Mahasiswa
1 minggu lalu · 45 view · 4 menit baca · Lingkungan 71502_13201.jpg
Portal Usaha

Perjuangan Kertas dalam Kehidupan

Kini, kehadiran teknologi merasuki kehidupan manusia makin dalam dan mulai menggantikan posisi kertas. Terutama untuk urusan ilmu pengetahuan dan dokumen, kecanggihan teknologi sudah tak dapat diragukan lagi. Bahkan kertas bisa dikatakan nyaris ditelan derasnya arus digital.

Mulai dari peran kertas sebagai alat tulis-menulis hingga sebagai media penyebaran informasi, kini semua fungsi tersebut telah digantikan oleh ciptaan-ciptaan manusia yang keren, yaitu teknologi.

Sebagai contohnya, yaitu meningkatnya peran Microsoft sebagai pengganti kertas dalam tulis-menulis. Selain itu juga, ada media seperti Instagram, Twitter, dan Facebook yang berfungsi sebagai media penyebar berita dengan lebih mudah dan cepat.

Banyak orang akan menganggap bahwa eksistensi kertas akan merosot dan perlahan hilang dari kehidupan manusia. Namun, banyak masyarakat yang dicengkeram oleh persepsi yang salah mengenai fungsi kertas. Sesungguhnya fungsi kertas lebih dari sebagai alat tulis-menulis ataupun media penyebaran informasi.

Lalu, apakah sebenarnya fungsi kertas? Kertas telah hadir jauh sebelum teknologi diciptakan. Kertas telah menjadi bukti peradaban dan pemikiran manusia sejak dulu kala.

Kertas telah menemani kehidupan manusia sejak masa Dinasti Han sekitar tahun 105 M. Bisa kita bayangkan bahkan teknologi yang baru muncul pun tidak akan bisa menggantikan peran kertas yang telah lama melekat dalam kehidupan manusia.

Fungsi kertas lainnya yang tidak bisa digantikan dengan teknologi, yaitu kertas sebagai bukti peradaban manusia yang tertulis sejak zaman dulu hingga sekarang, media penyebaran ajaran agama kepada umat manusia, serta bukti prestasi dan keilmuan yang ditulis oleh para ilmuwan seperti Albert Einstein, Issac Newton, dan sebagainya.

Selain itu, kertas juga memiliki makna tersendiri bagi para mahasiswa. Mahasiswa cenderung lebih nyaman ketika belajar menggunakan buku kertas dibandingkan buku dalam bentuk digital atau yang dikenal dengan istilah e-book.

Hal ini berdasarkan pada penelitian di Stavanger University of Norwegia yang mengemukakan bahwa orang yang membaca dengan menggunakan buku konvensional memiliki empati dan rasa lebih terhanyut dalam cerita ataupun informasi tersebut dibandingkan orang yang membaca buku digital.


Buku dari bahan kertas juga membantu seseorang lebih rileks dan bisa merasakan tidur lebih nyenyak. Hal ini sejalan dengan ilmu psikologi yang mengatakan bahwa buku dan informasi yang disajikan dalam bentuk kertas bisa membuat pikiran pembaca bebas dari pikiran yang menimbulkan stres.

Sangat keren, bukan? Hal ini justru berkebalikan dengan fungsi dari dokumen dalam bentuk digital. Bahkan informasi-informasi yang disajikan dalam bentuk digital tersebut sangat mudah untuk dimanipulasi dan merugikan masyarakat sebagai pengguna.

Selain sebagai alat edukasi dan media penyebar informasi, kertas juga bisa dimanfaatkan sebagai kemasan, terutama kemasan praktis pengganti dari plastik. Kemasan dari kertas sangat mudah dibentuk dan juga bisa ditambahkan desain kreatif.

Keuntungan lain kemasan berbahan kertas ialah tidak mengandung zat kimia yang berbahaya bagi kesehatan jika dibandingkan dengan plastik sehingga aman jika terhubung langsung dengan makanan. Oleh karenanya, kertas menjadi alternatif, pilihan pengganti plastik.

