Kirana ♈ Azalea
1 bulan lalu · 60 view · 5 min baca · Sosok 21679_22108.jpg

Perjumpaan Pertama dengan Nong Darol Mahmada

Kekaguman pada Nong Darol Mahmada yang sudah lama bermula tak berlangsung istimewa. Dari dulu seperti itu saja dia, wajahnya ... sikapnya ... tak banyak berubah. 

Saya tak bisa mengingat dengan rapi dan rinci bagaimana saya bisa mulai mengaguminya. Namun sulit untuk tidak menyebut nama Dhani Ahmad Prasetyo, se-nyebel-in apa pun dia berulah.

Ada bagusnya juga saya mengagumi Mbak Nong—sapaan padanya—sebelum akrab dengan dunia dalam jaringan (internet). Hal ini membuat nama Mbak Nong termasuk sosok-sosok awal yang saya cari namanya melalui mesin pencarian. 

Tak dimungkiri beberapa posting-an yang arahnya menjatuhkan nama Mbak Nong memang marak. Walau begitu, rasa kagum tak begitu saja bisa dirisak.

Justru dari posting-an seperti itulah saya mantap memilihnya sebagai salah satu role model. Karena awalnya saya memandang Mbak Nong tanpa cela, mamun menjumpai beberapa posting-an yang isinya mencela dirinya membuat saya membandingkan keduanya. Salah satu bentuk membandingkannya ialah membicarakan dengan orang tua saya.

Orang tua bukannya berusaha menjauhkan saya dari Mbak Nong, malah mendukung saya dalam memilih puan kelahiran 23 Maret 1975 ini. Sebagai penegasnya, orang tua malah mengapresiasi bahwa saya mulai bisa menentukan pilihan sendiri.


Kekaguman pada Mbak Nong termasuk kekaguman berkelanjutan, yang setelah dilanjutkan ... matematika. Makin ditelusuri semakin tidak karuan saja ini Mbak Nong. Terakhir dia membuat saya penasaran dengan The Corrs dan Hypatia of Alexandria. Kebetulan saat itu saya sedang mencari brand musik baru dan sosok puan pemula gelola kajian keilmuan. Tengkiyu mbak Nong ...

Walau saya bergembira ria setelah mendapat ‘petunjuk’ tak terduga ini, namun saya masih memendam perasaan tak enak pada Mbak Nong. Manunggaling susah-bungah, sejenis demikian. Pasalnya, rasa penasaran pada The Corrs dan Hypatia muncul saat saya sedang menulis tentang Mbak Nong untuk mengabadikan kekaguman dengan cara yang bisa saya lakukan.

Perasaan tak enaknya timbul lantaran tanpa memberi tahu sebelumnya, saya memasukkan bagian bagi mereka yang mengalami tentu tak enak rasanya. Saya merasa bersalah memasukkan bagian yang mulanya ingin menunjukkan bahwa Andrea Azalia Ardhani adalah anak bermental kuat. Sayang, tampaknya penuturan saya jauh melesat.

Entah perasaan saya tepat atau melesat, yang jelas kabut rasa tak enak pada Mbak Nong masih menggelayuti saya. Tak lama berselang, saya main ke Jakarta untuk ikut serta wisuda sahabat saya. Sayang, waktunya tak tepat, Mbak Nong sedang sibuk-sibuknya. Ya sudah, lain kali saja berjumpa untuk memohon maaf—tepat atau melesat perasaan saya.

Barangkali kalau saya berkesempatan berjumpa kembali dengan Mbak Nong, kesan yang dirasakan berbeda dengan perjumpaan pertama. The first date is never forgotten, tutur Valentino Rossi beberapa hari lalu. Sampai saat ini, perjumpaan pertama dengan Mbak Nong masih sangat berkesan bagi saya. Satu peristiwa yang menempati kapling permanen dalam kalbu.

Saat itu saya ikut serta acara haul Gus Dur. Sebenarnya saya tak berencana ke Ciganjur. Namun oleh teman-teman, saya diajak ke sana. Nyaris tiada moment terkenang hingga saya hendak pulang andai wajah Mbak Nong tak sengaja dipandang. Dengan berbalut busana hitam dan mengenakan kaca mata, saya segera menyapanya.

“Mbak Nong...” teriak saya di tengah kerumunan yang padat saat itu.

“Hei, sini,” tanggapnya sambil tersenyum melambaikan tangan seakan kami adalah sahabat yang lama tak berjumpa.

Saat itu saya sudah diminta keluar oleh penjaga rumah Gus Dur, bersama beberapa orang yang berjejal masuk ke dalamnya. Namun karena penjaga tersebut melihat Mbak Nong tampak akrab menanggapi saya, dia memperkenankan saya begitu saja.


