Pada sisi kiri, bagian depan rumah saya, berdiri sebuah toko kelontong warisan nenek. Selain menjual kebutuhan sehari-hari produksi pabrikan, toko sederhana kami juga menjual sayur-mayur segar, berbagai jenis ikan, daging potong, dan selalu ramai oleh merdu tawar-menawar ibu-ibu di setiap paginya.

Kelak, ketika sudah membaca buku Mitos Sisipus dan muncul kecintaan baru terhadap buku, saya merasa toko tersebutlah perpustakaan pertama yang secara rutin saya kunjungi.

Sekitar 25 tahun lalu, saya senang sekali memanjat dahan-dahan rendah, memotong tanaman-tanaman bunga ibu, atau menggambari tanah dengan setangkai ranting. Nenek, yang tiap pagi dan sore senantiasa sibuk di dapur, kerap tiba-tiba memanggil. Ia meminta saya mengambil bahan atau barang tertentu untuk kelengkapan komposisi bumbu.

Mula-mula saya terganggu dan memenuhi permintaannya dengan agak terpaksa, terutama pada tanggal merah dan hari minggu. Saya merasa harus memahami hal-hal yang tidak saya tahu kenapa harus saya kuasai cara-cara membedakannya. Misalnya, antara jahe dan lengkuas, atau merica dan kemiri.

Namun, ketika pohon pisang di halaman belakang terserang virus dan harus ditebang seluruhnya, ibu secara berkala belanja kertas-kertas bekas sebagai pengganti daun pisang untuk membungkus barang-barang tertentu yang dibeli pelanggan. Ada koran, majalah, buku tulis siswa SD yang sudah beranjak ke jenjang menengah pertama, dan lain sebagainya. Saya mulai memiliki kebetahan lain dengan toko kelontong nenek.

Suatu hari, saya menemukan buku gambar yang di dalamnya terdapat selembar panorama. Lanskap pegunungan yang bagi bayangan seorang bocah tidaklah umum. Bukan gambaran sepasang gunung identik dengan selajur jalan membelah nyaris tepat di tengah dan sawah di kanan-kirinya, melainkan gunung tak megah, kecil belaka, dan diletakkannya gunung itu dalam framing kolong jembatan desa.

Baca Juga: Melunasi Kertas

Ia memberi detail menakjubkan pada akar dan tetumbuhan liar di sekitar pangkal pohon besar yang bercokol tepat di samping jembatan yang di bawahnya mengalir sungai, bebatuan yang tampak bergeletakan, patahan arus serupa air terjun kecil di beberapa bagiannya. Ia sandingkan tapal batas jalan dan sawah dengan tiang listrik berjajar, dalam segaris perspektif, yang ketika itu belumlah saya kenal.

Bahkan ia menaruh sebuah layang-layang putus di salah satu lajur kabel. Sangat membekas. Sejak itulah saya kerap heboh ketika ibu memborong kertas-kertas bekas yang segera memberikan kesan baru. Saya mendapatkan banyak hal yang sebelumnya tidak pernah saya tahu.

Semulai huruf bergaya (kemudian hari, saya kenal dengan istilah kaligrafi), huruf-huruf matematika atau fisika yang saat itu saya bayangkan sebagai desain penulisan bahasa yang keren, cara membubuhkan identitas kepemilikan buku, sebuah peta, sampai sebuah lukisan yang setelah belasan tahun berlalu barulah saya teringat lagi siapa nama senimannya: Picasso!

Dari kebiasaan ini pula, saya berkenalan dengan fotografi tanpa pernah, secara definitif, mengenal apa itu fotografi. Perlahan, tanpa betul-betul saya sadari dampaknya untuk kemudian hari, saya memulai kebiasaan baru: menyobek dan menyimpan kertas-kertas yang saya sukai.

Saya memakai kertas-kertas rumus (matematika) untuk rangka layang-layang yang dibuatkan ayah. Saya minta dibelikan buku gambar berukuran besar, mulai belajar menggambar detail, teknik kaligrafi dengan lebih dari satu pensil, dan menggambar peta (atau sebuah pulau) dengan nama-nama kota imajiner.

