Mahasiswa
2 bulan lalu · 76 view · 4 menit baca · Sosok 59262_91394.jpg

Perkembangan Sains dan Lunturnya Eksistensi Tuhan

"Tuhan tidak ada hubungannya dengan penciptaan alam semesta."

Sepenggal kalimat dari fisikawan termashur abad ini, Stephen Hawking berhasil menggemparkan dunia dan menjadi trending topic di kalangan para saintis ternama. Stephen hawking lahir pada 8 Januari 1942 di Oxford tepat 300 tahun setelah kematian Galileo. 

Tumbuh dan berkembang di kalangan ilmuan, turut mempengaruhi kecerdasannya. Ketertarikannya pada sains timbul dari awal masa kecilnya. Ini ditunjukkan dengan ketertarikannya terhadap mainan kereta api listrik yang tampilannya tak se elok mainan anak lain seumurannya. 

Keluarga sang ilmuan adalah keluarga sederhana yang cukup mapan ekonominya. Namun demikian, ayahnya bukanlah seorang yang suka dengan gaya hidup glamour. Ini adalah faktor pengalaman masa lalu, hidup sebagai seorang rakyat kecil dalam lingkup ekonomi yang memprihatinkan. 

Dengan kondisi ekonomi yang telah di capai kemudian, tidak menjadikan ayahnya hanyut dalam kelimpahan materi. Bahkan Hawking sedikit merasa malu dengan prinsip hemat ayahnya yang pelit menggunakan uang. 

Masa masa pendidikan sang profesor di St. Albans dapat dikatakan monoton terlebih sebab sifatnya yang sedikit anti sosial. Sikapnya ini dipengaruhi ketidak tertarikannya terhadap hal diluar sains. Meski demikian, beliau merasa kekurang luwesannya tidaklah membawa dampak merugikan dirinya. 


"Fisika itu berbeda dengan kedokteran. Dalam fisika, tidak penting dari mana asal sekolah kita atau siapa kerabat kita. Yang penting adalah apa yang kita lakukan." demikian yang ia tuliskan dalam bukunya "My Brief History" terkait pembawaanya yang dianggap anti sosial.

Selaras dengan kecintaannya terhadap sains, Hawking mendapat gelar Einstein oleh rekan sekolahnya meski mereka tidak menyukai pekerjaan Hawking yang tidak rapi disertai tulisan tangannya yang berantakan. Dalam beberapa kesempatan, gurunya pernah bertanya pendapatnya tentang fisika sebab ia terlihat begitu jenius dalam hal ini. 

Jawabannya membuat gurunya tercengan ketika ia berkata "Fisika selalu menjadi pelajaran yang membosankan di sekolah karena sangat mudah dan gamblang. Kimia lebih asyik karena ada hal hal tak terduga seperti ledakan."

Hawking berhasil lolos beasiswa Oxford pada usia 17 tahun. Usia yang sangat muda untuk seorang mahasiswa, khususnya mahasiswa di kampus ternama Oxford. Pada masa kuliahnya, sang professor mencoba untuk lebih beradaptasi terhadap lingkungan sekitar dan bersosialisasi dengan mahasiswa lainnya melalui kegiatan balap perahu. 

Sejak dini, Hawking telah di vonis tidak akan sembuh dari penyakit yang dialaminya. "Ketika menghadapi kemungkinan mati muda, kita jadi sadar bahwa kehidupan itu layak dijalani dan ada banyak hal yang kita ingin lakukan." tuturnya. 

Pelajaran berharga yang dapat dipetik dari hal ini yaitu tekad kuat melanjutkan hidupnya untuk berkarya dan terus berkarya di tengah nyawanya yang kian berpacu dengan waktu.

Dalam realita sehari hari, banyak kita jumpai yang terkadang menjadi akhir ataupun puncak dari suatu hal. Melalui Stephen Hawking, pelajaran positif yang dapat diambil yaitu keteguhan hatinya untuk tetap berjuang tanpa putus asa. Bisa saja beliau memilih untuk mengakhiri hidupnya ataupun melakukan hal hal yang tak berguna menunggu ajal menjemput. Namun sang professor memilih jalan yang lain.

