dibayarkan cukup besar, bahkan mampu membuat National Health Service atau layanan nasional kesehatan Inggris (seperti BPJS) terancam kolaps, karena besarnya proporsi pajak yang digunakan untuk Uni Eropa ditengah perlambatan ekonomi global.

Ekonomi negara-negara Eropa yang cenderung lebih lemah dibanding Inggris, jika dilihat dari tingkat inflasi, akan mendorong Inggris untuk membeli barang-barang yang berasal dari negara Uni Eropa lain karena melemahnya performa negara Uni Eropa juga akan menurunkan kredibilitas ekonomi Inggris. Padahal, basis ekonomi domestik dalam Inggris yang dikenal dengan SDMnya yang cukup baik malah dimanfaatkan oleh Uni Eropa melalui pergerakan bebas,maka tidak heran firma Inggris memutuskan untuk pindah dari Inggris karena mereka harus bersaing dengan industri dari negara lain untuk mendapatkan sumber daya manusia terbaik. Melemahnya Euro tidak akan menghentikan firma Inggris untuk pindah, karena pengetatan di beberapa negara anggota akan membantu mata uang euro untuk tetap kompetitif.

Dari segi tingkat bunga, nilai poundsterling sebagai mata uang akan mengalami overvalue jika Euro memutuskan untuk menurunkan tingkat bunga. Sebagai akibatnya, housing boom disusul dengan naiknya angka pengangguran tidak akan terelakkan, seperti yang terjadi di Irlandia, Spanyol, dan Portugal. Ini tidak lepas dari lepas kendalinya Euro dari kendali negara anggotanya, sehingga dengan rendahnya bunga dan tiadanya kendali, pergerakan uang tidak dibatasi dan cadangan euro yang seharusnya digunakan untuk kemajuan negara, malah dialihkan untuk dikembangkan melalui saham privat, dan kemudian disalurkan ke berbagai produk mortgage. Inggris termasuk mitra utama Uni Eropa dalam berdagang, dan melemahnya Euro memaksa Inggris cepat atau lambat mencari mitra ekonomi baru. Jika tetap bertahan dengan Uni Eropa sebagai mitra dagang, akan terjadi perlemahan ekonomi, karena Inggris harus melakukan dua tugas sekaligus, membayar iuran keanggotaan, sekaligus menjamin agar produk Uni Eropa terserap.

Penutup

Penulis beranggapan Uni Eropa yang menginginkan integrasi menyeluruh di segala aspek, termasuk ekonomi, dapat merugikan Inggris. Salah satu sebab adalah besarnya beban yang harus ditanggung negara Eropa yang lebih maju, termasuk Inggris untuk mendorong ekonomi negara anggota dengan kapabilitas ekonomi yang tertinggal, sekaligus harus menjamin ekonomi mereka cukup maju untuk bersaing dengan negara Eropa lain, terutama Jerman dan Perancis. Namun yang terjadi adalah, industri Inggris mulai terbujuk untuk pindah ke negara lain, dan Inggris harus membujuk investasi yang tersisa di negara kepulauan tersebut untuk bertahan, sehingga tenaga kerja yang tersisa masih bisa diserap. Kesulitan-kesulitan yang berbuah fenomena Brexit ini tidak akan menjadi fenomena yang terisolasi, karena akan menjadi motor bagi negara anggota lain untuk keluar dari Uni Eropa, karena kesulitan-kesulitan tersebut bukanlah milik Inggris semata.