Tidakkah pernah terpikirkan bahwa Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kurang cocok bagi pengguna siswa-siswi jenjang pendidikan dasar hingga pertama? Di  bagian mana ketidakcocokan tersebut?

Sesungguhnya KBBI diperuntukkan bagi mereka yang telah memiliki kompetensi bahasa yang sudah matang, seperti mahasiswa dan kaum profesional. Hal itu berkaitan erat dengan jenis kosakata (lema) dan cara berdefinisinya untuk masing-masing lema.

Dalam pembelajaran bahasa untuk memahami makna dan cara penggunaan kosakata yang tepat, umumnya guru akan meminta siswanya untuk mencari kosakata tersebut dalam kamus yang tersedia di sekolah. 

Pada umumnya kamus yang digunakan adalah Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Pemilihan KBBI ini oleh para guru dengan beberapa pertimbangan, antara lain KBBI merupakan kamus resmi yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Bahasa.  

Pertimbangan lainnya bahwa makna setiap kosakata dalam KBBI dianggap lengkap dan benarAkan tetapi, penggunaan KBBI tersebut belum mempertimbangkan aspek sasaran pengguna. Khususnya yang berhubungan dengan ragam bahasa kasar (tabu).

Ada kisah menarik dari dunia perkamusan, khususnya yang berhubungan dengan perjuangan kata-kata atau kosakata tabu (ragam bahasa kasar) berjuang mati-matian untuk dapat masuk ke dalam sebuah kamus.

Menurut motivasi psikologis, kelompok kosakata tabu muncul karena tiga hal, yakni adanya sesuatu yang menakutkan (taboo of fear), sesuatu yang membuat perasaan tidak enak (taboo of delicacy), dan sesuatu yang tidak santun dan tidak pantas (taboo of propriety).

Setiap motivasi psikologis tersebut di atas berhubungan erat dengan "lema" atau satuan leksikal yang menjadi bagian garapan pembinaan perkamusan (leksikografi).

Memasukkan kata tabu ke dalam sebuah kamus merupakan proses panjang dan kompleks yang penuh dengan pertimbangan oleh tim sunting and edit perkamusan (leksikografer).

Setiap tahap prosesnya begitu detail dan merupakan akumulasi dari penelitian dan analisis bahasa (leksikologi) serta fungsi kegunaan yang praktis dari proses sebelumnya.

Setiap kosakata tabu menjalani pengujian leksikografi yang diampu oleh sejumlah penelitian, pengumpulan, seleksi, analisis dan penjelasan satuan leksikal (kata-kata, elemen kata, dan gabungan kata) yang pantas untuk nongkrong dan bertengger di kamus.

Dari hasil perjuangan tersebut, akhirnya ragam bahasa kasar (tabu) pada KBBI V luring memiliki 68 entri ragam bahasa kasar (tabu) yang cukup ngeri bagi konsumsi pengguna amatir.

Ragam bahasa kasar (tabu) yang berupa entri-entri baru tersebut dikelompokkan menjadi 6, yaitu ragam kasar yang berkaitan dengan anggota tubuh, persetubuhan, kematian dan sadisme, perilaku dan sifat buruk, konteks kalimat, dan etimologinya.

Untuk ragam bahasa kasar yang bersifat hewani, antara lain: cungur, bacot, monyong, tua bangka, pepek, tempik.

Selain kata-kata tabu yang perlu mendapat perlakuan khusus, kata-kata yang digunakan untuk mengacu kelompok sosial yang bernuansa diskriminasi dan kata-kata yang mendeskripsikan sistem politik juga perlu mendapat perhatian.

Kemudian yang berhubungan dangan persenggamaan, seperti: mengentot, mengamput, mengancuk, mengayut, menyodok, merodok.

Entri-entri ragam bahasa kasar akan berdampak positif jika digunakan oleh mereka yang dewasa dan memiliki kompetensi bahasa yang baik. Mereka akan memahami makna lema tersebut dengan benar sesuai dengan kapasitas lema-lemanya.

Sebaliknya, akan berdampak negatif jika entri digunakan oleh pengguna yang tidak sesuai sasaran pengguna atas penyusunan kamus tersebut.

Khusus untuk kosakata tabu (ragam bahasa kasar) yang berkaitan dengan seksualitas, dalam sejarah perkamusan di dunia, ia sering mengalami pengeluaran dari dalam kamus.

