1 tahun lalu · 568 view · 3 menit baca · Politik 33394.jpg
Ilustrasi: bastamanography.id

Perjuangan Politik, Cara Jitu Meretas Konflik Kemanusiaan

Merebaknya soal-soal kemanusiaan di tanah air, terang menuntut penyelesaian dari tangan-tangan yang peduli. Sebab, orang yang sering kita anggap sebagai “yang berwajib”, nyaris tak lagi layak kita jadikan sebagai tumpuan.

Mereka bicara tentang kepentingan semua. Tapi sayang, yang tampil darinya hanyalah bertindak seolah yang lain tidak ada. Maka itu, harapan hanya bisa lahir dari mereka yang peduli. Tentu dengan langkah dan perjuangannya yang tepat.

Dulu, soal kemanusiaan seperti kemiskinan, pengangguran, kesehatan, dan atau pendidikan, bisa diretas hanya dengan perjuangan-perjuangan perang. Tapi hari ini, perjuangan yang melulu melibatkan pertumpahan darah dan air mata itu, rasa-rasanya tak layak pakai lagi. Sebabnya satu: menyalahi misi kemanusiaan sendiri sebagai rahmat bagi semua.

Lantas, dengan apa kiranya konflik kemanusiaan bisa retas? Jawabnya adalah melalui perjuangan politik.

Apa yang disebut sebagai perjuangan politik, kemungkinan besar menjadi solusi nan tepat. Sebab berbeda dengan perang, perjuangan politik justru hendak menghapuskan hal-hal yang tak manusiawi pada prosesnya.

Meminjam dalil Mao Tse Tung dalam The Selected Military Writings: “war is politics with bloodshed, politics is war without bloodshed” (perang adalah politik dengan pertumpahan darah, politik adalah perang tanpa pertumpahan darah). Dengan begitu, perjuangan kemanusiaan tetap menjadi tujuan akhir dan utamanya.

Memang, sudah sejak zaman Yunani kuno, politik terlanjur tersalah-artikan. Politik dipandang hanya sebagai keahlian untuk tidak mengatakan yang sebenarnya. Keahlian seperti ini diterima dari kaum Sofis.

Ya, mereka (kaum sofis) terkenal dengan sikap dan tindakannya yang melulu mengubah kesalahan jadi benar, meramu kebenaran jadi salah. Dan itu kian parah hingga kini di mana politik melulu dimainkan dengan kedok-kedok yang segera berubah begitu situasi menuntutnya untuk berubah.

Pertanyaannya kembali, lalu bagaimana perjuangan politik itu harus diarahkan? Di titik inilah penting untuk menilik kembali pandangan Dahlan Ranuwihardjo. Baginya, ada 4 (empat) syarat yang mesti kita persiapkan dalam merumuskan perjuangan politik yang kelak akan dijadikan sebagai solusi untuk konflik-konflik kemanusiaan yang ada.

Pertama, hal yang paling mendasar untuk dipersiapkan adalah ideologi yang terang. Ideologi ini tak boleh sembarang, mesti sesuai dengan aspirasi masyarakat. Karena, selain sebagai sasaran (objek), jika sesuai dengan aspirasi mereka, maka besar kemungkinan akan merasa tertarik dan ikut berpartisipasi atau mendukung ideologi tersebut.

Kedua, potensi yang cukup. Mereka yang tertarik dan ikut mendukung ideologi yang telah dirumuskan, selanjutnya akan menjadi potensi. Jika potensi ini terus dibina dan diasuh, maka di sanalah akan lahir kekuatan riil.

Anak-anak dan remaja tentu juga merupakan potensi. Sedang sumber pontensi tersebut bisa berupa sekolah, madrasah, dan atau organisasi-organisasi pemuda. Ini yang juga patut disasar.

Ketiga, organisasi yang rapi. Oleh karena organisasi merupakan salah satu sumber potensi kekuatan riil, maka mau tidak mau, organisasi mesti terlibat dalam mencipta sumber-sumber potensi tersebut. Membina potensi jadi kekuatan, membina kekuatan untuk disiap-libatkan dalam perjuangan.

Sayangnya, orang (organisatoris) kadang tak mampu membedakan ini. Antara potensi dan kekuatan kerap orang samakan begitu saja. Mereka tak lihai melihat bahwa yang diperhitungkan sebagai kekuatan itu ternyata baru sebatas simpatisan dan pendukung moril saja. Akibatnya, gagallah pencapaian sasaran sebab kelompok ini jelas tak dapat dilibatsertakan di dalam medan.

Yang terakhir, keempat, strategi dan taktik yang tepat. Jika pada organisasi berfungsi mencipta, memelihara, serta membina potensi-potensi hingga menjadi kekuatan riil, maka peran strategi dan taktik adalah bagaimana menggunakan kekuatan yang tersedia itu.

Singkat kata, taktik adalah tentang bagaimana menentukan sikap atau menggunakan kekuatan dalam menghadapi peristiwa tertentu pada saat tertentu. Adapun strategi, adalah tentang bagaimana menggunakan peristiwa-peristiwa tersebut dalam jangka waktu tertentu untuk mencapai rencana (politik) tertentu.

Dari keempat faktor di atas (ideologi, potensi, organisasi, juga strategi dan taktik) yang menjadi syarat tercapainya cita perjuangan (perang atau politik), semuanya saling berkait satu sama lain. Ideologi lahirkan potensi. Potensi memungkinkan adanya organisasi. Organisasi membina potensi menjadi kekuatan riil. Dan besarnya kekuatan rill menentukan strategi dan taktik tertentu dalam jangka waktu yang dikehendaki.

Jika orang mau benar-benar mencari solusi atas segala konflik kemanusiaan yang ada, maka cara-cara perjuangan politik semacam di atas kiranya patut dicoba. Berhasil-tidaknya, itu persoalan lain.