Dulu, saat saya masih berada di bangku tingkat pertama-kedua, meski juga memberi porsi pada cendekiawan muslim lain, tapi entah mengapa sosok Quraish Shihab menjadi perhatian yang utama bagi saya, hingga tak terasa hampir seluruh karyanya terlahap tuntas. 

Tak heran jika ada teman sejurusan yang menggelari saya si Shihab junior karena kebanyakan kerangka dan produk berpikir keagamaan saya adalah bersumber darinya. Belakangan tersadarkan bahwa sepertinya hal itu dikarenakan saya memiliki kecenderungan yang sama dengan ulama asal Rappang ini.

Tetapi, di akhir masa-masa perkuliahan, meski world view-nya beliau ini tetap bersemayam di dalam diri, lambat laut teralihkan oleh rasa penasaran sekaligus kecintaan saya kepada seorang budayawan religius, kalau enggan berkata sufi, Cak Nun. Berawal dari menyantap buku kumpulan esainya, saya membaca bahwa pemikirannya cukup “nyeleneh”, tetapi amat menyentuh substansi yang sayangnya jarang terjamah. 

Satu hal yang sejauh ini saya tangkap, ia mencoba untuk melakukan dekonstruksi pemahaman mengenai nilai, apa pun itu objeknya, yang agaknya tidak memperoleh perhatian, atau telah dipersempit, diparsialkan, bahkan diselewengkan oleh umat manusia.  

Tidak seperti saat melakukan pembacaan―baik teks maupun audio―terhadap banyak intelektual muslim yang hanya akan menambah ilmu baru. Lebih jauh dari itu, Cak Nun berhasil menunjukkan bahkan membukakan pintu gerbang cakrawala kepada saya. Sepertinya memang maqam kesadaran-lah (consciousness) yang menjadi tujuannya yang berklimaks pada penyadaran mengenai hakikat diri dan pencipta.

**

Ada fase-fase kematangan keberagamaan seseorang yang dimulai dari tingkat paling rendah, yakni fase acuh tak acuh (agama hanya sebagai indentitas tanpa dipraktikkan). Beralih ke tahap selanjutnya, yaitu kefanatikan di mana ia menjalankan agama dengan ghirah yang menggebu-gebu, yang sayangnya karena ketidakmatangan ilmu cenderung berpusat pada tataran “kulit” dan condong untuk menyalahkan orang atau kelompok yang berbeda pandangan dengannya.

Jika telah melewati batas ini, seseorang biasanya, selain ditandai oleh ilmu yang lebih matang, akan terlihat lebih bijak dalam memandang sesuatu, tidak hitam putih, dan cenderung moderat. Saya pikir Quraish Shihab ada di tataran ini.

Sedangkan Cak Nun, sudah satu level di atasnya―sekaligus di tingkat terakhir. Saya menyebutnya sebagai maqam hakikat atau makrifat. Seseorang yang sudah melanglang buana dalam pergulatan di samudra ilmu pengetahuan, maka umumnya akan berakhir pada pembentukan karakter yang spiritualis, magis, dan sufistis. 

Syukur-syukur mereka diberkahi kasyaf (penyingkapan tabir oleh Allah sehingga dapat melihat sesuatu menggunakan “mata-Nya”). Pengembaraan yang dialami Imam Al-Ghazali dan Mulla Shadra adalah salah dua contohnya.

Dan “dakwah” Cak Nun sepertinya memang mengajak manusia untuk menuju ke fase yang terakhir ini. Tetapi patut diketahui bahwa perjalanan ini tidak harus melalui jenjang pendidikan formal atau dari seberapa tingginya tingkat pendidikan formal yang telah dilalui.

**

Uniknya, hasil pengaktifan akal sehat yang diasah terus-menerus sembari mengaktualkan hati nurani dengan memperbanyak kontemplasi/perenungan, membuat saya dalam satu titik “bertemu” dengan Cak Nun. Beberapa kesamaan hasil olah perenungan saya dengan pemikiran Cak Nun antara lain:

Pertama ialah mengenai Alquran, akal sehat, dan hati nurani. Saya bertesis, setidaknya masih diyakini sampai detik ini, bahwa Alquran itu layaknya pisau, bersifat “netral” dan penggunaannya tergantung si pemakai. Alquran bisa digunakan sebagai legitimasi tindak terorisme, kekerasan, atau keburukan lainnya, tetapi di sisi lain juga bisa dipakai untuk menebar rahmat oleh orang-orang yang baik.