Sebelumnya, pada abad ke-18 misalnya, banyak kamus yang tidak mengkhawatirkan masuknya kata-kata tabu atau ragam kasar semisal kamus Poliglot yang diterbitkan tahun 1548 oleh Pasquier Le Tellier of Paris dan Universal Etymological English Dictionary terbitkan tahun 1753 yang di dalamnya banyak memasukkan kata-kata vulgar.

Pengeluaran atau pemasukan kata-kata tabu atau ragam bahasa kasar tersebut di dalam kamus merupakan titik perjuangan kata-kata tabu itu sendiri agar nongkrong di dalam kamus.

Perjuangannya mulai dari level ringan hingga babak belur semisal kata "masturbation" (masturbasi) yang di KBBI sudah nongkrong tanpa perlawanan dengan cara penyerapan kata asing saja.

Sedang di luar sana cukup begitu alot dan mulai bisa muncul di tahun 1976.

Kemudian kata "phallus" (penis) yang cukup ngotot perjuangannya hingga dapat dimunculkan pada tahun 1974. Tim leksikografer umumya akan cenderung mengeluarkan ragam bahasa kasar. 

Namun, banyak cara yang dapat dilakukan oleh leksikografer untuk membuat ragam bahasa kasar tersebut menjadi lema-lema yang halus dengan menggunakan fungsi dan definisi sinonimi (padanan).

Entri "pelacur" misalnya, kata seperti ini kurang nyaman didengar telinga, kata "pelacur" bisa dibuat fungsi eufemisme menjadi kata "tuna susila".

Kata-kata yang vulgar juga dapat didefinisikan secara ilmiah atau mengungkapkannya dengan cara sesamar mungkin. Seperti  kata "kelentit" di KBBI yang diilmiahkan atau disamarkan maknanya.

Kelentit: daging atau gumpal jaringan kecil yang terdapat pada ujung lubang vulva (lubang pukas); klitoris; coles feminimus.

Rujukan frasa "coles feminimus" memperhalus pemaknaan. Cara ini sama dengan  kata "clitoris" di dalam kamus The Word Book Dictionary dan Collins Dictionary of the English Language didefinisikan secara tersamar seperti di bawah ini: 

"A small, erectile organ at the forward part of the vulva of the female of most vertebrates, homologous with the penis of the male".

Definisi tersebut memberi citra ilmiah yang cukup baik. Artinya, definisi tersebut lebih mengarah pada binatang, dan bukan pada manusia.

Hal tersebut jika dikaitkan dengan kata "erctile homologous". Definisi ini tidak menjelaskan substansi makna klitoris secara faktual sebagai bagian dari kenikmatan seksual.

Jika dibandingkan dengan definisi kata "clitoris" pada kamus Collins COBUILD English Language Dictionary COB yang lebih lugas dan jelas seperti tampak di bawah ini: 

"A woman's clitoris is the small sensitive lump above her vagina which, when touched, causes pleasant sexual feelings that can lead to an orgasm."

Definisi kata "clitoris" di atas tidak dibuat samar-samar. 

Pengguna kamus dapat memahami dengan jelas apa yang dimaksud dengan "clitoris" dengan berbagai cara termasuk membayangkan ataupun menerapkan pengalaman dengan bantuan kata-kata kunci seperti: "when touched" atau "lead to an orgasm".

Mungkin juga kurang tepat, tidak hanya "touched" saja,  mungkin lebih tepatnya "rubbed" serta tidak perlu menggunakan artikel "an" karena bisa jadi "multiple orgasm".

Definisi itu cukup berdampak bagi pengguna kamus yang belum cukup umur, tetapi pengertian clitoris menjadi lebih jelas dan akurat. Untuk itu, perlu kiranya untuk terus mengembangkan kluster kamus yang sesuai dengan tingkat psikologi pengguna seperti"Kamus Pelajar" atau kluster lainnya. 

Ketepatan definisi lema-lema juga terlihat signifikan seperti salah contoh kecil perbandingan di bawah ini. 

KBBI -- pe·ra·wan : anak perempuan yg sudah patut kawin; anak dara; gadis;  belum pernah bersetubuh dengan laki-laki; masih murni (anak perempuan).

Kamus Pelajar -- pe·ra·wan: anak perempuan yg sudah patut kawin; anak dara; gadis.

Nah, berbijaklah memilih kluster kamus bagi penggunanya. Khususnya bagi pelajar bawah umur. Berbijaklah dengan istilah ekspletif bahasa dengan makna tabu, profanitas, dan umpatan.