Peneliti
10 bulan lalu · 11 view · 5 menit baca · Cerpen 20515_35679.jpg
Foto: citraindonesia.com

Perjumpaan yang Memenjarakan Kebencian

Cerita Nakula dan Lati (iii)

Nakula tampak kaget. Sebuah pesan muncul di layar ponselnya:

Aku bingung. Aku takut ga bisa sampai ke sana. Aku sudah menunggu dari sejak tadi.

Lelaki itu baru saja mencetak tiket kereta jurusan stasiun Lempuyangan di Gubeng. Pesan dari Lati membuatnya panik. Memang saat itu masih pagi. Jam 07.00 WIB. Tapi dia memperhitungkan perjalanan Lati ke stasiun Senen. Perempuan itu harus sampai di sana satu jam sebelum pemberangkatan. Kereta akan berangkat jam 10.15 WIB.

Lati panik. Perempuan itu marah-marah. Dia memarahi apapun yang tak seharusnya dimarahi. Dia memarahi kota yang macet, aplikasi transportasi online yang error. Perempuan itu seperti tak menemukan solusi.

Nakula di tempat lain berusaha tenang dan terus bersabar. Dia juga mencoba menenangkan Lati. Sesekali dia memberi solusi tapi ditolak oleh perempuan itu.

“Bisa mati aku kalau naik angkutan itu”.

Nakula kesal juga akhirnya. Di sela itu, pikiran lain tiba-tiba datang menggodanya. Godaan itu kian kuat dan kian tertuju pada kemungkinan-kemungkinan: Lati sengaja membuat situasi ini agar punya alasan untuk tidak datang.

Kini dia benar-benar kehilangan kesabarannya.

“Tak usahlah dipaksakan. Aku tahu itu hanya caramu untuk tak datang”, bentak lelaki itu.

Lati juga perempuan yang tak bisa menunjukkan kesabaran. Setiap kekesalan langsung ditumpahkan. Kepada apapun. Kepada kereta. Kepada semut. Kepada tanah. Kepada orang-orang. Petugas kereta. Atau kepada bayi-bayi yang belum lahir.

Dan dia tak merasa perlu mempertimbangkan apakah kemarahan memerlukan alasan?

Lelaki itu seperti tak peduli lagi. Tapi dia berharap kecurigaannya tidak benar. Dia membutuhkan waktu sekitar 40 menit untuk menguji apakah kecurigaannya benar?

Ternyata kecurigaan itu salah. Lati akhirnya bisa melewati beberapa hambatan yang mungkin bisa menahannya di perjalanan. Sebelum jam 10.15 atau sekitar 20 menit sebelum itu, dia sudah sampai di stasiun Senen.

Jam 10.15, kereta yang ditumpangi perempuan itu berangkat.

*

Nakula sudah sampai lebih dulu di Kota Yogyakarta. Lelaki itu duduk di dekat halte di Malioboro. Sekitar jam 18.30 WIB, sewaktu kota mulai diselimuti malam dan hanya tertolong oleh cahaya lampu, Lati muncul dengan sebuah ojek motor. Segera dia menghampiri lelaki yang telah menunggu lama di halte itu.

“Akhirnya aku sampai juga”, ucap perempuan itu dengan senyum dan menurunkan ransel yang penuh dengan bawaan.

Nakula menyuguhkan segelas jeruk manis yang masih hangat.

“Minumlah”.

“Makasih”, balas Lati lalu menyeruputnya. Perempuan itu terlihat begitu kehausan.

Sambil masih memegang segelas minuman yang tinggal separuh itu, Lati melempar senyum kepada Nakula.

“Akhirnya kita bertemu juga ya di kota yang kita dambakan dari dulu”.

Lelaki itu mengiyakan.

“Bahagia?”

Lelaki itu hanya tersenyum dan dalam beberapa detik kemudian bertanya:

“Momen-momen sebelum perpisahan, apakah itu sebuah keindahan?”

Keindahan kota itu seperti berhenti begitu saja. Perempuan yang ditanya juga terdiam. Barangkali dia bingung bagaimana menemukan kata-kata yang cukup baik untuk mengutarakan kejujuran tentang sebuah perpisahan.

Pengamen jalanan di kota itu terdengar bernyanyi-nyanyi sedih. Petikan gitar para pengamen itu sampai juga di telinga mereka. Menembus alam pikiran masing-masing mereka yang tengah digoda harapan dan kenyataan. Di depan mata mereka, tak jauh sebuah bayang perpisahan.

Lati memandang ke arah Nakula.

“Kita sudah berjanji ini hanya momen kebahagiaan. Kita tak usah membicarakan hal-hal yang merusakkan kebahagiaan ini”.

Nakula berganti menatap perempuan itu.

“Dengarkan aku. Lihat mataku. Kamu punya berapa hati untuk kamu gunakan berpura-pura bahagia. Sedang kita sama-sama tahu di ujung pertemuan ini, ada perpisahan yang menanti”.

“Tapi aku ingin menikmati momen ini sebahagia mungkin”.

Di hadapan mereka, jalanan tak pernah lengang dari lalu lintas kendaraan. Bunyi klakson. Deru mesin. Teriak sopir atau penumpang.