Dari sini akhirnya saya berkesimpulan bahwa sebenarnya kebenaran-kesalahan, kebaikan-keburukan, keindahan-kejelekan itu sudah ada indikatornya di dalam tiap diri manusia yang diberikan oleh Allah saat peniupan ruh. Saya menamakannya sebagai cip ilahi. Kadang cip ilahi ini saya pahami secara terpisah dari elemen akal sehat dan qalbu, tetapi adakalanya saya gabungkan.

Sedikit berbeda namun intinya sama, belakangan pemahaman saya ini mendapatkan konfirmasinya dari Cak Nun. Ia mengatakan bahwa Alquran, hadits, syariat, fikih, dll, hanyalah alat atau bahan untuk mencari pedoman dari Allah tetapi bukan subjek. Dengan menyitir ayat-ayat beredaksi afala ta’qilun dan afala tatafaqqarun, ia menyatakan bahwa yang menjadi sumber (penilai sesuatu) dalam Islam adalah akal sehat (dan qalbu). 

Ia memberikan contoh bahwa sesungguhnya manusia yang menggunakan akal sehatnya, meski misalnya tidak ada Alquran, tetap tidak akan melakukan pemerkosaan. Juga, tidak akan menyakiti orang lain karena mereka memiliki hati.

Kedua, perihal perlombaan dalam kehidupan. Dari dulu saya tidak menyukai perlombaan, kalau pun pernah ikut cuma sekadar ajang hiburan belaka karena menurut saya apa bagusnya perlombaan yang malah cenderung membuat orang menjadi sombong, dan merasa elit. Jarang sekali saya melihat ada orang yang suka menjuarai banyak perlombaan tetapi sikapnya amat rendah hati. Amat langka! 

Makanya saya hampir tak memiliki “prestasi”―sesuatu yang maknanya sudah reduktif menjadi perbuatan menjuarai suatu perlombaan tertentu dengan mengalahkan sejumlah orang―dan lebih memilih untuk berada di jalur pengabdian dengan konsekuensi tidak akan mendapat “pengakuan/penghargaan” dari pemerintah, karena yang mereka butuhkan adalah orang yang hebat, yang bisa mengalahkan orang lain. Tetapi perbincangan ini tentu berbeda dengan terminologi “berlomba-lomba dalam kebaikan” yang saya pahami.

Sekali lagi saya tercengang saat mengetahui bahwa Cak Nun pun tak suka dengan pola dialektik kalah-menang. Dalam sebuah kesempatan ia mengatakan,

“Kalah menang secara kekuatan itu sebenarnya adalah tataran yang paling rendah dari manusia karena manusia itu, dia diciptakan sebagai manusia, kayaknya bukan untuk mengalahkan orang lain, kecuali sepak bola, tinju...tidak apa-apa. Tapi kalau (soal) hidup ini, kita enggak ngalahin siapa-siapa. Setahu saya, semua nilai, baik agama maupun yang pencariannya manusia sendiri, hidup adalah (soal) mengalahkan diri sendiri.”

Lebih lanjut ia menuturkan,

“Jadi, saya mohon maaf tidak pernah ikut kompetisi kalah-menang. Apa(kah) itu Pilkada, Pilpres, Pildes. Saya tak pernah ikut karena saya ini sangat sibuk untuk berperang melawan diri saya sendiri supaya saya tidak terlalu kalah dengan diri saya sendiri. Itu juga sampai tua begini tidak (pernah) selesai. Jadi saya ga punya waktu untuk ikut kompetisi kalah menang karena saya tuh ndak pernah tega menang melawan orang dan saya juga gak mau kalah. Gila apa! Maka saya hidup bukan ditataran kalah-menang. Saya itu ditataran, kita berlomba untuk saling mengamankan satu sama lain. Kita berlomba untuk saling menyumbang kearifan, kebijaksanaan, supaya out put dari kita itu bisa puzzling menjadi keseimbangan bersama, keseimbangan sosial.”

Sebenarnya saya ingin memberi satu contoh lagi, yakni tentang definisi Islam yang saya dan Cak Nun pahami tak sesempit pemahaman dari umat Islam pada umumnya. Tapi karena Qureta hanya membatasi jumlah maksimal tulisannya 1000 kata saja, jadi lebih baik saya akhiri dan kembali nge-stalking IG Raline Shah.