Suatu hari saya kedatangan mobil Panther dengan keluhan sudah susah hidup, boros, dan tenaganya loyo. Begitulah umumnya keluhan mobil yang sudah tua. Suaranya saja yang berisik, tetapi banyak spare part yang harus  diganti.

Pemilik mobil Panther itu adalah mas Awan, kadang pelanggannya memanggilnya mas Wawan. Saat mobil sedang diservice oleh mekanik, mas Wawan dan saya asik mengobrol untuk membunuh kejenuhan menunggu.

Mas Wawan adalah seorang pengusaha bakso, dirinya kini memiliki 3 kios bakso. Satu kios sekaligus rumah produksi berada di daerah pantura Kabupaten Cirebon, dan dua kios lainnya dijaga oleh karyawannya berada di dua kecamatan berbeda di Kabupaten Cirebon juga.

Mobil Panther jadi pilihan mas Wawan sebagai mobil niaga. Setiap pagi dirinya akan keliling ke dua kiosnya untuk mengantarkan bakso-bakso. Apa yang dicapainya sekarang bukanlah usaha warisan dari orang tuanya. Mas Wawan merintisnya dari nol.

“Saya sudah merantau sejak lulus SMP mas, dulu saya kerja di bengkel las di Banten. Kemudian pernah juga kerja di Toserba jadi tukang, membuat dekorasi display. Nah setelah itu baru saya ikut paman saya jualan bakso keliling. Saat itu saya belum berani menikah mas, apalah saya ini hanya seorang buruh penjual bakso keliling.”

“Kalaupun saat itu ada perempuan anak Ketum Partai misalnya naksir saya mas, pasti saya tolak. Wong untuk menghidupi diri saya sendiri saja masih kurang. Saya Cuma ingin fokus bekerja mengumpulkan uang, agar bisa Mandiri, BCA, BRI, BNI terisi saldo.”

Mas Wawan setelah beberapa tahun ikut pamannya jualan bakso, barulah memberanikan diri untuk jualan secara mandiri.

Dengan modalnya sendiri mas Wawan keliling dari gang ke gang, dari kampung ke kampung mendorong gerobak baksonya. Saat terik kepanasan, saat hujan basah kuyup, baju basah dipake hingga kering lagi.

“Meskipun saya cuma lulusan SMP, saya ini pengagum Bung Karno, mas. Saya selalu mengupayakan diri agar bisa berdiri di atas kaki sendiri, berdikari sebagaimana yang Bung Karno ajarkan. Saya tetap berusaha meskipun pernah jatuh bangun, dalam merintis usaha bakso saya.”

Berbekal resep bakso  dan bimbingan dari pamannya, mas Wawan bertahun-tahun mengumpulkan modal untuk menikah dan untuk memenuhi biaya hidupnya.

Setelah menikah pun mas Wawan masih jualan bakso keliling. Waktu itu istrinya masih ikut dengan sang mertua. Dan pastinya mas Wawan jarang pulang menemui istrinya.

Dua tahun setelah menikah mas Wawan memberanikan diri membawa istrinya untuk tinggal bersama ngontrak di Pantura. Pria kelahiran Wonogiri ini akhirnya membuka kios kecil, tempat ia jualan bakso di daerah Kluwut, Brebes.

Jualan bakso di pantura, Brebes hanya bertahan satu tahun. Kemudian mas Wawan pindah ke wilayah pantura, di Kabupaten Cirebon untuk membuka kios jualan bakso.

“Alhamdulillah setelah di Gebang usaha saya bertahap mendapatkan kemajuan mas. Sampai saya bisa membangun rumah, punya mobil, dan kini punya 3 kios bakso”

Seperti halnya  buruh yang berserikat, tukang bakso juga memiliki paguyuban. Menurut mas Wawan dirinya bersama teman-teman sesama penjual bakso yang lain sering kali berkumpul, tidak hanya dari satu wilayah saja. Mulai dari Indramayu, Cirebon, Kuningan, Majalengka, Brebes, Tegal kadang juga dari kota lainnya seperti Pemalang, Pekalongan, Purwokerto, Cilacap.