Saya sangat menyukainya: menorehkan garis, jalan raya yang menghubungkan dua titik, menyusun kota-kota tertentu menjadi pusat kerumitan atau memiliki tingkat keramaian lebih dibandingkan lainnya.

Dan seiring bertambahnya usia (juga materi pembelajaran di sekolah), kertas menjadi kebutuhan yang cukup sentimental untuk menuangkan ekspresi kata-kata. Sebab, usai menyaksikan ayah bertengkar dengan tetangga, saya tidak menyukai orang-orang yang bersuara keras. Saya membenci bentakan!

Karena itu, ketika sangat marah atau tidak terima dipersalahkan ibu, saya menulis omelan-omelan sekaligus semacam pledoi di selembar kertas. Lalu menguburnya di halaman rumah. Dalam jangka waktu tertentu, kalau dipikir-pikir sekarang, rasanya saya telah membangun kompleks pemakaman untuk perasaan-perasaan yang jauh kemudian menemukan cara hidup melalui puisi.

Romantika tersebut terus berlanjut sampai remaja. Saya hampir selalu membaca bungkus makanan yang saya beli. Tak jarang, saya dapati perasaan-perasaan aneh tersendiri; melalui kemulusan artis ibu kota, atau foto masjid istiqlal, atau kalimat berita yang terpenggal dan terbaca janggal—di lembar koran kusut yang ditimpa minyak jajan gorengan berlebihan.

Saya sudah tak menguburkan kertas, tetapi memiliki ritual baru yang lain; membakar catatan-catatan protes yang tenaga saya tak mencukupi untuk menyuarakannya, sketsa-sketsa melankolis, atau surat-surat cinta yang tak pernah saya kirimkan kepada siapa pun. Saya mengoleksi buku dan tetap menulis hal-hal intim pada selembar kertas.

Pun ketika menggeluti teater kampus. Pertunjukan yang saya buat memakai kertas sebagai komponen artistik terpentingnya. Dalam plot semacam tersebutlah, kian ke sini, saya kian sadar bahwa sebuah kertas bukan semata-mata media, namun sekaligus materi—untuk mengekspresikan sekian hal yang kadang-kadang tak terbayangkan akan sanggup ditampungnya.

Misalnya, yang telah sedemikian populer: origami atau kolase. Saya sendiri, pada momen-momen tertentu, masih melakukan ritus-ritus lugu yang komikal dan melampaui nilai fungsi yang direncanakan pada sebuah kertas.

Selain mengumpulkan tiket-tiket perjalanan dan menuliskan sesuatu di sana, kemudian menabungnya di sebuah stoples dalam berbagai varian lipatan, saya masih membuat puisi-puisi kecil untuk semacam surat kaleng yang juga kecil, yang saya tinggalkan dalam saku-saku motor di parkiran-parkiran tak saya kenal. Saya tidak tahu apakah gaya hidup tak patriarkis itu ada gunanya.

Yang pasti—melalui cara yang sesungguhnya fantastis itu, sebagaimana cara orang-orang dulu menghidangkan kopi sebagai sesaji untuk anggota keluarga mereka yang telah mati—sesuatu yang rasanya tersumbat dalam diri saya, tak kehilangan lubangnya untuk terus mengalir serupa air, terus berembus seperti angin, atau tak ke mana-mana seumpama laut.

Mungkin karena hal-hal personal tersebut di atas, saya termasuk yang tak khawatir dengan kepungan perangkat teknologi yang telah menggeser cara-cara kita berkomunikasi dan menyimpan memori. Juga prediksi-prediksi senja kala dunia cetak.

Toh, orang-orang tetap memotret buku lalu menggunggahnya ke Instagram, misalnya, dan visual sampul-sampulnya tak melibas habis kemahiran-kemahiran manual. Kita masih dan akan bercakap dengan kata, bukan coding-coding pemrograman. 

Toh, pada selembar kertas kosong, masih bisa kita tuliskan hal-hal yang tak bisa dipotret. Seperti lukisan atau puisi, sebuah kertas akan menemukan jalan biografisnya sendiri. Kita sedang dan telah menyaksikannya.