Selama beberapa bulan terakhir kita sebagai pelajar dan mahasiswa harus menjalani pembelajaran dan perkuliahan secara online. Ini disebabkan mengingat kita sedang dilanda dan berperang melawan pandemi Covid-19.

Hal ini tentu mengalami perubahan dan cara yang sangat berbeda, di mana sudah bertahun-tahun lamanya kita mendapatkan pendidikan di sekolah atau kampus dengan bertatap muka secara langsung antara guru/dosen dengan anak didiknya. Namun, untuk kali ini justru kita diharuskan agar dapat belajar mandiri dengan menggunakan media sosial atau pembelajaran secara online.  

Pembelajaran secara online tidaklah mungkin dapat seefektif pembelajaran secara langsung dengan tatap muka. Selain tidak efektifnya penyampaian materi melalui media sosial, hambatan lainnya yang juga sangatlah berpengaruh adalah kurangnya akses jaringan, krisisnya kuota internet, dan yang terakhir krisis ekonomi untuk pembelian kuota internet.

Inilah mengapa banyak mahasiswa menuntut untuk dapat diringankan pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) kepada pihak kampus dan harapannya dapat dibebaskan seratus persen. Bukan berarti menghindari kewajiban mahasiswa kepada kampus, melainkan ada saling pengertian bersama, di mana ada kondisi perkuliahan online dan juga krisis ekonomi.

Pembelajaran secara online memang tidaklah mudah, namun karena kondisi yang memaksakan haruslah dapat dijalani sebagaimana mestinya. Beruntung saja kalau pelajarannya dapat diakses dengan mudah di google tanpa penjelasan secara detail dari dosen, melainkan ada kemauan keras dengan akses jaringan yang memadai dan dapat menghindari kemalasan.

Tetapi, ketika pelajaran tersebut tidak dapat dipahami tanpa bimbingan dan penjelasan dari dosen, tentulah dapat menghambat proses akademisi mahasiswa. Salah satu dari pelajaran tersebut adalah Matematika, terutama Matematika Sains.

Belajar Matematika tidaklah dapat dipahami hanya dengan membaca sekilas saja. Tetapi butuh ketelitian dan pemahaman mengenai konsep dan arah sesuai dengan rumus tertentu. Dan yang lebih penting adalah memperbanyak latihan dengan mengerjakan contoh-contoh soal sebagai penopang agar mahir di bidang Matematika.

Ilmu Matematika memiliki cara dan konsep tertentu untuk dapat memahaminya, imajinasi seakan terbatasi karena kita dituntun harus sesuai dengan teorema dan defenisi tertentu pada teori pelajaran Matematika.

Matematika memang dikenal sebagai ilmu pasti, dengan kerumitan luar biasa, karena harus bergelut dengan perhitungan dan banyaknya rumus-rumus yang disediakan. Rumus-rumus inilah harus kita mampu kombinasikan dengan soal-soal sesuai dengan bentuk dan jenisnya.

Dalam kenyataannya saja memang tidak bisa dimungkiri kalau minat mengambil jurusan Matematika sangatlah kurang, dan rata-rata jurusan Matematika di setiap Kampus berbanding rendah jika dibandingkan dengan jurusan-jurusan lain.

Meskipun dunia saat ini berada pada genggaman teknologi, hampir segala informasi dan ilmu pengetahuan dapat dengan mudah didapatkan melalui Smartphone, Notebook ataupun teknologi sejenisnya. Akan tetapi, Matematika tidaklah semudah dengan ilmu-ilmu sejarah yang ketika diketik di ruang google pasti akan muncul sesuai dengan harapan.  

Namun, Matematika tidak seperti demikian. Di google hanya akan memberikan materi namun tidak cukup tanpa penjelasan, begitu pun ketika ada soal Matematika tentu tidak bisa memberikan jawaban secara pasti sesuai dengan pertanyaan. Google mungkin hanyalah menampilkan contoh yang agak mirip, namun lagi-lagi haruslah kita pahami dulu konsepnya.  

Inilah mengapa tidak semua pelajaran dapat disamaratakan sistemnya dengan yang lain. Terutama cara memberikan materi, apalagi dengan kondisi hari ini pembelajaran dilakukan secara secara online.

Dan parahnya juga, jika tenaga pengajar tidak mampu mengenali karakter dan potensi anak didik. Siswa ataupun mahasiswa sangatlah beragam, dan memiliki cara yang berbeda-beda dalam memahami pelajaran. Ketika sistem pembelajaran dilakukan secara merata dan dipaksakan harus sama semua, tentu tidaklah dapat berjalan secara normal.  

Inilah pentingnya perlu pemahaman mengenai kondisi dan asupan materi yang harus diberikan sesuai dengan kadarnya masing-masing. Sehingga mereka juga dapat mengembangkan potensinya tanpa berada dalam kekangan dan keterpaksaan tetapi harus dilandasi dengan dukungan yang terus membangun.

Oleh karena itu, di tengah sistem pembelajaran hari ini, perlu ada kolaborasi dengan baik antara pengajar dan anak didik. Tidak sekadar memenuhi tanggung jawab memberikan pelajaran saja, melainkan harus dapat memahami apakah hal itu sudah dipahami dan tersave dengan baik.

Jangan sampai kurangnya pemahaman terhadap anak didik mengenai seberapa tahukah mengenal pelajaran yang diberikan, dan apa saja kendala sehingga pelajaran sulit dipahami.