Ada banyak hal luarbiasa di kemukakan Hawking pada dunia, termasuk pernyataannya terkait keberadaan Tuhan. Hawking bukan saja tidak tertarik pada paham mengenai Tuhan, melainkan juga mengklaim bahwa kita dapat mengetahui pikiran Tuhan bilamana Tuhan memang ada. Hawking menggunakan pola pikirnya untuk menjelaskan mengapa Tuhan itu tidak ada. 


Awal pembentukan alam semesta adalah ledakan besar big bang. Setelah ledakan tersebut, barulah setiap komponen yang ada terbentuk. Pertanyaan yang muncul kemudian, apa yang berlangsung sebelum adanya big bang. Jawaban sang professor sederhana. "Peristiwa sebelum big bang tidak didefinisikan secara pasti sebab tidak mungkin seseorang mengukur apa yang terjadi". 

Berangkat dari teorinya tentang penciptaan alam semesta, Hawking memiliki pemikiran tersendiri terhadap eksistensi Tuhan. Menurutnya, waktu tidaklah eksis saat belum terjadinya big bang. Maka, Tuhan tidak memiliki waktu untuk berperan dalam pembentukan alam semesta. 

Sederhananya, Tuhan tidak berperan dalam pembentukan alam semesta. Secara logika, bila Tuhan tidak berperan saat awal hingga kini, atas dasar apa kita mempercayainya? pendapat Hawking.

Seperti diketahui, Hawking menderita ALS sejak 21 tahun. Dengan vonis dokter tentang nyawanya yang tinggal beberapa tahun saja, adalah suatu hal luarbiasa mengetahui ia bertahan puluhan tahun kedepannya. Pernyataannya pada saat diwawancarai tahun 2011 menjadi sangat kontroversial. Beliau sudah tidak takut mati, sebab baginya, kehidupan hingga saat ini adalah bonus sejak berumur 21 tahun.  

Sang professor tidak takut akan kematian terlebih mencemaskan tentang surga dan neraka sebagai tempat tujuan akhirnya nanti. Menurutnya saat otak berhenti bekerja, saat itulah kehidupan berakhir. Sama seperti komputer. Tidak ada yang namanya kehidupan setelah kematian. Dan suatu individu dapat terus hidup ketika otaknya tetap aktif tak terpatok pada wadah otak tersebut.

Selain kontribusinya yang besar dalam dunia sains, Hawking juga meninggalkan pernyataan pernyataan kontroversial terkait sikapnya yang tidak mempercayai adanya Tuhan. Tidak sedikit orang yang memiliki pandangan Atheisme di dunia ini. Hawking bukanlah satu satunya orang cerdas yang tidak mengakui keberadaan Tuhan. 

Banyak saintis terkemuka yang juga mengandalkan logikanya sebagai dasar bahwa Tuhan tidak ada. Sebut saja Alan Turing, Thomas Edison, Richard Dawkins, Sam Harris dan banyak yang lainnya. Para intelek ini memiliki pemikiran dan pandangan yang lebih luas dari masyarakat awam sekitarnya, serta intelektual yang tinggi. 


Dengan perkembangan zaman, manusia pun turut berkembang dan semakin kompleks. Kaitannya dengan mobilitas ini, terdapat premis bahwa manusia modern setara dengan para "saintis" yang terdahulu dalam hal peradaban dan intelektual. Bila hal ini tetap bertahan, maka ada kemungkinan, peradaban manusia akan mencapai tingkatan para saintis ternama yang ada sekarang. 

Apakah ini juga berarti semakin terkikisnya konsep keberadaan "Tuhan"?. Apakah sedari awal, sains adalah antonim dari konsep "Tuhan"?. Apakah Tuhan yang kita sembah dan agama yang kita anut pada akhirnya nanti akan menghilang seiring perkembangan sains dalam peradaban manusia?. Sekiranya ini menjadi perhatian bersama terkait perkembangan IPTEK dan kepercayaan kita kepadaNya.

Artikel Terkait