Menggunakan dan memanfatkan musik sebagai media resistensi dan katalis untuk sebuah perubahan bukanlah hal baru. Ketika agama memiliki kitab suci, kekuasaan memiliki negara, dan keadilan sosial memiliki hip-hop, maka musik bising juga memiliki suara-suara keras dalam gerakan pelestarian lingkungan.

Literasi pada lirik-liriknya cukup memberikan model perlawanan baru dalam kampanye lingkungan hidup. Musik bising yang kerap berbicara tentang tragedi ekologi ini antara lain yang berjenis "grindcore" yang mengandalkan suara "growl" untuk menyamarkan pedasnya kritik ekologi.

Suara growl cukup memberikan kompetensi dan kompetisi literasi dari lirik-lirik yang dihasilkan. Growl adalah salah satu teknik bernyanyi yang gahar, agresif,  dengan durasi teriakan yang cukup lama.

Vokal growl terdengar seperti suara monster sehingga kadang menakutkan, bahkan banyak yang mengatakan seperti suara kematian di kuburan, yang kemudian disebut sebagai "death vokal".

Growl pada umumnya dimiliki oleh para vokalis grindcore, aliran metal yang ekstrem. Dalam sebuah lagu grindcore kadang lirik vokal, isi yang dinyanyikan tidak terdengar jelas, bahkan vokal growl kadang hanya digunakan untuk pelengkap suara alat musik yang penuh distorsi dan dentuman.

Sebenarnya, jika dilihat dari sejarah dan perkembangannya literasi lirik dan vokal growl sudah digunakan dari sejak tahun 1956, yaitu oleh band Screamin' Jay Hawkins dalam lagunya yang berjudul I put a spell on you.

Kemudian pada tahun 1966, band who menggunakan vokal growl untuk lagu Boris the Spider.

Dalam perkembanganya kemudian, teknik growl ini mengalami beberapa penyesuaian menjadi berbagai tipe vokal growl, yang disesuaikan dengan karakteristik vokalis dan kebutuhan band.

Pada umumnya penggunaan teknik growl ini berkembang dan digunakan oleh band metal yang akhirnya banyak digunakan band grindcore. Penggagas utama vokal growl untuk band metal adalah band Death, kemudian band possessed, Necrophagia dan Mater.

Pada tahun 1980an band grindcore asal Inggris Raya, Napalm Death, memberikan sentuhan vokal growl yang lebih dalam dan lebih agresif. Jenis suara yang dikembangkan Napalm Death inilah yang kemudian dilestarikan oleh banyak band grindcore.

Jenis lainnya yang juga dikembangkan adalah jenis vokal growl band Cannibal Corps, oleh vokalisnya Chris Barnes. Jenis ini memberikan sentuhan gelap dan kasar yang juga berkembang di kalangan band grindcore.

Grindcore (sering di singkat menjadi grind) adalah sebuah aliran musik yang muncul pada awal hingga pertengahan 1980-an. Musik ini adalah gabungan dari beberapa musik ekstrem: death metal, musik industrial, musik bising, dan beberapa variasi hardcore punk.

Walaupun gaya musiknya yang amat sangat tidak disukai, pengaruh grindcore menyebar ke pelosok dunia musik.

Ada alasan pribadi, seperti emosi menggeram menyampaikan atau "tujuan" dari death metal sebagai genre yang tercermin oleh gaya vokal. Menurut pendapat saya sendiri, geraman cocok dengan instrumen dalam death metal dengan cara yang sangat memuaskan.

We’re getting into really heavy territory now. Birmingham, England’s grindcore veterans Napalm Death renowned history of ecological, progressive, and anti-capitalist views are reinforced on the furious “On the Brink of Extinction”. Released on their thirteenth studio album, the track explores the possibility of an impending sixth mass extinction.

Perhatikan kedalaman sintaksis kalimatnya:

Will we avoid a natural selection?
Do we have the right to survive the failures?
Nature, it’s force – the scales unbalanced
What’s the next step? How do we evolve?”

Khas pecutan gitar dengan nada rendah dan terdistorsi cocok dengan vokal yang kencang dan terdistorsi pula.

Bagi Grindcore, bernyanyi tidak perlu dan wajib mencapai kualitas suara yang sama, namun tingkat hantaman liriknya secara umum menjadi pilihan utama konsumen death metal. Sebagaimana pula juga dibuktikan oleh status normatif literasi pada lirik-liriknya serta sikap keberpihakan personelnya.

Ideologi hantaman lirik yang diwalilkan okeh kesederhanaan simbol bahasa yang berupa suara growl, dijelaskan  oleh salah satu pemusik berisik yang mantan drummer Napalm Death, Mick Harris.

Dia mengatakan sebagai berikut:

“Grindcore came from "grind", which was the only word I could use to describe Swans after buying their first record in '84. Then with this new hardcore movement that started to really blossom in '85, I thought "grind" really fit because of the speed so I started to call it grindcore".

Kekuatan lirik perlawanan grindcore grup musik berisik Napalm Death dibesut literasinya oleh Lee Dorrian, seorang vokalis sekaligus redaktur/penerbit dari majalah punk "Committed Suicide".

Kedalaman liriknya dapat Anda nikmati hantaman pada album Scum.