First time sit beside her make me speechless. Duduk tepat di samping sosok yang selama ini dikagumi ... dengan keramahan yang diberikan ... tak hanya menghapus rasa lelah seharian keluyuran walakin ikut serta memberi energi tambahan. Kalau Mbak Nong masih ingat, saking speechless -nya saya, ungkapan yang keluar dari mulut pun tak terstruktur.

Hanya beberapa menit saja kami berjumpa. Perjumpaan yang nyaris tanpa disertai perbincangan apa-apa. Mata bicara banyak hal saat bibir tertutup rapat tak sanggup menjelaskan yang sedang dirasa.

Saya hanya duduk saja ... memandangi Mbak Nong yang tampak sudah lelah di sampingnya ... sejenak time travelling betapa telah lama saya mengagungkannya walau kami sama-sama manusia biasa. Mata perlu ditahan biar tak banjir karena gembira.

Beruntung baterai ponsel saya masih terisi sehingga saya bisa meminta foto bersamanya. Players need to stop & take pictures with fans, for you its one second, for them it’s a lifetime, tutur Alessandro Del Piero. Tepat juga ungkapan pesepak bola asal Italia ini.

Beruntung lagi, wajah lelah saya tak lusuh-lusuh amat dalam foto yang alhamdulillah tidak nge-blur. Jadi kalau saya ingin mencetaknya tak perlu di-edit. Lebih beruntung lagi, saat saya memintak kontak pribadi Mbak Nong, dia berkenan memberikan.

Sebagai penggemar berat, wajar kalau perkara maupun peristiwa seperti ini terus melekat. Tak peduli Mbak Nong terus-menerus menerima hinaan dan caci maki, bagi saya dia adalah seberkas sinar pengantar saya untuk menerima segala tatanan Sang Pencipta.

Ada masa-masa ketika saya menyadari kalau sosok seperti Mbak Nong mendapatkan tekanan lebih daripada saya. Mbak Nong ikut serta dalam urusan lingkungan di panggung utama, Jakarta. Hal ini membuatnya mudah mendapat sorotan media (massa dan sosial).

Kenyataannya, karena dia lebih tua, dia berada dalam keadaan seperti itu untuk jangka waktu yang lebih lama. Dan sepanjang waktu itu, nyaris tak ada perubahan yang ‘membanting’ masa lalunya.

Banyak terjadi saat yang mengecewakan ketika akhirnya kita bertemu sosok yang dikagumi, role model yang senantiasa memberi inspirasi. Kalau perjumpaan dengan sosok yang dikagumi berlangsung pada saat yang tidak tepat, rentan memberikan kesan yang melesat. Dan kejadian yang tidak diharapkan ini akan mengubah pandangan terhadap role model tersebut.


Kita bisa berpikir kalau sosok yang dikagumi ternyata kurang ajar dan angkuh, meski mungkin dia sedang mengalami saat yang tidak baik. Atau kita telah memiliki gambaran tentangnya namun nyatanya dia tidak sesuai dengan gambaran yang dimiliki. Perjumpaan kadang-kadang bisa mengubah bahkan ‘membanting’ sebuah hubungan. Apalagi saat sosok yang ingin dijumpai dianggap tidak dapat memberi cukup perhatian.

Saya bersyukur perjumpaan pertama dengan Mbak Nong berlangsung pada saat tepat. Mungkin saya gede rasa saja lantaran perjumpaan tersebut terasa istimewa dikarenakan Mbak Nong tampak berusaha untuk tidak mengecewakan saya. Dan saya tak pernah kecewa dengan perjumpaan itu sepertihalnya tak pernah kecewa menjadi penggemarnya sejak mulai mengaguminya.

Kalau Mbak Nong tampak terlampau saya istimewakan seakan dipuja tanpa cela karena dia memang selalu istimewa bagi saya. Mata yang cinta cenderung tumpul dari cela. Apalagi selepas pertemuan pertama dengannya. Saya merasa diperlakukan setara dengannya, tak menganggap saya sebagai penggemar yang bisa semena-mena digunakan semau-maunya.

Wajar kalau saya memilih Guru yang Menyapih sebagai judul catatan saya tentang cuplikan perjalanan dan untuk Mbak Nong. Puan Aries ini hanya melangkah tanpa pernah meminta saya mengikutinya alih-alih memaksa. Namun tanpa permintaan maupun pemaksaan, saya merasa ingin mengikutinya.

Wajar juga kalau sampai saat ini saya tetap menggunakan Blogger sebagai blog pribadi saya. Dulu saya berusaha mengenali diri maupun gagasan Mbak Nong melalui Blogger-nya. Lalu saya menirunya. Peniruan adalah bentuk pujian abadi paling luhur dan dalam tanpa perlu digaungkan dengan kata-kata.

Artikel Terkait