Kini Nakula dan Lati masing-masing menatap lurus ke depan. Entah hingga di batas mana pandang mereka terhenti. Atau mungkin pandang mereka tak berhenti di mana-mana. Mereka hanya ingin memandang tanpa tahu objek apa yang ingin mereka pandang.

“Kamu akan bahagia menyambut perpisahan”.

Suara Nakula agak berat.

“Itu yang akan terjadi. Dan aku akan mengikuti kepura-puraan ini”.

Percakapan itu tak dilanjutkan. Mereka memilih berjalan menikmati malam di kota yang ramai dan penuh cahaya lampu jalan.

*

Sambil jalan menikmati malam, mereka sejenak lupa dengan keletihan. Bayangan bahagia dan kesedihan timbul tenggelam. Tapi mereka seolah tak peduli dengan apa yang bakal terjadi. Mereka benar-benar hanya ingin berjalan di malam itu menikmati perjumpaan dan keindahan kota dalam siraman malam.

Mereka berjalan sepanjang mereka rasa di atas jalanan ada kebahagiaan. Kaki mereka melangkah dengan ayunan yang pelan mengetuki trotoar yang diam.

Mereka berjalan hanya untuk saling bisa beriringan dan bergenggaman tangan. Dalam setiap beberapa langkah yang tak terhitungkan, mereka saling memandang. Mata keduanya saling bertemu. Lalu senyum tergores di wajah masing-masing.

“Aku selalu suka kota ini sejak kecil. Dulu aku sering bermain ke rumah nenek di kota ini. Aku jadi teringat masa-masa indah itu”.

Lelaki itu tersenyum sambil terus mendengarkan perempuan itu bercerita.

“Aku banyak mengenal tempat-tempat menyenangkan di kota ini. Aku mau mengajakmu ke tempat-tempat itu. Mau kah?”

Dan perempuan itu berhenti hanya untuk memastikan tanda persetujuan dari wajah lelaki yang digenggam tangannya.

“Aku sudah sampai di kota ini. Bagaimana aku bisa menolak?”

Perempuan itu tertawa mendapati jawaban seperti itu. Dia lalu menyandarkan kepalanya ke bahu lelaki itu.

“Apakah aku masih terlihat seperti dulu?”

Mata perempuan itu memancarkan kebahagiaan.

“Ya. Kamu masih seperti dulu. Suka memaksa. Suka marah-marah. Kalau lagi bahagia, kamu bisa meledak-ledak bahagia. Kalau lagi marah, apapun bisa dimarahi”.

Perempuan itu kembali tak dapat menahan tawanya. Kini ia begitu lepas.

“Kamu juga masih seperti biasa. Lelaki yang paling tidak tahan untuk tak memberi komentar tentangku. Dan seringkali komentar-komentarnya jujur. Saking jujurnya, hal-hal yang harus ditahan karena tak menyenangkanku, tetap saja disampaikan. Lelaki macam apa yang tak bisa menyenangkan kekasihnya meskipun dengan kata-kata yang dibuat-buat?”.

“Aku sering memberimu komentar yang jujur dan itu terdengar sebagai pujian”.

“Iya benar. Tapi dalam sehari, satu banding seratus. Apa artinya satu pujian dengan seratus kejujuran yang tak menyenangkan?”

Keduanya tertawa. Nakula tahu, perempuan adalah mahluk yang selalu bahagia bila mendapat pujian dari kekasihnya. Tidak peduli apakah pujian itu sekedar bualan atau kejujuran. Setiap kali mendengar pujian, hati perempuan terketuk kebahagiaan.

“Aku bukan tipe perempuan seperti itu”, tangkis Lati.

“Jangan bohong. Aku sering merayumu dengan kata-kata yang indah, dengan sekedar permainan khayalan. Dan kamu suka?”

“Haha. Aku tahu kamu memang suka berbohong. Seorang pengkhayal yang baik, mana mungkin bisa mengatakan sesuatu yang benar-benar ada. Semuanya pasti dibumbui dengan sesuatu yang berasal dari dunia antah berantah”.

“Iya. Aku berbohong. Aku membayangkan kita sebagai dua orang yang bermain-main di hutan belantara. Dan kamu setuju dengan khayalan itu”.

Nakula melanjutkan.

“Tapi kamu juga membuat kebohongan yang sama”.

“Ya. Aku mengkhayalkan kahyangan yang tak lain sekedar sepetak ruangan yang di dalamnya bertumpuk tugas-tugas yang meminta segera dikerjakan. Kerjaan yang meminta batas waktu”.

“Padahal aku membayangkan kahyangan adalah tempat bidadari-bidadari cantik dan berbagai macam keindahan di sana. Ah kenyataannya…”

“Sekedar sepetak ruangan biasa? Kau akan bilang, ruang itu dihuni seorang dosen yang tengah sibuk mengurusi mahasiswa bimbingannya. Dihuni seorang perempuan yang duduk di kolong meja dengan kertas-kertas kerjaan”.

“Bagaimana sebuah tempat macam itu dibayangkan sebagai sebuah kahyangan?”

Kota itu menyaksikan kedua orang itu tertawa di malam itu. Tawa yang cukup menghibur dalam sejenak sebelum waktu mengingatkan mereka tentang sebuah kenyataan perpisahan.

Bersambung ke Cerita Bagian 4

Artikel Terkait