Saat berkumpul itulah mas Wawan dan teman-temannya akan saling bertukar cerita pengalaman, dan tentunya juga saling menguatkan dan mempererat tali silaturahmi.

“Mangan-ora mangan sing penting madyang eh... ngumpul ya mas? (Makan tidak makan yang penting makan eh... berkumpul ya mas?). Kan salah satu hikmah silaturahim itu memperpanjang umur dan membuka pintu rejeki”

Setelah kita merasa cukup kata mas Wawan hal yang paling penting itu agar bisa berbagi. Maka dari itu sebelum dirinya mampu berangkat haji, minimal dirinya bisa berkurban setiap hari raya Idul Adha.

“Kenapa saya ingin berangkat haji mas? Kisah Keluarga Nabi Ibrahim AS itu menjadi penyemangat hidup saya. Begitu kuat Siti Hajar sebagai istri dan Ismail anaknya harus tinggal di gurun, sementara suaminya Ibrahim harus kembali bersama Siti Sarah istri pertamanya. Lalu kemudian Ismail anaknya harus ikhlas dikorbankan karena perintah Allah”

Seandainya Allah memerintahkan untuk mengorbankan tukang bakso, tentulah tidak ada orang yang mau  berprofesi sebagai tukang bakso karena takut disembelih. Beruntunglah hanya setiap muslim yang mampu, agar berkurban hewan ternak.

Setiap hari mas Wawan mendapatkan keuntungan dari daging sapi yang diolahnya jadi bakso. Dari keuntungan itulah sedikit demi sedikit disisihkan untuk tabungan berhaji dan untuk membeli hewan kurban.

Meskipun berangkatnya entah kapan, karena padatnya antrian kuota haji. Urusan berangkat itu urusan Allah, tugas kita hanyalah mempersiapkan dengan menabung. Begitulah pikir mas Wawan.

“Kalau tukang bakso jadi ledekan/candaan kan udah biasa ya mas, jangankan tukang bakso yang sudah ada lagunya abang tukang bakso mari dong kemari saya mau beli...dst. Mereka yang jual diri demi jabatan juga, kadang justru membayar orang untuk meledek dirinya, playing victim agar dirinya jadi terkenal, menaikan elektabilitasnya.”

Ya semoga kelak di depan kios bakso Mas Wawan terpampang dengan besar

“BAKSO SOLO H. AWAN, usaha berdikari sejak 1998 tidak memakai pengawet apalagi dana APBN”

Dan tentulah H di sini singkatan dari Haji, bukan Honoris Causa. Dan kami pun berdua tertawa bersama karena mobil Panther yang sedang di service sudah selesai dan suaranya sudah terdengar renyah tak sesumbang suara politisi. Saya pun lantas membuat invoice.

“Biaya ngobrolnya gratis ya mas Awan, untuk perbaikan mobil Panthernya silahkan dibayar sesuai invoice, terima kasih. Garansi satu bulan, boskuh”

Mas Awan kemudian membayar biaya service mobilnya. Sambil berpamitan mas Awan sempat menimpali saya.

“Asiyap mas masszeeh. Awan iku yo artine mega to? Awan yo artine siang, yo meskipun lulusan S2 (SD, SMP) uripku yo ngerti Pancasila. Berketuhanan Yang Maha Esa, mulo aku pengin naik haji, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab mulo aku kerja biar memanusiakan setidaknya istri dan keluarga dan karyawan biar beradab di hadapan minimal cocote tonggo. 

Persatuan Indonesia, tukang bakso punya paguyuban biar bersatu. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, tukang bakso dalam paguyubannya suka bermusyawarah loh mas. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, kita punya rejeki ya ndak lupa sama yang membutuhkan yo mas, infak sodakoh ya untuk kegiatan sosial.

Terima kasih banyak ya masszeh, ojo lali madyang, salam hormat kagem Ibu Mega, sampaikan saya ini pengikut Bung Karno, terima kasih berkat beliau tukang bakso jadi viral. Mardiiika!”