Hal tersebutlah yang masih menjadi alasan mengapa fungsi kertas tidak bisa digantikan seluruhnya dengan teknologi. Kita sebagai masyarakat yang cerdas haruslah berpikir terbuka dan selalu menerima hal-hal baru yang positif, terutama dalam memilih dan menggunakan sesuatu.

Di sisi lain, untuk tetap mempertahankan eksistensi kertas dalam kehidupan masyarakat, kini pemerintah mulai menerapkan berbagai cara untuk tetap memperjuangkan pohon serta kertas.

Jika kita pahami lebih dalam, manusia adalah satu-satunya makhluk hidup yang menebangi pohon untuk memproduksi kertas dan juga yang menuliskan Save the Trees pada kertas itu. Terdengar aneh, bukan?

Industri kertas menjadi salah satu pemasukan terbesar negara Indonesia. Hal ini terbukti dengan eksistensi Indonesia dengan menduduki peringkat ke-9 sebagai negara penghasil pulpĀ terbesar di dunia dan menduduki peringkat ke-6 sebagai kesuksesan industri kertasnya.

Padahal kita tahu bahwa untuk menghasilkan beribu ribu rim kertas juga dibutuhkan jutaan pohon dalam prosesnya. Bahkan setiap jam, dunia bisa kehilangan hampir 1.732,5 hektare hutan akibat produksi kertas. Hal inilah yang menjadi perhatian serius pemerintah, terutama pemerintah Indonesia.

Saat ini, pemerintah juga mulai mencanangkan kebijakan bagi semua industri kertas untuk menerapkan prinsip berkelanjutan agar tidak merusak lingkungan. Sudah banyak masalah lingkungan yang terjadi akibat penebangan pohon demi terbentuknya kertas untuk kehidupan masyarakat.

Indonesia tidak bisa mengandalkan teknologi terus-menerus. Indonesia juga tidak bisa melepaskan ketergantungan dari kertas secara mutlak. Oleh karenanya, pemerintah tetap memutuskan bahwa industri kertas akan menjadi prioritas bagi Indonesia dan juga mencanangkan kebijakan ramah lingkungan dalam prosesnya.


Salah satu kebijakan pemerintah, yaitu dengan gerakan menanam pohon atau yang lebih sering dikenal dengan istilah One Man One Three. Hal ini didasarkan pada Keputusan Presiden RI Nomor 24 Tahun 2008 yang telah menetapkan bahwa tanggal 28 November 2008 diperingati sebagai Hari Menanam Pohon Indonesia.

Selain itu, usaha pemerintah lainnya, yaitu dengan mendorong para pelaku industri kertas untuk menerapkan prinsip industri hijau (green industry) agar proses produksi tidak mencemari lingkungan.

Sebagai tambahan, pelaku industri pulpĀ dan kertas juga harus mengganti pohon yang mereka tebang dengan menanam pohon kembali agar tetap terjadi keseimbangan lingkungan.

Kebijakan-kebijakan tersebut telah mulai terlaksana. Namun juga membutuhkan proses yang cukup lama agar para pelaku industri dan juga pemerintah bisa menjalankannya dengan maksimal.

Ini bukanlah cara yang mudah dalam melaksanakannya. Pemerintah melakukan ini demi menjaga eksistensi industri kertas agar masyarakat tetap menggunakan kertas sebagaimana fungsinya. Masyarakat juga tidak bisa terus-menerus bergantung pada teknologi karena teknologi belum bisa menggantikan peran kertas secara mutlak.

Sekali lagi, kertas merupakan bagian yang sangat penting dan telah melekat dalam kehidupan manusia sehari-harinya. Sejarah panjang dari kertas telah membuktikan bahwa kertas memiliki segumpal perjuangan yang layak untuk diperjuangkan.

Artikel Terkait